Mahasiswa Fakultas Farmasi Ubaya Raih Juara Pertama dalam 2 Kompetisi Farmasi Klinis humasubaya September 10, 2026

Mahasiswa Fakultas Farmasi Ubaya Raih Juara Pertama dalam 2 Kompetisi Farmasi Klinis

Teuku Muhammad Andief Naufel Luthamsa, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (FF Ubaya) mencatatkan prestasi membanggakan dengan menjadi juara satu dalam dua kompetisi farmasi klinis. Kompetisi pertama yang ia menangkan adalah Pharmadays X JEE 2026 cabang lomba Clinical Skill Competition yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada pada 8-30 Agustus 2026. Selain itu, ia turut meraih juara pertama dalam kegiatan 8th Pharmacie Itera 2026 cabang lomba Patient Counseling Competition yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sumatera (Itera) dari tanggal 6 Juli hingga 26 Agustus 2026.

Pada kedua kompetisi tersebut, Naufel, sapaan akrabnya, harus bertindak sebagai apoteker yang harus menyelesaikan kasus medis, yaitu diabetes melitus dalam kompetisi 8th Pharmacie dan tuberkolosis/TBC pada Pharmadays X JEE. Ia memulai dengan menganalisis resep obat untuk mendeteksi keberadaan MTO (Masalah Terapi Obat) berdasarkan literatur World Health Organization (WHO) dan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK).

“Selanjutnya, saya merekomendasikan penyelesaian MTO ke dokter. Terakhir, saya melakukan konseling ke pasien. Konseling ini bertujuan untuk menggali informasi, menjelaskan aturan pakai obat, termasuk fungsi obat, dosis, efek samping, interaksi, pantangan, pencegahan penularan, serta teach-back pasien untuk memastikan pasien memahami penjelasan yang saya berikan,” tuturnya. 

Untuk mengikuti kedua kompetisi yang dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan tersebut, Naufel mengaku memiliki persiapan yang cukup banyak. 

“Saya memulai dengan memahami guideline internasional dan nasional yang terdiri dari sekitar 400-500 halaman. Lalu, saya latihan menyelesaikan permasalahan obat sekaligus latihan konseling selama sebulan penuh,” ucapnya. Persiapan tersebut ia lakukan sembari menjalankan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa semester lima dengan kesibukan yang cukup padat. 

Meskipun kompetisi Pharmadays X JEE menjadi kompetisi tersulit yang pernah ia ikuti, kerja kerasnya berhasil dibuktikan dengan kelancaran pengerjaan tantangan dari tahap penyisihan hingga final. Dalam tahap penyisihan, Naufel berhasil menyelesaikan 70 soal dalam 10 menit dari 60 menit waktu pengerjaan yang diberikan. 

“Di tahap final, saya langsung disuguhkan delapan masalah obat tanpa membawa resep obat, sehingga harus mengingat dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut ke dokter. Untungnya, saya sudah menghafal guideline yang ratusan halaman itu, sehingga saya bisa menyelesaikannya dengan hampir sempurna,” terangnya. 

Kemenangan ini merupakan wujud dari ambisi sekaligus janji yang Naufel miliki terhadap Ubaya. 

“Saya sudah berjanji menempatkan Ubaya di podium tertinggi dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh universitas-universitas terbaik di negeri ini. Saya sudah berhasil meraih juara 1 di UI tahun 2024, juara 1 di UGM tahun 2026, dan menargetkan ITB pada kemenangan selanjutnya” tegasnya. 

Terakhir, Naufel berpesan bagi mahasiswa Ubaya lainnya agar tidak menyerah ketika berhadapan dengan kegagalan. 

“Kekalahan merupakan hal yang biasa. Ketika teman-teman menemui kekalahan, anggap saja sebagai proses mengalami kenaikan. Yang penting, bisa bangkit dan belajar dari kesalahan,” tutupnya. (tsy)