Temu Alumni 2023: Mengupas Tuntas Keluarga tanpa Ayah dan Kesehatan Mental di Dunia KerjaTemu Alumni 2023: Mengupas Tuntas Keluarga tanpa Ayah dan Kesehatan Mental di Dunia Kerja humasubaya August 8, 2023

Temu Alumni 2023: Mengupas Tuntas Keluarga tanpa Ayah dan Kesehatan Mental di Dunia KerjaTemu Alumni 2023: Mengupas Tuntas Keluarga tanpa Ayah dan Kesehatan Mental di Dunia Kerja

Reportase Warta Ubaya (@wartaubaya)

Sabtu, 5 Agustus 2023 Program Studi (Prodi) Magister Psikologi Sains Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan kegiatan Temu Alumni. Ada dua materi, yaitu “Fatherless Family oleh Dr. Abigail Soesana, S.Th., M.A., M.Th., M.Si., selaku Alumni Prodi Magister Psikologi dan Dampaknya terhadap Mental Health Anak” dan “Mental Health First Aid di Lingkungan Pekerjaan” oleh Dr. Mary Philia Elizabeth, M.Psi., Psikolog, selaku Ketua Prodi Magister Psikologi Sains Ubaya.

Fatherless family adalah suatu kondisi dalam keluarga ketika keterlibatan ayah cenderung kurang atau sangat minimal,” ungkap Soesana dalam materinya. Menurutnya, penyebab terjadinya fatherless family cukup beragam, seperti orang tua yang cerai hidup atau meninggalnya ayah dalam keluarga. “Akibat dari fatherlessness adalah rentannya anak terhadap berbagai masalah, seperti menurunnya performa akademik dan kepercayaan diri,” jelas Susan. Dalam mengatasi fatherlessness, Soesana menyarankan untuk para ayah agar lebih dekat dengan keluarga. “Apabila sosok ayah tidak ada karena meninggal atau cerai, maka sang ibu dapat mencari solusi agar anak tetap memiliki sosok ayah,” tutup Soesana.

Melanjutkan diskusi, Mary menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan oleh semua orang. “Masalah kesehatan mental sangat mungkin untuk dialami oleh siapa saja,” ungkapnya. Biasanya, orang dengan kesehatan mental yang kurang prima akan memandang berbagai hal cenderung lebih negatif. “Di lingkungan kerja, kondisi mental seseorang dapat dipengaruhi beberapa hal, seperti beban kerja, lingkungan, hubungan, dan individu itu sendiri,” ucapnya. Apabila kesehatan mental dalam lingkungan kerja tidak diperhatikan, produktivitas dan harmoni dapat terganggu. “Oleh sebab itu, lingkungan pekerjaan sebaiknya memiliki rencana terhadap pertolongan pertama pada kesehatan mental,” tutur Mary.

Pada sesi tanya jawab, banyak peserta mengajukan pertanyaan, salah satunya Rahmah Amaliya. “Bagaimana caranya menghadapi teman saya yang menceritakan bahwa ia tidak memiliki sosok ayah dalam hidupnya?” tanya Rahmah. Soesana menjawab bahwa ia merasa kepedulian Rahmah terhadap temannya merupakan hal yang baik. “Kita tidak bisa benar-benar mengerti perasaan mereka yang sebenarnya,” ujarnya. Meskipun begitu, Soesana menyarankan Rahmah untuk selalu mendukung temannya dalam membangun relasi dengan ayahnya. (cbw/vj/4375)