Tiga dosen Universitas Surabaya (Ubaya) berhasil meraih predikat “Pionir Pengembangan Desa Atsiri (Melalui Integrasi Akademik dan Pemberdayaan Masyarakat)” dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Penghargaan diraih atas pendampingan tim pengabdian yang diketuai dosen Fakultas Farmasi (FF) Universitas Surabaya (Ubaya), yaitu Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Prestasi ini merupakan apresiasi atas kontribusi pengembangan desa atsiri berbasis akademik dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan pertama kali di Indonesia.
Marisca menuturkan inisiasi program berawal dari produksi tanaman serai yang sangat tinggi sebagai komoditas pertanian utama di Desa Jatijejer, namun tidak dibarengi dengan pengolahan dan pemanfaatan terpadu, sehingga nilai ekonomis yang didapatkan belum maksimal.
“Pada tahun 2024, tim pengabdian melakukan pendampingan budidaya pertanian yang berfokus pada peningkatan kuantitas dan kualitas produksi hasil pertanian dengan penerapan sistem smart farming kepada para petani yang menanam serai dapur dan serai wangi di Desa Jatijejer. Ada perangkat IoT (Internet of Things) yang memungkinkan penyiraman otomatis melalui ponsel,” ucapnya.
Serai yang dipanen kemudian diolah menjadi minyak atsiri. Pada tahun 2025, minyak atsiri yang diproduksi mengalami penambahan varian, antara lain cengkeh, jeruk nipis, dan bunga melati. Pada tahun 2026, varian yang diproduksi bertambah menjadi nilam dan jahe. Dari minyak atsiri yang diproduksi, dilakukan diversifikasi luaran produk kesehatan berbasis minyak atsiri, seperti inhaler, diffuser, lilin aromaterapi, parfum, balsam, hand soap, dan hand sanitizer.

Kesuksesan program tersebut tidak terlepas dari integrasi multidisiplin yang melibatkan Dr. Azminah dari FF dan Grace Felicia Djayapranata, MBA. dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya, serta Ir. Dwie Retna Suryaningsih dari Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Dalam implementasinya, program melibatkan kelompok tani sebagai pelaku budidaya dan penyedia bahan baku, ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Jatijejer, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jatijejer yang berperan penting dalam proses pemasaran dan legalisasi.
“Sekarang, Desa Atsiri ini sudah memiliki website dan akan mulai penjualan dari platform toko online. Produk yang dijual berupa minyak atsiri murni dan produk olahan turunannya yang dapat dibeli langsung secara eceran atau pemesanan khusus dalam jumlah yang besar,” ujar Marisca.
Setelah program selesai, Marisca berharap Desa Jatijejer dapat terus melakukan pengembangan dan pemberdayaan potensi minyak atsiri, sehingga dapat memberikan dampak nyata berupa peningkatan perekonomian masyarakat.
“Mengingat saat ini desa sudah mampu melakukan seluruh proses produksi, semoga terdapat pengembangan potensi dalam aspek lainnya. Misalnya, menjadi destinasi eduwisata atau sejenisnya. Jadi, rantai bisnis dan tata kelolanya dapat terus berjalan secara mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor Ubaya, Dr. Benny Lianto menyampaikan apresiasi atas capaian rekor MURI yang diraih oleh tim.
“Saya salut atas pengabdian desa atsiri yang berhasil memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ini merupakan bentuk pengakuan terhadap karya akademik yang diharapkan dapat menjadi motivasi untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara,” tegasnya. (tsy)