Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya
Salah satu bentuk tugas perkembangan manusia adalah berkarya, dan apabila ditunjang dengan teori kebutuhan dalam berkarya bisa mengaktualisasikan diri. Artinya dalam melakukan karya, pengenalan dan penyalurannya sebisa mungkin dilakukan, tidak hanya asal berkarya. Aktualisasi diri menggambarkan tentang pengembangan kemampuan dan potensi diri serta optimalisasi penggunaan kemampuan diri. Melalui aktualisasi diri, individu terdorong untuk memiliki daya juang, daya tahan, kreatif, serta perilaku positif lainnya. Aktualisasi diri juga memberikan dampak kemanfaatan bagi lingkungan atau orang lain di sekitarnya. Setiap manusia memiliki potensi aktualisasi diri karena merupakan salah satu sifat atau kapasitas bawaan. Tempat kita melakukan karya juga menentukan kemungkinan dapat mencapai aktualisasi diri, karena di tempat melakukan karya pasti terdapat orang lain dengan masing-masing potensi diri yang juga berupaya memenuhi tugas perkembangan dan kebutuhan aktualisasi diri. Sehingga penempatan diri yang tepat, pemilihan tempat atau lingkungan yang tepat dapat menentukan aktualisasi diri.
Dalam kehidupan, sering kita temui proses aktualisasi diri yang terhambat karena faktor lingkungan. Potensi yang ada, tidak tersalurkan karena ketidaksesuaian dengan orang-orang di sekitarnya, rekan kerja yang tidak memiliki gaya dan target kerja yang berbeda, atau tidak terfasilitasi oleh sistem yang ada. Kondisi-kondisi terhambatnya aktualisasi diri seringkali digambarkan dengan istilah ‘bersinar di tempat yang terang’. Metafora tersebut menggambarkan sebuah sumber cahaya yang bersinar namun karena di sekitarnya juga terdapat sumber cahaya yang memberikan cahaya yang sama terangnya, maka tidak nampaklah sumber cahaya yang menonjol. Kaitannya dengan aktualisasi diri, setiap orang memiliki potensi diri yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan, lingkungan, atau orang lain, namun karena di tempat tersebut juga terdapat orang lain yang memiliki potensi yang sama maka keunikan diri menjadi tidak nampak atau bahkan kehadirannya tidak banyak berarti. Banyak orang menyetujui metofora tersebut sebagai bentuk terhambatnya aktualisasi diri, sehingga muncul metafora yang lain, yaitu ‘bersinarlah di tempat yang gelap’, yang tentunya menggambarkan kalau di suatu tempat tidak ada individu yang memiliki potensi seperti kita, maka potensi kita akan banyak menghasilkan karya dan nampak menonjol kemanfaatan serta perannya. Pertanyaannya, apakah setiap dari kita mampu menjadi terang di tempat yang gelap?apakah setiap manusia mampu menjadi ‘star’ yang mampu menerangi kegelapan secara terus menerus?tanpa adanya ‘star’ yang lain? Layaknya energi, cahaya memiliki energi yang terbatas yang pada akhirnya akan habis. Kemudian muncul metafora lanjutan yaitu ‘bersinarlah di tempat yang tepat’, sesuai dengan konsep aktualisasi diri yaitu kemampuan menempatkan diri dan menggunakan potensi diri secara tepat.
Tidak ada salahnya bersinar di tempat yang terang, selama kita mampu menempatkan diri terkait kemampuan kita di tempat terang tersebut. Ketika kita mampu menempatkan kemampuan kita, tempat yang terang tersebut membutuhkan kemampuan kita bersama-sama dengan sumber cahaya lainnya untuk memberikan kemanfaatan. Masing-masing sumber cahaya punya posisi dan tertata, saat satu sumber cahaya mati atau hilang, maka nampaklah bagian yang gelap dalam rangkaian sumber cahaya tersebut. Hal inilah yang disebut dengan prinsip sinergi, artinya masing-masing potensi individu dapat teraktualisasikan dan menjadi lebih kuat untuk memberikan kemanfaatan.
Namun, lain kondisinya apabila di tempat yang terang tersebut sudah tidak membutuhkan sumber cahaya atau potensi kita, atau tidak sesuai. Kemungkinannya dua yang akan terjadi kalau kita memaksakan bercahaya di kondisi tersebut, terdapat cahaya yang berbeda yang bersinar dan di saat tersebut tidak membutuhkan cahaya yang berbeda. Kedua, sangat mungkin cahaya kita tidak diberi kesempatan untuk bersinar. Kedua kondisi tersebut sama-sama akan merugikan yang seringkali menimbulkan frustrasi pada diri. Kondisi ini membutuhkan perenungan untuk mencari tempat lain yang memungkinkan kita bersinar secara optimal.
Bersinar di tempat gelap, yang perlu dipertimbangkan adalah kegelapan tersebut membutuhkan cahaya. Artinya tempat atau orang-orang yang ada di sana membutuhkan kemampuan kita untuk memberikan manfaat. Namun dalam bersinar di tempat gelap, biasanya akan ada daerah gelap yang dapat menyerap cahaya dan seolah-olah menyimpan cahaya sehingga suatu saat apabila sumber cahaya tersebut padam masih terdapat penerangan dari penyerap cahaya. Hal inilah yang disebut sebagai bentuk aktualisasi diri yang memungkinkan transendensi. Di suatu tempat karya, selain dapat mengaktualisasikan potensi diri, diharapkan juga dapat membantu orang lain mengaktualisasikan diri (transendensi), dengan bahasa sederhana sesuatu yang kita miliki dibagi dan memberdayakan orang lain.
Jadi simpulannya, bersinarlah di tempat yang tepat. Tempat yang tepat dengan kemampuan kita dapat membantu aktualisasi diri, sinergi, ataupun transendensi. Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bahan refleksi dalam berkarya.