Ingin Diet, Mahasiswi Ubaya Ini Ciptakan Akupuntur Olahraga fadjar February 2, 2016

Ingin Diet, Mahasiswi Ubaya Ini Ciptakan Akupuntur Olahraga

suarasurabaya.net – Alat Akupuntur Olahraga yang dapat digunakan dalam rangka berolahraga sembari terapi Akupuntur diciptakan Meliyanti mahasiswi Jurusan Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (Ubaya) ini dipicu keinginan untuk ber-diet.

‘Berawal ingin diet, olahraga indoor bosan. Saat olahraga ke taman kota Surabaya, beberapa peralatan olah raga yang ada rusak. Bahkan ada beberapa bagian alat olah raga yang hilang,’ ujar Meliyanti.

Fakta itulah yang kemudian menggelitik perempuan asal Surabaya ini membuat alat olah raga yang sekaligus bisa digunakan terapi Akupuntur.

AKO diciptakan spesifik untuk gerakan sit up dan push up yang merupakan latihan otot dada dan perut, yang bermanfaat meningkatkan kebugaran tubuh serta berguna untuk membakar kalori.

Selain bisa melakukan sit up dan push up sekaligus menikmati terapi akupunktur karena AKO memiliki tonjolan-tonjolan tertentu yang berfungsi untuk memijat dan melancarkan aliran darah.

Selain bermanfaat sebagai alat olahraga sekaligus terapi akupuntur, AKO juga didesain sebagai sarana olahraga umum yang ditempatkan di taman kota, juga untuk meningkatkan minat masyarakat mengunjungi taman kota untuk berolahraga.

AKO bisa dipakai untuk laki-laki ataupun perempuan dengan usia 18-45 tahun, tapi tidak menuntut kemungkinan diusia yang lebih tua bisa mencobanya.

Meliyanti berharap AKO menarik minat masyarakat berolah raga di taman-taman kota. Hal ini juga karena Pemerintah Kota Surabaya juga punya perhatian khusus agar taman kota berfungsi maksimal bagi masyarakat.

Sementara itu, menurut Markus Hartono, S.T., M.Sc., Ph.D., CHFP., sebagai pembimbing tugas akhir Meliyanti, alat yang diciptakan mahasiswinya ini sudah layak ditempatkan di taman-taman kota di Surabaya.

‘Karena perangkat ini saat pengerjaannya sudah dikonsultasikan dengan berbagai pihak. Termasuk kepada ahli pertamanan kota Guntoro Mauludi Nz., S.T., M.T., juga kepada ahli material teknik Ir. Kresno Soelasmono, M.S.,’ kata Markus Hartono pada suarasurabaya.net, Senin (1/2/2016).(tok/ipg)

Editor: Iping Supingah
Sumber: https://kelanakota.suarasurabaya.net
Mahasiswa Surabaya Ciptakan Alat Akupuntur Olahraga

Surabaya (Antara Jatim) – Mahasiswa Jurusan Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan alat Akupuntur Olahraga (AKO) yang bermanfaaat untuk meningkatkan kebugaran tubuh manusia dan membakar kalori dengan latihan otot dada dan perut.

‘Kita bisa melakukan sit up dan push up sekaligus menikmati terapi akupunktur karena AKO memiliki tonjolan-tonjolan tertentu, yang berfungsi untuk memijat dan melancarkan aliran darah,’ kata mahasiswa Ubaya, Meliyanti di kampus Ubaya, Senin.

Ia mengatakan dengan adanya sarana olahraga yang baik, seperti AKO, maka masyarakat diharapkan jauh dari sikap penyimpangan vandalisme yang bersifat negatif, seperti pengerusakan, pencurian dan penyalahgunaan.

‘AKO ini berawal ketika saya ingin diet, namun tidak ada sarana dan prasarana yang memadai ketika berolahraga di luar ruangan, seperti taman kota karena beberapa bagian alat olahraga rusak dan hilang,’ tutur Meli, sapaan akrabnya.

Menurut dia, proses pembuatan AKO ini dimulai dengan desain hingga mengebor kayu pada titik-titik tertentu lalu meletakkan setengah lingkaran akupuntur dari fiberglass, sedangkan bahan yang digunakan dalam pembuatan AKO yaitu kayu bengkirai, besi rectangular hallowo, fiberglass, lem, dan lembaran aluminium.

‘Proses pengerjaan AKO selama 1,5 tahun dengan kendala ketika observasi harus melalui birokrasi perizinan, mengamati 10 taman di kota Surabaya, bahan baku yang sulit dicari dan proses pembuatan manual memakan waktu yang lama juga,’ ungkap perempuan 22 tahun ini.

AKO yang berukuran lebar 230cm dan tinggi 75cm itu, tambahnya mampu menampung berat badan hingga 200 kg dan bisa digunakan untuk laki-laki atau pun perempuan dengan usia 18-45 tahun, namun tidak menuntut kemungkinan di usia lebih tua juga bisa mencobanya.

‘Taman kota menjadi perhatian khusus untuk menarik minat masyarakat, pemerintah telah menyediakan street furniture di taman kota Surabaya, sampai saat ini tersedia jalur refleksi, jogging track, dan beberapa alat fitness outdoor,’ tuturnya.

Dengan adanya AKO tersebut, ia menambahkan street furniture yang masih minim di Surabaya bisa berkembang, sehingga antusias masyarakat untuk mengunjungi taman kota semakin tinggi.

‘AKO ini sudah pernah diuji coba di Taman Bungkul dan dikonsultasikan ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota Surabaya dan menghasilkan keputusan jika AKO layak untuk ditempatkan di taman kota,’ tandasnya.

Dalam melancarkan penelitian ini, Meli juga menggandeng beberapa ahli yaitu spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi/akupunktur RSAL Surabaya, dr. Marcus, Koordinator perencanaan dan pengawasan taman kota Surabaya, Guntoro Mauludi, Dosen desain produk dan pembuat prototype, Ir. Kresno Soelasmono, M.S. dan ahli kesehatan olahraga, Freydi. (*)

Editor: Tunggul Susilo
https://www.antarajatim.com

Ako Bisa Lengkapi Fasilitas di Taman
SURABAYA – Melihat taman kota yang kian cantik, Meliyanti pun terkesima. Hanya, mahasiswa Jurusan Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya itu menilai fasilitas publik di taman kota tersebut kurang beragam.

Anak kedua dari tujuh bersaudara itu pun tergugah untuk menciptakan fasilitas yang bisa digunakan masyarakat. ”Kalau untuk jalan-jalan saja sayang, padahal taman bisa untuk olahraga ataupun bermain,” katanya. Fasilitas jogging track, jalur refleksi, dan fitness outdoor sudah tersedia di taman. ”Tapi, tidak sedikit yang rusak atau hilang. Banyak vandalisme,” imbuhnya.

Meliyanti pun mencoba menciptakan alat olahraga yang ”antivandalisme”. Dia menciptakan akupunktur olahraga (ako) yang bisa digunakan untuk push-up dan sit-up. ”Jadi, bukan sit-up atau push-up biasa. Ada gabungan dengan akupunktur,” tuturnya.

Ako, kata Meliyanti, berbentuk kursi panjang berukuran 75 x 230 cm. Kursi itu didesain bergelombang dengan bagian atasnya ada tonjolan-tonjolan yang sesuai dengan titik akupunktur. Tonjolan tersebut dibuat dari fiberglass. ”Saya sudah konsultasi dengan ahli akupunktur saat membuat ako ini,” imbuhnya.

Pembuatan ako membutuhkan waktu 1,5 tahun. Dari semula tujuh desain, Meliyanti memilih tiga desain, di antaranya dibuat miniatur. ”Dari tiga desain dijadikan satu produk,” terangnya.

Uji coba ako sudah dilakukan Meliyanti di Taman Bungkul. Hasilnya, banyak orang yang mencoba menggunakannya. ”Agar ako tidak rusak atau hilang, saya pakai footplate konstruksi beton permanen,” tambahnya. (puj/c19/ai)

Jawa Pos: 3 Feb 2016