Dari Esai Tepung Sorgum menjadi Medali Perak Pekan Essay Nasional (PENA) 2 humasubaya June 12, 2026

Dari Esai Tepung Sorgum menjadi Medali Perak Pekan Essay Nasional (PENA) 2

Reportase Warta Ubaya

Ketertarikan pada bidang ketahanan pangan mengantarkan Mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya) bernama Natalia Cipto Mangun Kusumo meraih medali perak dalam kompetisi Pekan Essay Nasional (PENA) 2. Mahasiswi yang akrab disapa dengan Natalia itu memenuliskan esai terkait menghasilkan tepung sorgum. Alasan Natalia mengangkat topik tersebut karena memiliki dampak luas bagi anak-anak penyandang autisme dan gangguan autoimun penderita Celiac. Kegiatan yang ini dilaksanakan pada 2-3 Mei 2026 di Universitas Dhayana Pura Bali ini diikuti oleh mahasiswa/i dari berbagai universitas di Indonesia.

Mahasiswi angkatan 2023 ini menyebut pengalaman mengikuti perlombaan serupa untuk pertama kali membuat Natalia tidak menyerah mencoba kembali. Ia turut merasa senang dalam berinovasi merancang suatu sistem dan produk baru untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, salah satunya dengan mengimplementasikan produk untuk ketahanan pangan. 

Natalia menyebut esainya berawal dari komoditas sorgum diolah menjadi tepung bebas gluten atau gluten-free memberi manfaat kepada anak-anak autisme yang sangat reaktif terhadap makanan. Selain autisme, olahan tepung tersebut juga berguna bagi penyakit Celiac yaitu gangguan autoimun akibat konsumsi gluten, karena dapat melukai pencernaan. Oleh sebab itu, pemilihan tepung sorgum dinilai lebih efektif karena minim gagal panen. Keuntungan lainnya, tepung sorgum memiliki tingkat kerugian yang sangat rendah serta lebih praktis.

Pada individu yang tidak dapat mengkonsumsi gluten dan belum mengenal tepung sorgum, terdapat keharusan membeli tepung jagung serta singkong untuk menghasilkan kandungan gluten-free yang baik. Tepung jagung cenderung diolah untuk makanan berat dan tepung singkong untuk makanan manis. Dengan demikian, tepung sorgum dapat menjadi solusi atas permasalahan tersebut dengan teknik pengolahan yang lebih mudah. 

Ide inovatif mengatasi persoalan ketahanan pangan ini ditulis oleh Natalia dalam bentuk esai dengan makna tersendiri bagi dirinya. 

“Menurutku esai yang baik adalah esai yang dibuat dari hati, terstruktur, dan memiliki tujuan yang jelas sehingga menghasilkan gagasan dan inovasi yang memiliki keterbaruan untuk menjawab tantangan di global maupun negara,” ungkap Natalia.

Tantangan terbesar yang dihadapi Natalia selama proses perlombaan adalah rasa insecure dari dirinya sendiri sebagai representatif tunggal dari Ubaya diantara kampus-kampus lainnya yang kebanyakan datang sebagai tim. Namun, dukungan dari dosen pembimbing, Dr. Prita Ayu Kusumawardhany, membuat Natalia kembali percaya diri untuk mempresentasikan hasil esainya. “Ada dukungan emosional yang membuatku percaya bahwa apapun hasilnya, orang tua, dosen pembimbing, dan Universitas Surabaya tetap bangga,” ungkap Natalia. 

Selama mengikuti perlombaan ini, Natalia melewati proses panjang yang dimulai dari mempersiapkan ide, berkoordinasi dengan dosen pembimbing, mengembangkan prototipe produk bersama UMKM, hingga berhasil meraih silver medal. Ia membagikan tips and trick penulisan esai berdasarkan preferensinya, dimulai dari menulis bagian solusi dan tantangan terlebih dahulu, sebab menurutnya bagian tersebut memerlukan pemikiran matang dikarenakan kompleksitasnya. Hal ini dikarenakan dalam proses kepenulisan tedapat beragam ide baru yang dapat dikembangkan dalam esai, lalu bagian latar belakang berisikan pengumpulan data yang memperkuat argumen dan dengan kesimpulan yang menegaskan ulang keseluruhan esai, sehingga dapat ditulis setelahnya. Sebagai penutup, Natalia berpesan untuk berani dalam mengambil langkah besar.

“Ayo lawan rasa takut kita karena ketika kalah dengan rasa takut, kita tidak akan pernah bisa terus maju. Jangan pernah takut mencoba karena menang kalah biasa. Saat memulai, mungkin masih merasa kurang, tetapi disitu letak kita bertumbuh dan belajar,” tutup Natalia. (il)