Mahasiswa Ubaya Ciptakan Program Penunjang Konseling, Dukung Pemantauan Kondisi Mental Siswa Secara Digital humasubaya March 25, 2026

Mahasiswa Ubaya Ciptakan Program Penunjang Konseling, Dukung Pemantauan Kondisi Mental Siswa Secara Digital

Chavel Aiko Ratu, mahasiswa tugas akhir Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya) menciptakan Rasaya, sebuah sistem informasi untuk menunjang kebutuhan konseling siswa di sekolah. Sistem ini beroperasi berbasis peran yang  terbagi menjadi admin sekolah, guru dan wali kelas, serta siswa yang dapat diakses melalui laman web di komputer dan aplikasi pada ponsel pintar. Data yang dimasukkan ke dalam sistem diolah untuk menghasilkan kesimpulan dan tren kesehatan mental siswa yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan oleh pihak guru dan sekolah. 

 

Chavel menuturkan, Ide untuk menciptakan Rasaya muncul dari keprihatinan atas kesulitan sekolah dalam pencatatan kondisi kesehatan mental siswa. Akibatnya, muncul gangguan mental yang gagal dideteksi sejak dini, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih serius di kemudian hari. Untuk memperkuat landasan ini, ia melakukan studi kasus dengan data yang diperoleh dari salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

 

“Berdasarkan wawancara dan kuesioner yang saya sebar, ternyata para siswa malu untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan secara langsung kepada gurunya. Jadi, guru juga tidak sepenuhnya paham terkait apa yang sedang dirasakan oleh siswanya,” sebutnya. 

 

Data yang telah ia kumpulkan kemudian didiskusikan dengan dosen pembimbing pertama, Dr. Liliana untuk memutuskan rencana program yang akan diciptakan. Setelahnya, Chavel mulai merancang sistem Rasaya sambil terus melakukan riset mandiri agar dapat menghadirkan fitur dan fungsi yang kompleks, namun tetap sederhana ketika digunakan. 

 

Untuk menganalisis sentimen dari data yang dimasukkan, Chavel menggunakan Lexicon-Based Sentiment Analysis, sebuah metode analisis sentimen yang menentukan emosi atau sikap menjadi positif, negatif, atau netral dengan menggunakan kamus kata yang sudah diberi nilai sebelumnya. Kemudian, ada algoritma yang mengklasifikasikan data menjadi beberapa kategori kondisi, seperti stres akademik atau konflik sosial. Dalam menentukan klasifikasi ini, Chavel melibatkan psikolog anak dan remaja untuk memvalidasi ketepatan hasil analisis sistem atas kondisi siswa. 

 

“Selain itu, ada beberapa program menarik, seperti daily mood tracker, fitur lapor teman, refleksi harian, riwayat kondisi emosi, serta tren kelas dan angkatan. Jadi, sumber datanya bersifat multi informan dan tidak subjektif karena melibatkan guru, wali kelas, dan teman,” jelasnya.

 

Hasil analisis kesehatan mental siswa yang dihasilkan sistem dapat menjadi acuan wali kelas atau guru BK sebagai dasar pengambilan keputusan dalam proses pendampingan dan konseling. Dengan demikian, pemantauan dan penanganan kondisi kesehatan mental siswa dapat dilakukan secara lebih sistematis, efisien, dan berkelanjutan. 

 

Chavel mengisahkan tantangan terbesar dalam pengerjaan Rasaya terletak pada bagian machine learning ketika ia harus memastikan algoritma yang telah dirancang dapat berfungsi dengan tepat. 

“Dari empat bulan pengerjaan, saya menghabiskan tiga bulan untuk merancang machine learning dengan jumlah revisi yang tidak terhitung. Jujur, itu sangat sulit dan menantang, tapi saya bersyukur bisa melaluinya dengan baik” tutur mahasiswa peminatan Sistem Informasi Bisnis itu. 

 

Setelah mempresentasikan Rasaya dalam sidang akhir, saat ini Chavel sedang dalam masa penyempurnaan sistem agar dapat dimanfaatkan dalam lingkup yang lebih luas. 

“Saya sangat ingin Rasaya ini dapat membantu banyak pihak, baik sekolah, siswa, guru, dan orang tua secara tidak langsung. Jadi, saya sedang mempersiapkannya agar siap digunakan secara massal,” pungkasnya.Â