Guru Besar Teknik Kimia Ubaya Masuk Jajaran Top 5% Peneliti Dunia humasubaya June 24, 2026

Guru Besar Teknik Kimia Ubaya Masuk Jajaran Top 5% Peneliti Dunia

Dosen Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya) Prof. Putu Doddy Sutrisna, Ph.D. berhasil menduduki posisi 5% Peneliti Teratas Dunia (World’s Top 5% Scientists in the 2025) versi Scirank Global Registry. Hingga saat ini, guru besar dalam Bidang Ilmu Teknik Kimia ini sudah menghasilkan ratusan publikasi ilmiah yang banyak diantaranya terindeks Scopus.

Sejak berkiprah sebagai dosen di Ubaya pada tahun 2000, Kepala Laboratorium Satuan Operasi dan Teknologi Proses Kimia ini sudah memfokuskan penelitiannya dalam membrane technology, sebuah metode penyaringan dan pemisahan senyawa kimia, baik berupa gas, maupun cairan. Hal tersebut ia perkuat dengan studi S3 yang ditempuh di UNESCO Centre for Membrane Science and Technology, UNSW, Australia. 

Dalam melakukan penelitian, Prof. Putu menyatakan bahwa identitasnya sebagai seorang dosen menjadi dorongan sekaligus tanggung jawab yang harus ia penuhi.

“Saya harus mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah penelitian. Semakin banyak penelitian yang saya lakukan, keinginan untuk meraih gelar akademik yang lebih tinggi juga semakin kuat,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang ia hasilkan adalah teknik sintesis membran filter yang digunakan dalam pemisahan gas dan cairan menggunakan bahan polimer. Dibanding teknologi pemfilteran yang lazim digunakan, temuan ini cenderung lebih elastis, tipis, tidak mudah pecah, menempel dengan baik, serta dapat melakukan pemilahan molekul berdasarkan ukuran. 

Saat ini, Prof. Putu sedang mendalami teknologi penyaringan serta pemisahan gas dan cairan dapat berkontribusi dalam mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) yang berimbas terhadap perubahan iklim secara global. Ia juga secara aktif mendampingi industri yang membutuhkan pengaplikasian teknologi membran dalam penyaringan dan pemurnian limbah agar tidak mencemari lingkungan. Selain itu, ia tengah mengkaji penerapan teknologi membran dalam menyaring partikel mikro dan nanoplastik yang berperan dalam degradasi air dan makhluk hidup. 

Meski sudah berhasil mendapatkan predikat top 5% peneliti di dunia, Prof. Putu bertekad tetap menekuni penelitian di bidangnya sebagai wujud pertanggungjawaban dan reputasinya di dunia akademik. Baginya, capaian ini menjadi bukti kualitas dan kredibilitas peneliti nasional, khususnya yang berasal dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di lingkup global. Oleh sebab itu, berbagai hasil riset yang diinkubasi di universitas hendaknya mendapatkan dukungan yang maksimal dari pihak industri, maupun pemerintah. Misalnya, penelitian pemisahan gas yang ia geluti masih sangat asing bagi Indonesia. Padahal, di negara-negara maju, topik tersebut sudah menjadi salah satu penelitian yang difokuskan. 

“Masih belum banyak hasil penelitian yang berhasil dihilirisasi di Indonesia. Padahal, apabila ada sinergi yang baik, capaian riset dari perguruan tinggi dapat dimanfaatkan oleh industri. Tentunya, melalui dukungan yang maksimal dari pemerintah,” tegasnya. Dengan demikian, Prof. Putu berharap agar hilirisasi penelitian di Indonesia segera terwujud agar tercipta kehidupan masyarakat yang lebih baik.  (tsy)