Backpack Inovatif Best of The Best
Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) Jurusan Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik), Senin (8/10/2012) memperkenalkan temuan inovasi untuk backpack. Satu diantara backpack berfungsi untuk alat charger, sedangkan backpack lainnya dapat berguna untuk meja laptop. Penciptanya adalah tiga serangkai Cindy Eleanora (mahasiswi Desain Manajemen Produk angkatan 2011), Evita Tania (mahasiswi Teknik Industri angkatan 2010) dan Stella Felicia (Desain Manajemen Produk angkatan 2010), berhasil memenangkan gelar Best of the Best pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 yang berlangsung di Bandung,awalOktober2012.
Backpack Serba Guna Sabet Penghargaan Best of The Best
suarasurabaya.net| Kalau backpack pada umumnya hanya digunakan untuk membawa barang-barang, ditangan mahasiswa Universitas Surabaya, backpack berfungsi sebagai charger gadget serta berisi meja laptop sederhana.
Oleh karena fungsi yang serba guna tersebut, backpack inovatif karya Cindy Eleanora, Evita Tania dan Stella Felicia, ketiganya mahasiswa Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik) Universitas Surabaya, berhasil meraih penghargaan.
Tak tanggung-tanggung penghargaan itu Best of the Best pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012, yan gdigelar di Kota Bandung pada awal Oktober 2012 lalu, untuk kedua backpack karya mereka bertiga.
Menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik, yaitu piezoelektrik, dan saat pengguna backpack bergerak, saat berjalan, atau gerakan lainnya, alat tersebut menyerap energi kinetik dan mengkonversinya menjadi energi listrik.
Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan, terang Cindy Eleanora pada suarasurabaya.net.
Backpack inovatif yang dapat difungsikan sebagai alat charger tersebut sangat mudah dibawa dan digunakan. Demikian halnya dengan backpack yang berfungsi menjadi meja laptop sederhana, membuat penggunana tidak repot memangku laptop saat dioperasionalkan.
Padahal banyak bahaya yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan memangku laptop, ujar Stella Felicia saat berbincang dengan suarasurabaya.net. Ketiga mahasiswi Ubaya tersebut, menciptakan backpack inovatif tersebut juga berdasar kesadaran terhadap isu lingkungan.
Karya para mahasiswa tersebut tidak hanya sangat sederhana, multi fungsi serta futuristic tetapi sekaligus juga tergolong green product, atau produk ramah lingkungan dengan menggunakan material 3R (reduce, reuse, recycle), papar Hayuning Purnama Dewi, humas Ubaya pada suarasurabaya.net, Senin (8/10/2012).(tok)
Sederhana
Para mahasiswa menciptakan inovasi ini juga berdasar kesadaran terhadap isu lingkungan. Maraknya pembicaraan tentang green product membuat produsen berlomba-lomba menghadirkan produk ramah lingkungan. Semakin hari, produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (reduce, reuse, recycle).
Sumber: SuaraSurabaya.Net
Mahasiswi Ubaya Ciptakan Tas Hasilkan Energi Listrik
Penulis : Edy M Yakub
Surabaya – ‘Tiga serangkai’ mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik) Universitas Surabaya menciptakan ‘backpack’ (tas punggung) yang bisa menghasilkan energi listrik.
‘Pemakainya bisa menggunakan tas itu untuk men-charge gadget, seperti laptop, IPad, ponsel, atau lainnya,’ kata mahasiswi Jurusan Teknik Industri angkatan 2010, Evita Tania, di kampus setempat, Senin.
Didampingi dua rekannya Stella Felicia (Desain Manajemen Produk 2010) dan Cindy Eleanora (Desain Manajemen Produk 2011), ia mengemukakan hal itu tentang karya mereka yang memenangkan gelar ‘Best of the Best’ pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Bandung pada awal Oktober 2012.
‘Listrik itu dihasilkan dari energi kinetik (gerakan tubuh pemakainya), karena itu tas listrik itu bisa saja disebut sebagai ‘green energy’ (energy hijau), karena ramah lingkungan. Sebagai prototype, backpack ini diberi nama ‘Kinetic Ver 1.0′ (Green Kinetic Energy Providing Electricity Backpack),’ katanya.
Menurut Evita, banyak pengguna ‘backpack (khususnya mahasiswa) yang membawa laptop, handphone, charger, dan gadget lainnya dan masalah yang sering dihadapi adalah kebutuhan listrik untuk ‘men-charge’ baterai gadget mereka.
‘Sumber listrik tidak selalu berada di dekat mereka saat dibutuhkan. Masalah sering muncul ketika handphone, laptop atau gadget mereka low batt dan mereka harus mencari sumber listrik,’ katanya.
Mengisi baterai mengharuskan mereka diam, menunggu, atau meninggalkan gadget di satu tempat untuk beberapa waktu (jam), sehingga mereka akhirnya mencari cara agar pengguna ‘backpack’ mudah men-charge gadget mereka.
‘Dari pengamatan, saat berjalan, naik kendaraan (misalnya sepeda motor), dan melakukan aktivitas lainnya, pengguna ‘backpack’ pasti mengeluarkan energi kinetik. Energi itu terbuang sia-sia,’ katanya.
Dari sini muncul ide membuat ‘backpack’ yang dapat menyimpan energi listrik untuk ‘men-charge’ gadget (handphone, laptop, dan lainnya) dari energi kinetik dari pergerakan fisik pengguna ‘backpack’.
‘Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,’ katanya.
Mereka menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik, yaitu ‘piezoelektrik’. Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran.
‘Alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan men-charge gadget. Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan, atau gerakan lainnya, alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik,’ katanya.
Ditanya alasan menciptakan inovasi itu, ia mengatakan akhir-akhir ini pembicaraan tentang ‘green product’ makin marak, sehingga membuat produsen berlomba-lomba menghadirkan produk ramah lingkungan.
‘Semakin hari, produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (reduce, reuse, recycle). Konsumsi energi dunia semakin meningkat, berbanding terbalik dengan persediaan energi yang semakin menipis,’ katanya.
Ironisnya, katanya, banyak energi yang secara tidak sadar terbuang begitu saja, seperti energi kinetik, energi potensial, energi bunyi, dan bentuk energi lainnya. ‘Itu sebabnya kami menciptakan tas itu,’ katanya. (*)
Sumber: AntaraJatim.com
Tiga Mahasiswa Cantik Racik Tas Multifungsi
Norma Anggara – detikSurabaya
Surabaya – Aktivitas kaum urban selalu diidentikkan dengan jadwal yang padat dan sibuk. Hal ini memungkinkan masyarakat tak bisa berlama-lama berada di suatu tempat. Untuk itu, tas kinetrik diciptakan tiga mahasiswa cantik untuk masyarakat aktif.
Cindy Eleonora Gani, Evita Tania dan Stella Felicia mengadu ide tas kinetrik mereka di ajang Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Universitas Kristen Maranatha Bandung. Tim ini mengenalkan dua tas ajaib, tas kinetrik dan tas urgent yang diprediksi akan memenuhi kebutuhan pasar nasional.
Tas kinetrik atau tas yang juga multifungsi sebagai charger gadget. Tas yang membutuhkan dana produksi sekitar Rp 350 ribu per unit ini menggunakan lempengan piezo electric sebagai penghantar listrik.
‘Piezo electri ini berbentuk lempengan bulat. Lempengan ini jika diberi tekanan atau digerakkan, akan menghasilkan energi listrik,’ kata Evita Tania, mahasiswi jurusan Teknik Industri UBAYA, Senin (8/10/2012).
Piezo electric secara teknis dipasang di beberapa titik di area tas. Diusahakan, lempengan ini sengaja diletakkan pada bagian tas yang sering mengalami gerakan dan tekanan.
‘Seperti di area punggung dan bawah tas. Kemudian lempengan dilapisi kain water-proof supaya tahan air,’ tutur Cindy di Jurusan Manajemen Produk UBAYA.
Nantinya, energi listri yang dihasilkan piezo electric akan disimpan dalam baterai. Tentu saja, energi listrik ini kemudian bisa dimanfaatkan untuk mengisi power untuk gadget-gadget mini.
‘Bisa untuk nge-charge blackberry, handphone, iphone,’ tambah Cindy.
Bila tas kinetrik ini digunakan sambil berjalan kaki selama 20 menit, listrik yang dihasilkan cukup untuk daya ponsel dengan 2,5 menit waktu bicara. Namun, bila tas ini hanya diam, tak akan ada energi listrik yang dihasilkan dari piezo electric.
Sementara itu, tiga mahasiswi cantik ini juga meracik tas urgent. Tas yang dilengkapi dengan meja laptop ini menggunakan teknologi honeycomb yang kukuh. Mereka juga menambah perekat yang digunakan sebagai penopang laptop.
‘Tasnya terbagi dua, di tengahnya sengaja kami beri perekat velcro yang melekat pada tas belakang. Sementara untuk alas atau meja laptop, kami menggunakan honeycomb structure material,’ kata Stella Felicia di International Village Kampus Tenggilis Ubaya.
Dua tas ajaib ini unggul di ajang Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 pada 1-3 Oktober lalu. Sebagai pemenang best of the best, tiga mahasiswi ini memperoleh beasiswa S2 di Universitas Kristen Maranatha Bandung.(nrm/fat)
Sumber: Surabaya.Detik.Com
Backpack yang Bisa Mencharge Gadget
Selasa, 09 Oktober 2012 10:07 wib
SURABAYA – Tiga mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) membuat inovasi unik dan kreatif. Karya inovasi ini bisa menjadi solusi bagi pecinta gadget. Hasil karya mereka berupa backpack (tas punggung) yang bisa menghasilkan listrik. Sehingga sang pemakai bisa menggunakannya sebagai baterai yang menyimpan energi listrik untuk mencharge gadget seperti laptop, Ipad, dan lain-lain.
Ketiga mahasiswa kreatif itu adalah Evita Tania (Teknik Industri angkatan 2010), Stella Felicia (Desain Manajemen Produk angkatan 2010), dan Cindy Eleanora (Desain Manajemen Produk angkatan 2011). Karya ketiga mahasiswa tersebut juga berhasil memenangi gelar Best of the Best pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Bandung, awal Oktober ini.
Sebagai prototype, backpack ini diberi nama Kinetic Ver 1.0 (Green Kinetic Energy Providing Electricity Backpack). Sistem kinerja dari backpack ini adalah memanfaatkan tenaga kinetik (gerak) dari pengguna backpack. ‘Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,’ tambah Cindy.
Untuk itu, mereka menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik,yaitu piezoelektrik. Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran. Kemudian, alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan mencharge gadget, yang diletakkan di bagian samping tas.
Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan, atau gerakan lainnya, alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik. Sementara itu, menurut Evita, karya ini dibuat karena mereka seringkali prihatin dengan teman-temannya yang sering kebingungan ketika gadgetnya kehabisan baterai. Saat sumber listrik tidak selalu berada di dekatnya, mereka sangat kebingungan.
‘Masalah sering muncul ketika handphone, laptop atau gadget mereka lowbatt dan mereka harus mencari sumber listrik,’ katanya.
Dari situ, akhirnya mereka sepakat membuat alat ini dengan dibimbing dua dosen Teknik Industri, yakni Markus Hartono dan Rosita Meitha. Dengan tekun, ketiganya mengerjakan karya ini selama 1,5 bulan. ‘Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,’ ujar Cindy.
Stella menambahkan, alat ini dibuat karena ingin menciptakan inovasi berdasar kesadaran terhadap isu lingkungan. Maraknya pembicaraan tentang green product membuat produsen berlomba-lomba menghadirkan produk ramah lingkungan. Semakin hari, produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (reduce, reuse, recycle).
Konsumsi energi dunia semakin meningkat, berbanding terbalik dengan persediaan energi yang semakin menipis. Ironisnya, di sekeliling lingkungan ini banyak energi yang secara tidak sadar terbuang begitu saja. Seperti energi kinetik, energi potensial, energi bunyi, dan bentuk energi lainnya.
‘Itu sebabnya kami menciptakan tas ini. Kebetulan waktu itu ada lomba, dan kami ikut. Ternyata kami masuk 20 besar, dan akhirnya meraih Best of the Best,’ kata Evita.
Selain itu, Evita, Cindy dan Stella juga menciptakan backpack yang menjaga kesehatan reproduksi. Backpack ini juga memenangi gelar yang sama, yaitu Best of the Best pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012. Sebagai prototype, backpack ini diberi nama Urgent 1.0 (Urban Gadget Backpack and Supporting Table). Backpack yang ini didesain dengan dilengkapi meja laptop. Dengan demikian, pengguna backpack bisa menaruh laptop saat digunakan dan menghindari bahaya memangku laptop. Dari hasil studi beserta pengamatan langsung, tampak kecenderungan perilaku memangku laptop saat duduk.
‘Padahal banyak bahaya yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan memangku laptop,’ terang Stella.
Stella mengungkap, memangku laptop bisa meningkatkan suhu testis. Jika ini terus terjadi, kualitas sperma akan terpengaruh. Konsekuensinya, kondisi tersebut bisa membuat pasangan yang bersangkutan menjadi sulit hamil. Selain itu, ada penelitian lain yang mengungkapkan kebiasaan memangku laptop dapat mengakibatkan kerusakan kulit permanen.
Dunia medis menyebutnya dengan toasted skin syndrome. Penyakit yang disebabkan paparan panas jangka panjang ini biasanya ditandai munculnya bintik-bintik di jaringan pigmen kulit terluar. Dalam kasus tertentu bahkan bisa memicu kanker kulit. (arief ardliyanto/koran si)(//rfa)
Sumber: Kampus.Okezone.Com
Mahasiswa Ubaya Ciptakan Tas Punggung Berenergi Listrik
Senin, 08 Oktober 2012, 19:19 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — ‘Tiga serangkai’ mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik) Universitas Surabaya menciptakan ‘backpack’ (tas punggung) yang bisa menghasilkan energi listrik.
‘Pemakainya bisa menggunakan tas itu untuk men-charge gadget, seperti laptop, IPad, ponsel, atau lainnya,’ kata mahasiswi Jurusan Teknik Industri angkatan 2010, Evita Tania, di kampus setempat, Senin (8/10).
Didampingi dua rekannya Stella Felicia (Desain Manajemen Produk 2010) dan Cindy Eleanora (Desain Manajemen Produk 2011), ia mengemukakan hal itu tentang karya mereka yang memenangkan gelar ‘Best of the Best’ pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Bandung pada awal Oktober 2012.
‘Listrik itu dihasilkan dari energi kinetik (gerakan tubuh pemakainya), karena itu tas listrik itu bisa saja disebut sebagai ‘green energy’ (energy hijau), karena ramah lingkungan. Sebagai prototype, backpack ini diberi nama ‘Kinetic Ver 1.0′ (Green Kinetic Energy Providing Electricity Backpack),’ katanya.
Menurut Evita, banyak pengguna ‘backpack’ (khususnya mahasiswa) yang membawa laptop, handphone, charger, dan gadget lainnya dan masalah yang sering dihadapi adalah kebutuhan listrik untuk ‘men-charge’ baterai gadget mereka.
‘Sumber listrik tidak selalu berada di dekat mereka saat dibutuhkan. Masalah sering muncul ketika handphone, laptop atau gadget mereka low batt dan mereka harus mencari sumber listrik,’ katanya.
Mengisi baterai mengharuskan mereka diam, menunggu, atau meninggalkan gadget di satu tempat untuk beberapa waktu (jam), sehingga mereka akhirnya mencari cara agar pengguna ‘backpack’ mudah men-charge gadget mereka.
‘Dari pengamatan, saat berjalan, naik kendaraan (misalnya sepeda motor), dan melakukan aktivitas lainnya, pengguna ‘backpack’ pasti mengeluarkan energi kinetik. Energi itu terbuang sia-sia,’ katanya.
Dari sini muncul ide membuat ‘backpack’ yang dapat menyimpan energi listrik untuk ‘men-charge’ gadget (handphone, laptop, dan lainnya) dari energi kinetik dari pergerakan fisik pengguna backpack.
‘Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,’ katanya.
Mereka menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik, yaitu ‘piezoelektrik.’ Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran.
‘Alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan men-charge gadget. Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan, atau gerakan lainnya, alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik,’ katanya.
Ditanya alasan menciptakan inovasi itu, ia mengatakan akhir-akhir ini pembicaraan tentang ‘green product’ makin marak, sehingga membuat produsen berlomba-lomba menghadirkan produk ramah lingkungan.
‘Semakin hari, produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (reduce, reuse, recycle). Konsumsi energi dunia semakin meningkat, berbanding terbalik dengan persediaan energi yang semakin menipis,’ katanya.
Ironisnya, katanya, banyak energi yang secara tidak sadar terbuang begitu saja, seperti energi kinetik, energi potensial, energi bunyi, dan bentuk energi lainnya. ‘Itu sebabnya kami menciptakan tas itu,’ katanya.
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
MAHASISWA UBAYA CIPTAKAN TAS PENYIMPAN ENERGI LISTRIK – Terinspirasi Teman Cari Charge saat Baterai lemah
Tuesday, 09 October 2012
Tiga mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) membuat inovasi unik dan kreatif.Karya inovasi ini bisa menjadi solusi bagi pecinta barang-barang gadget. Hasil karya mereka berupa backpack (tas punggung) yang bisa menghasilkan listrik.
Sehingga sang pemakai bisa menggunakannya sebagai baterai yang menyimpan energi listrik untuk men charge gadget seperti laptop, Ipad,dan lain-lain. Ketiga mahasiswa kreatif itu adalah Evita Tania (mahasiswi Teknik Industri angkatan 2010), Stella Felicia (Desain Manajemen Produk angkatan 2010),dan Cindy Eleanora (mahasiswi Desain Manajemen Produk angkatan 2011).
Karya ketiga mahasiswa tersebut juga berhasil memenangkan gelar Best of the Best pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Bandung,awal Oktober 2012 ini. Sebagai prototype,backpack ini diberi nama Kinetic Ver 1.0 (Green Kinetic Energy Providing Electricity Backpack). Sistem kinerja dari backpack ini adalah memanfaatkan tenaga kinetik (gerak) dari pengguna backpack. ”Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal,namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,”tambah Cindy.
Untuk itu,mereka menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik,yaitu piezoelektrik. Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran.Kemudian,alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan men-charge gadget, yang diletakkan di bagian samping tas.
Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan,atau gerakan lainnya,alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik. Sementara itu,menurut Evita,karya ini dibuat karena mereka seringkali prihatin dengan teman-temannya yang sering kebingungan ketika gadget-nya kehabisan baterai. Saat sumber listrik tidak selalu berada di dekatnya,mereka sangat kebingungan. ”Masalah sering muncul ketika handphone,laptop atau gadgetmereka lowbatt dan mereka harus mencari sumber listrik,”katanya.
Dari situ,akhirnya mereka sepakat membuat alat ini dengan dibimbing dua dosen Teknik Industri,yakni Markus Hartono dan Rosita Meitha. Dengan tekun,mereka mengerjakan karya ini selama 1,5 bulan.”Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen.Sifat energi yang kekal,namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan,”tambah Cindy.
Stella menambahkan,alat ini dibuat karena ingin menciptakan inovasi berdasar kesadaran terhadap isu lingkungan. Maraknya pembicaraan tentang green product membuat produsen berlombalomba menghadirkan produk ramah lingkungan. Semakin hari,produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (reduce,reuse,recycle).Konsumsi energi dunia semakin meningkat,berbanding terbalik dengan persediaan energi yang semakin menipis.
Ironisnya,di sekeliling lingkungan ini banyak energi yang secara tidak sadar terbuang begitu saja.Seperti energi kinetik, energi potensial,energi bunyi,dan bentuk energi lainnya.” Itu sebabnya kami menciptakan tas ini.Kebetulan waktu itu ada lomba,dan kita ikut.Ternyata kita masuk 20 besar,dan akhirnya meraih Best of The Best,”kata Evita.
Selain itu,Evita,Cindy dan Stella juga menciptakan backpack yang menjaga kesehatan reproduksi.Backpack ini juga memenangkan gelar yang sama, yaitu Best of the Best pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012. Sebagai prototype, backpack ini diberi nama Urgent 1.0 (Urban Gadget Backpack and Supporting Table).Backpack yang ini didesain dengan dilengkapi meja laptop.
Dengan demikian,pengguna backpack bisa menaruh laptop saat digunakan dan menghindari bahaya memangku laptop.Dari hasil studi beserta pengamatan langsung, tampak kecenderungan perilaku memangku laptop saat duduk.”Padahal banyak bahaya yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan memangku laptop,”terang Stella.
Stella mengungkapkan, memangku laptop bisa bisa meningkatkan suhu testis. Jika ini terus terjadi,kualitas sperma akan terpengaruh. Konsekuensinya,kondisi tersebut bisa membuat pasangan yang bersangkutan menjadi sulit hamil. Selain itu,ada penelitian lain yang mengungkapkan kebiasaan memangku laptop dapat mengakibatkan kerusakan kulit permanen.
Dunia medis menyebutnya dengan toasted skin syndrome.Penyakit yang disebabkan paparan panas jangka panjang ini biasanya ditandai munculnya bintikbintik di jaringan pigmen kulit terluar.Dalam kasus tertentu bahkan bisa memicu kanker kulit. ARIEF ARDLIYANTO Surabaya
Sumber: Seputar-Indonesia.Com
Kinetric, Tas Yang Dapat Mengecas Gadget
Surabaya – Bagi mereka yang menggunakan gadget seperti laptop, BlackBerry atau alat elektronik lainnya biasanya memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap energi listrik. Tak heran jika saat ini penggunaan baterai portabel yang bisa dibawa kemana-mana menjadi tren tersendiri di masyarakat.
‘Bahkan baterai portable pun butuh di-charge. Tapi masalah yang sering dihadapi adalah kebutuhan listrik untuk mengecas baterai gadget mereka,’ ujar Mahasiswi Teknik Industri Universitas Surabaya, Evita Tania saat mempresentasikan Tas yang diberi nama Kinetric Ver 1.0 atau Green Kinetic Energy Providing Electricity BackPack di Kampus Ubaya Kalirungkut, Surabaya Senin (08/10).
Evita bersama dua rekannya Cindy Eleanora mahasiswa Desain Manajemen Produk dan Stella Felicia mahasiswa Desain Manajemen Produk merancang tas tersebut dalam rangka Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 yang berlangsung di Bandung, awal Oktober 2012. Dalam lomba tersebut, tim ini mendapatkan gelar Best of The Best.
Dikatakan Evita, dari riset yang mereka lakukan, masalah yang sering dialami mahasiswa atau mereka yang memiliki mobilitas tinggi adalah ketika laptop atau gadget mereka low batt dan harus segera mengisi baterai. Dan untuk mengisi baterai harus diam, menunggu atau meninggalkan gadget di satu tempat untuk beberapa jam. ‘Dari sini kami menciptakan backpack yang mudah untuk mengecas gadget mereka,’ kata mahasiswa angkatan tahun 2010 ini.
Dari pengamatan, saat berjalan, naik kendaraan seperti sepeda motor dan melakukan aktivitas lainnya, pengguna backpack pasti mengeluarkan energi kinetik. Dan energi tersebut terbuang sia-sia.
‘Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi. Sifat energi kinetik tersebut dapat diubah menjadi bentuk energi lain yang dapat dimanfaatkan,’ tambah Cindy. Untuk mengubah energi gerak atau kinetik menjadi energi listrik digunakan piezoelektrik. Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran.
Di dalam tas, piezoelektrik diletakkan di samping, bawah tas dan bagian belakang yang sering mendapat tekanan. Kemudian alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan mengecas gadget. Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan atau gerakan lainnya, alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik.
Dikatakan Cindy, dari gerak selama 20 menit, bisa dihasilkan energi listrik yang bisa digital untuk mengecas selama 2,5 menit. Sedangkan total biaya yang dikeluarkan untuk membuat tas ini sekitar Rp350 ribu.
Oleh : Anggraenny Prajayanti ndash; Editor : Adi Cahyo
Sumber: CentroOne.com