Jalin Kerja Sama, Ubaya dan BPOM RI Gelar Penandatanganan MoU dan Kuliah Tamu humasubaya June 15, 2026

Jalin Kerja Sama, Ubaya dan BPOM RI Gelar Penandatanganan MoU dan Kuliah Tamu

Universitas Surabaya (Ubaya) menggelar kuliah tamu sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Penandatanganan dilakukan oleh Rektor Ubaya, Dr. Benny Lianto dengan Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed. Ph.D. pada Senin (15/06/2026) di Ruang Serbaguna Perpustakaan Lantai 5, Kampus Ubaya Tenggilis. 

Dalam sambutannya, Rektor Ubaya menyebut kegiatan ini sebagai jembatan emas yang akan menghubungkan dunia akademik dengan identitas pasar dan masyarakat luas sekaligus langkah konkret Ubaya menuju entrepreneur university.
“Ubaya juga menyadari betul bahwa riset-riset hebat tidak boleh berhenti hanya sampai laporan penelitian dan artikel publikasi.  Riset harus diarahkan pada hilirisasi, menjadi produk nyata yang diadopsi industri, mampu memasuki pasar, dan yang terpenting membawa manfaat nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” tegas Benny. 

Dalam hal ini, Ubaya memandang kolaborasi dengan BPOM RI memiliki peran krusial yang ditandai dengan tanda tangan MoU dalam bidang obat dan makanan. Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari inisiasi Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg) Ubaya dengan Balai Besar POM di Surabaya yang telah terjalin sebelumnya. Tidak hanya itu, terdapat beberapa kegiatan Ubaya yang pernah terlaksana bersama BBPOM Surabaya, seperti studi ekskursi, kerja praktek mahasiswa, kunjungan, kuliah tamu, dan sebagainya. MoU yang telah ditandatangani ini menjadi dasar pelaksanaan berbagai kolaborasi antara Ubaya melalui beberapa fakultas dan unit dengan BPOM RI yang turut melibatkan BBPOM Surabaya selama lima tahun kedepan. 

Lebih lanjut, pada sesi kuliah tamu yang diikuti oleh ratusan mahasiswa dari Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknobiologi, Prof. Taruna menyampaikan materi berjudul “Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Mendukung Hilirisasi Inovasi Produk Pangan, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Obat Bahan Alam, dan Obat yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat”. Ia membuka paparannya dengan menelaah urgensi hilirisasi sebagai upaya optimalisasi potensi yang luar biasa di tengah tantangan global yang terjadi. 

“Saat ini, hanya 6% bahan baku obat yang dapat diproduksi di dalam negeri dengan populasi manusia terbesar keempat di dunia yang membutuhkan jumlah obat yang besar. Dengan kondisi dinamika geopolitik global yang rentan, hilirisasi menjadi semakin penting. Hal ini mungkin untuk dicapai karena kita memiliki kekayaan biodiversitas kedua terbesar di dunia,” ucap Prof. Taruna.

Dalam pelaksanaannya, hilirisasi inovasi hasil riset menghadapi berbagai tantangan agar dapat dihadirkan di pasar dan menjawab kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, Prof. Taruna menawarkan ekosistem regulatori yang menyelaraskan antara peraturan dengan kualitas dan manfaat produk yang maksimal melalui riset saintifik yang kuat. Lebih lanjut, ia menjadikan kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) sebagai wujud sinergi pengembangan riset dan inovasi hingga hilirisasi. 

“Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, riset dan inovasi diwadahi oleh dan dikembangkan melalui universitas. Hasil riset kemudian disuguhkan kepada industri yang patuh regulasi yang dapat memberikan dukungan agar ide berkembang dan dapat dikomersialisasi. Pemerintah, dalam hal ini BPOM bertindak sebagai regulator agar inovasi dan riset dapat dihadirkan di pasar berupa pemikiran, inisiatif, ataupun komoditas obat dan makanan,” tuturnya. (tsy)