Shock Diundang Jadi Peserta AFW di Jepang fadjar July 7, 2014

Shock Diundang Jadi Peserta AFW di Jepang

Untuk kali pertama Surabaya akan menjadi tuan rumah perhelatan fashion terbesar se-Asia, Asian Fashion Week 2014, pada 15-18 Agustus. Yang menarik, terpilihnya Kota Pahlawan jadi host itu tak lepas dari Rhy Surya, desainer muda yang bertindak sebagai promotor event tahunan itu.

BRIANIKA IRAWATI, Surabaya

Mengenakan T-shirt dengan jaket biru serta celana jins abu-abu, Rhy Surya menemui Jawa Pos di kantornya, kawasan Surabaya Utara, dua pekan lalu (9/6). Belakangan dia memang cukup sibuk mempersiapkan pergelaran Asian Fashion Week (AFW) 2014 yang tinggal satu setengah bulan lagi. Di antaranya, Rhy mesti menyiapkan beberapa desain baju berbaru untuk ditampilkan di AFW. Dia tidak ingin tampil mengecewakan di hadapan publik sendiri.

‘Saya menyiapkan 20 karya terbaru dan terbaik. Saya ingin tampil istimewa,’ ujarnya.

Rhy tidak ingin menyia-nyiakan hasil kerja kerasnya memperjuangkan Surabaya menjadi tuan rumah AFW 2014. Menurut Rhy, sebenarnya panitia sudah memutuskan Mongolia sebagai negara yang akan menyelenggarakan pergelaran fashion internasional itu. Namun, karena beberapa kendala seperti cuaca yang ekstrem dan connecting flight yang susah, keputusan itu dibatalkan. Pihak AFW kemudian memilih tiga kandidat negara sebagai pengganti. Yakni, Myanmar, Vietnam, dan Indonesia.

Karena itu, perwakilan executive board AFW dari tiga negara tersebut lalu bersaing memperebutkan posisi tuan rumah AFW 2014. Di hadapan panitia pusat, mereka wajib mempresentasikan keunggulan fashion negara masing-masing.

Sebagai executive board Indonesia, Rhy bepikir keras agar bisa memberikan presentasi terbaik. Dia bertekad ingin membawa Indonesia menjadi tuan rumah AFW tahun ini. Berbagai persiapan pun dirancang Rhy sedemikian rupa hingga hari presentasi tiba.

Menariknya, presentasi itu dilakukan melalui phone conference dari sekretariat World Fashion Organization (WFO) di Washington, Amerika Serikat, akhir Januari lalu. Dalam presentasi tak lebih dari 15 menit itu, Rhy berusaha menerangkan keunggulan Indonesia dalam berbagai aspek. Salah satunya tentang Kota Surabaya yang hijau dan asri.

‘Saya dari awal sudah bertekad menjadikan Surabaya sebagai tuan rumah AFW. Karena Surabaya lebih bernuansa heritage dan kondisi kotanya lebih tenang dibanding Jakarta,’ terangnya.

Memang, dunia fashion di Surabaya masih kalah oleh Jakarta dan Bali. Namun, Rhy berharap, dengan penyelenggaraan AFW 2014 nanti, Surabaya terlecut menjadi kota fashion baru dengan pasar yang besar.

Perjuangan Rhy tak sia-sia. Sehari setelah presentasi, dia mendapat telepon dari panitia. Isinya mengabarkan bahwa Surabaya terpilih sebagai tuang rumah AFW 2014. Selain itu, panitia menunjuk Rhy sebagai executive director AFW 2014. Semacam koordinator acara AFW di Indonesia.

‘Hati saya langsung girang bukan main mendengar kabar itu. Antara percaya dan tidak percaya mendengarnya,’ jelas dia.

Perlu diketahui, Rhy ditunjuk sebagai executive board AFW dari Indonesia berkat kesuksesannya dalam AFW 2013. Dia mengaku, tidak pernah terlintas di benaknya menjadi salah seorang peserta dalam ajang bergengsi bagi insan desainer se-Asia itu. Rhy terpilih sebagai salah seorang desainer penampil karya sejak 2013. Berarti, tahun ini merupakan kali kedua Rhy mengikutinya.

Rhy menyadari bahwa passion dirinya di dunia desain baju terasa sejak pertengahan kuliah di Jurusan Akuntansi Universitas Surabaya (Ubaya). Saat itu ada teman kuliah Rhy yang memberikan komentar pada gambar rancangan bajunya.

Rhy lalu direkomendasikan untuk mengikuti fashion design competition Plaza Senayan Palm Awards 2008. Dalam kompetisi tahunan, Rhy masuk 20 finalis terpilih dari sekitar 1.000 pendaftar.

‘Saat itu saya masih usia 18 tahun dan Palm Awards merupakan kompetisi pertama yang saya ikuti. Tentu saja, saya sangat senang dan bangga terpilih menjadi 20 finalis,’ ujar laki-laki kelahiran 17 Juli 1990 tersebut.

Sejak sering mengikuti kompetisi, Rhy sadar bahwa dirinya memiliki bakat menjadi fashion design. Tidak ingin membuang waktu percuma, Rhy lalu masuk sekolah fashion di ARVA School of Fashion Surabaya selama setahun. Sejak itu Rhy mendapat pengalaman dan pelajaran tentang fashion design.

Pada 2010 pria berambut cepak tersebut mengikuti fashion design competition dengan tema Redesign Your Jeans yang digelar produsen Emba Jeans. Hebatnya, Rhy langsung menyabet juara pertama dalam kompetisi tingkat nasional tersebut. Keberuntungan Rhy tidak berhenti sampai di situ. Berkat kemenangannya tersebut, Rhy dikontrak kerja menjadi project director oleh Emba Jeans selama tiga tahun.

Dari kontrak kerja itulah, Rhy dapat memperluas ilmu fashion design. Tidak sekadar merancang busana, dia juga belajar tentang fashion industry.

Selama dua tahun bekerja di pabrik jins itu, Rhy mencoba peruntungan kembali dengan mendaftar dalam Indonesian Fashion Week 2012 di Jakarta. Dalam event nasional itulah, kemampuan Rhy kian diperhitungkan di dunia fashion design Indonesia. Salah seorang yang tertarik dengan karya-karya Rhy adalah President CEO AFW Arwin Sharma.

Selang beberapa hari pasca Indonesian Fashion Week, Rhy dihubungi Arwin via e-mail. Bak mendapat durian jatuh, Rhy tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Pasalnya, isi e-mail tersebut merupakan undangan khusus yang ditujukan kepada Rhy untuk mengikuti AFW 2013 di Osaka, Jepang.

‘Wah, saya senang sekali. Saya seperti tak percaya mendapat undangan itu,’ ungkap pria 24 tahun tersebut.

Kebahagiaan itu berlipat ganda saat Rhy mengetahui bahwa dirinya merupakan satu-satunya desainer Indonesia yang mengikuti AFW 2013. Karena itu, dia berusaha tampil maksimal dan yang terbaik.

Dalam waktu mepet, Rhy harus mempersiapkan minimal 40 rancangan pakaian yang dipertunjukkan dalam AFW 2013. ‘Saya berusaha keras memberikan rancangan terbaik. Alhamdulillah, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, saya dapat menyiapkan 45 rancangan,’ paparnya.

Dengan membawa 45 busana rancangannya seberat 40 kg, Rhy berangkat seorang diri ke Negeri Sakura. ‘Sampai di Osaka, saya harus berjuang membawa baju-baju tersebut seorang diri. Jarak antara bandara dan shuttle bus jauh banget. Saya harus naik kereta monorel dulu,’ kenangnya.

Tidak cukup di situ semangat Rhy diuji. Pukul 06.00 waktu setempat, dia harus kembali beraktivitas demi persiapan AFW. Hari itu Rhy merasa dirinya salah kostum. Para desainer dari berbagai negara Asia yang telah berkumpul mengenakan busana kebangsaan negara masing-masing, sedangkan Rhy hanya mengenakan busana kasual: kaus, jaket, serta celana jins.

‘Hahaha’ Saya sedikit malu karena salah kostum. Tapi, ya mau gimana lagi, sudah sampai Jepang, harus dinikmati saja,’ ujarnya.

Sesampai di tempat pergelaran, Rhy kembali harus mempersiapkan segalanya seorang diri. Beberapa kali dia mesti menghela napas panjang. Sebab, salah satu aksesori rancangan Rhy rusak karena peletakan yang kurang tepat di koper. Selain itu, satu busana yang telah dipersiapkan Rhy dari Indonesia ternyata terlalu kecil untuk ukuran model Jepang. Padahal, saat itu pergelaran busana hampir dimulai. Kepanikan pun mulai menyergap Rhy.

Tak ingin menyerah, dia menyemangati dirinya sendiri. Rhy mulai bertindak cepat. Tidak ada cara lain, dia harus menyobek baju yang kekecilan tersebut, lantas menjahitnya kembali.

‘Saya tidak boleh menyerah begitu saja. Sudah sampai di sana, kok mutung. Itulah semangat saya saat itu,’ tegasnya.

Untungnya, busana tersebut selesai dirombak Rhy sebelum acara fashion show dimulai. Dia mampu menampilkan busana-busana rancangannya dengan sukses dalam AFW tahun lalu.

Setelah kejadian yang menegangkan itu, senyum Rhy mulai mengembang. Sepuluh baju rancangannya diborong pengunjung. ‘Saya senang sekali. Fashion show sukses dan baju saya laris manis,’ ujar anak kedua di antara empat bersaudara tersebut.

Dua hari pertama untuk acara AFW, delapan hari sisanya digunakan Rhy berkeliling Osaka. Seperti balas dendam, dia memuaskan hasratnya dengan berbelanja.

Bagi Rhy, AFW di Jepang itu memberikan banyak pengalaman yang berkesan sekaligus menjadi jembatan untuk memperluas jenjang karir di dunia internasional. Tidak dengan tangan kosong, pulang dari AFW 2013, Rhy dipercaya menjadi vice president for ASEAN in World Fashion Brand and Merchandising Group by World Fashion Organization dan executive board AFW perwakilan Indonesia. Mendapat title tersebut, bagi Rhy, ibarat keruntuhan durian. Keberuntungan bertubi-tubi menghampiri dirinya.

Semangatnya dalam berkarir sampai saat ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan keluarga. Terutama orang tuanya, Kusnadi dan Wahyu Handayani. Meski awalnya tidak percaya bahwa Rhy memiliki keinginan kuat berkarir di dunia fashion, orang tuanya selalu mendukung penuh.

‘Kadang kalau lagi patah semangat, saya tinggal pulang ke rumah dan minta ibu membuatkan ayam goreng, makanan favorit saya,’ ungkapnya.

(*/c5/ari)

Sumber: https://www.jambiekspres.co.id