Di tengah padatnya kehidupan perkotaan dan semakin terbatasnya lahan hijau, urban farming hadir sebagai harapan baru.
Dari halaman rumah yang sempit, atap bangunan, hingga sudut-sudut tidak terpakai, masyarakat mulai menanam sendiri kebutuhan pangannya.
Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi juga menjadi upaya nyata untuk menjaga ketahanan pangan, memperkuat ekonomi rumah tangga, sekaligus membangun kedekatan manusia dengan alam di tengah hiruk pikuk kota.
Dosen Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya (Ubaya), Ida Bagus Made Artadana menilai urban farming memiliki peran penting, terutama dalam skala kecil.
“Terutama untuk penyediaan sayuran segar yang memiliki umur pendek dan berukuran kecil. Tanaman jenis memiliki umur yang pendek sehingga biaya produksi rendah, hampir sebagain besar bagian tanamannya bisa dikonsumsi,” ujar dosen yang biasa disapa Arta kepada Kompas.com, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, tanaman seperti sayuran daun menjadi pilihan ideal karena cepat panen dan efisien secara biaya.
“Sehingga perbandingan biaya produksi dan jumlah produk yang dihasilkan cukup tinggi, serta dapat ditanam secara fertikan sehingga cocok untuk pertanian pada lahan terbatas di lingkungan perkotaan,” imbuhnya.
Meski demikian, urban farming memiliki keterbatasan untuk tanaman berumur panjang dan biji-bijian. Karena hasil yang dikeluarkan tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan untuk pertanian lahan terbatas.
“Artinya, urban farming dapat meningkatkan ketahanan pangan, namun tidak bisa menjadi sumber utama kebutuhan pangan perkotaan,” ujarnya lagi.
Tantangan teknis hingga sosial
Di balik potensinya, urban farming tidak lepas dari berbagai kendala, baik dari sisi teknis, ekonomi, maupun sosial.
Sebab budidaya tanaman membutuhkan tiga kompenen lingkungan utama yaitu sinar matahari, suhu, air, dan ketersediaan pupuk. Dari ketiga kompenen tersebut, kertersediaan matahari dan kualitas air menjadi tantangan.
“Air yang tercemar bisa membawa penyakit yang dapat menginfeksi tanaman atau penyebarkan penyakit ke orang yang mengkonsumsinya,” kata Ida Bagus Made Artadana.
Selain itu, kondisi lingkungan perkotaan juga menjadi hambatan tersendiri. Penggunaan air PDAM, selain akan meningkatkan biaya produksi jika mengandung klorin yang tinggi.
“Sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, udara perkontaan yang panas juga dapat meningkatkan penguapan air dari daun tenaman sehingga tanaman muda layu dan pertumbuhannya terhambat,” sambungnya.
Keterbatasan cahaya juga tidak kalah penting, lingkungan yang padat menurunkan jumlah cahaya yang bisa diterima oleh tanaman untuk fotosintesis sehingga pertumbuhan tanaman bisa menjadi lebih lambat.
“Untuk urban farming yang menggunakan sistem hidroponik, diperlukan suplai listrik yang stabil dan pengetahuan yang cukup mengenai menjemen pengelolaan larutan nutrisi,” ujar dosen yang salah satu karyanya adalah buku Dasar-Dasar Genetika Mendel dan Pengembangannya.
Sedangkan dari sisi biaya, teknologi modern juga tidak murah. Budidaya urban farming yang menggunakan teknologi modern seperti hidroponik membutuhkan biaya produksi awal.
“Yang mahal dan biaya produksi yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan harga sayuran yang diproduksi menjadi lebih mahal dari pertanian konvensional,” imbuhnya.
Sementara itu, tantangan sosial sering kali berkaitan dengan konsistensi. Banyak program urban farming diawali dengan adanya lomba atau program bantuan pemerintah.
“Namun, ketika aktifitas atau program sudah selesai, aktivitas meulai menuruan dan pada akhirnya berhenti,” ujarnya lagi.
Peran pemerintah dan komunitas
Untuk itu keberlanjutan urban farming tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah berperan sebagai inisitor program, memberikan bantuan peralatan, pelatihan ataupun regulasi.
“Beberapa kota besar telah membuat program untuk menggalakkan urban farming seperti Buruan Sae yang diinisiasi oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kota Bandung. Kota Surabaya memiliki kompetisi tahunan urban farming untuk menggalakkan urban farming di kota Surabaya,” tutur Ida Bagus Made Artadana.
Namun, peran komunitas justru menjadi kunci utama, berperan penting dalam menjaga keberlangsungan program ini. Komunitas harus menjadi konsumen utama dari produk yang dihasilkan sehingga produk urban farming yang dihasilkan bisa terserap.
“Komunitas juga harus secara regular memberian pelatihan kepada masyarakat agar dapat meberikan solusi praktis dari berbagai permasalah yang dialami selama bercocok tanam,” sambungnya.
Peluang ekonomi dari kebun kota
Kini lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dapur, urban farming juga membuka peluang ekonomi rumah tangga. Terutama untuk menurunkan biasaya konsumsi rutin dari sayuran, cabai dan beberapa jenis rempah.
Selanjutnya, untuk menjadi bisnis yang berkelanjutan, diperlukan strategi yang tepat untuk menjadi usaha yang menghasilkan profit. Maka ada beberapa model bisnis yang bisa dikembangkan antara lain.
“Pertama bisnis berbasis komunitas, di sini kelompok warga menanam komuditas yang cepat panen dan menjualnya kelingkungan sekitar dalam bentuk fresh atau olahan,” kata dosen yang memiliki keahlian di transformasi tanaman, perbanyakan tanaman, bioteknologi.
“Kedua Model B2B (bisnis to bisnis). Jadi warga harus memiliki kerja sama dengan restoran, kafe atau swalayan. Ini menjanjikan, karena unit tersebut umumnya mementingkan kualitas sehingga dapat mentoleransi harga produk yang relatif lebih tinggi dari pertanian konvensional,” imbuhnya.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga pasokan harus memiliki lahan luas atau jejaring produsen yang luas agar mampu menyuplai konsumen secara terus menerus.
Pada akhirnya, kunci utama bukan hanya pada teknik bertanam, tetapi juga pasar. Sebagai bisnis, urban farming sering gagal bukan karena teknologinya melainkan ketersediaan pasar. Sehingga sebelum memulai sangat disarankan untuk mengetahui kebutuhan dan perilaku pasar disekitarnya.
“Sebagai pengalaman kami di Ubaya, pernah memproduksi berbagai jenis sayuran secara hidroponik, namun sampai saat ini yang masih bertahan hanyalah sawi daging karena itu yang paling diminati oleh lingkungan Ubaya,” pungkas Ida Bagus Made Artadana.
Sumber berita: Kompas.com
Sumber gambar: kitchenheed.com