Mahasiswa Hukum UBAYA Raih Juara 1 Kompetisi Surat Gugatan CLC Law Fair UNEJ 2026 humasubaya June 12, 2026

Mahasiswa Hukum UBAYA Raih Juara 1 Kompetisi Surat Gugatan CLC Law Fair UNEJ 2026

Reportase Warta Ubaya

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya). Hans Rayner Liauw, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum angkatan 2023 bersama timnya berhasil meraih Juara 1 dalam Kompetisi Surat Gugatan CLC Law Fair (CLF) UNEJ 2026 yang diselenggarakan oleh Civil Law Community Fakultas Hukum Universitas Jember pada 18–19 Mei 2026.

CLC Law Fair merupakan agenda tahunan yang mengangkat tema hukum perdata. Tahun ini, kompetisi mengusung tema Artificial Intelligence (AI) dan Hukum Perdata dengan rangkaian kegiatan berupa Lomba Surat Gugatan Nasional serta Seminar Hukum Nasional. Meskipun pelaksanaan final berlangsung pada pertengahan Mei, proses registrasi telah dibuka sejak awal April.

Hans mengaku sangat bersyukur atas pencapaian yang diraih timnya. Baginya, kemenangan ini menjadi pengalaman yang berkesan karena merupakan kompetisi pertama yang diikutinya selama berkuliah.

“Ini pertama kalinya saya ikut lomba selama kuliah dan ternyata bisa langsung juara. Tentunya senang sekali dan menjadi pengalaman yang sangat membanggakan,” ungkap Hans.

Perlombaan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni penyisihan secara daring dan babak final secara luring di Fakultas Hukum Universitas Jember. Pada tahap penyisihan, peserta diminta menyusun surat gugatan berdasarkan kasus yang diberikan. Tim yang lolos kemudian mempresentasikan surat gugatan tersebut di hadapan dewan juri pada babak final. Penentuan juara dilakukan berdasarkan akumulasi nilai, yaitu 50 persen dari kualitas berkas gugatan dan 50 persen dari presentasi.

Dalam mempersiapkan kompetisi, tim terlebih dahulu membedah kasus yang diberikan, mempelajari berbagai peraturan perundang-undangan serta teori hukum yang relevan, kemudian menyusun argumentasi gugatan dengan memastikan seluruh syarat formil dan materiil telah terpenuhi. Menjelang babak final, fokus persiapan beralih pada penyusunan presentasi dan latihan penyampaian materi agar argumentasi dapat disampaikan secara tegas, meyakinkan, namun tetap efektif dalam waktu yang terbatas.

Hans juga mengungkapkan bahwa selama proses persiapan, tim banyak berdiskusi dan berkonsultasi dengan beberapa dosen praktisi yang membantu memperkuat argumentasi hukum yang mereka bangun.

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi. Selain harus membagi waktu dengan pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS), tim juga perlu menyatukan sudut pandang dari tiga anggota menjadi satu argumentasi yang utuh. Tantangan terbesar lainnya adalah menyampaikan isi surat gugatan yang mencapai sekitar 25 halaman ke dalam presentasi berdurasi 10 menit, sehingga membutuhkan latihan berulang selama beberapa hari agar penyampaian materi menjadi konsisten.

Meski berhasil meraih juara, Hans mengaku bahwa sejak awal dirinya dan tim tidak memiliki ekspektasi khusus untuk menang. Menurutnya, kunci terpenting adalah percaya terhadap hasil persiapan yang telah dilakukan.

“Yang penting percaya bahwa apa yang sudah kami persiapkan itu benar,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai cara membagi waktu antara persiapan lomba dan kuliah, Hans menjawab dengan santai bahwa dalam sehari terdapat cukup waktu untuk menjalankan keduanya selama mampu mengatur prioritas dengan baik.

Bagi mahasiswa Ubaya yang ingin mengikuti kompetisi akademik, Hans memberikan pesan sederhana, yaitu tidak perlu takut untuk memulai. “Dicoba saja dulu,” pesannya singkat.

Setelah meraih prestasi ini, Hans mengaku target terdekatnya bukanlah kompetisi lain, melainkan menyelesaikan studi tepat waktu. Ia berharap dapat lulus dalam tujuh semester sambil terus mengembangkan kemampuan akademik maupun kompetitif di bidang hukum. (av)