Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Listyo Yuwanto, Psikolog, FISQua, FRSPH menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Psikologi dan Kolaborasi Lintas Ilmu untuk Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia” pada Dies Natalis Ubaya ke-58.
Listyo menekankan pentingnya integrasi ilmu psikologi dengan berbagai bidang ilmu dalam menyikapi tingginya risiko bencana yang dihadapi Indonesia. Kesepuluh bidang ilmu yang diintegrasikan dengan psikologi bencana yang dipaparkannya meliputi meteorologi, hidrometeorologi, astronomi, geologi, vulkanologi, ekologi dengan kimia lingkungan dan farmasi, literasi digital dan teknologi, remote sensing, forensik bencana, dan desain.
“Integrasi bukan sekadar teori, tetapi strategi untuk mengubah pengetahuan menjadi dampak pengurangan risiko bencana yang nyata, terukur, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tutur Listyo.
Ia menguraikan implementasi integrasi psikologi bencana dengan setiap ilmu yang ia sebutkan sebelumnya. Dalam integrasi psikologi dengan ilmu desain misalnya, dapat diterapkan program daur ulang mainan yang diubah menjadi alat terapi bagi anak penyintas bencana. Dalam konteks geologis, psikologi bencana berperan dalam dinamika trauma, perilaku manusia sebelum, selama, dan sesudah gempa, serta mekanisme koping terhadap ancaman geologis.
“Kolaborasi psikologi bencana dengan farmasi dan kimia lingkungan juga menjadi penting dalam memahami dan memulihkan kesehatan mental penyintas melalui mekanisme biologis, psikologis, dan ekologis,” sebut Koordinator Kelompok Studi Psikologi Bencana (KSPB Ubaya) ini.
Ia melanjutkan, pengurangan risiko bencana tidak cukup mengandalkan pendekatan teknis semata. Namun, memerlukan pemahaman mendalam tentang manusia meliputi emosi, persepsi, dan perilaku sebagai titik temu antara sains alam, teknologi, dan kemanusiaan. Di sinilah psikologi bencana berperan sebagai penghubung agar setiap lompatan inovasi tetap berpijak pada keselamatan manusia.
“Universitas Surabaya memiliki posisi strategis dalam proses ini. Bukan hanya sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi sebagai penggerak integrasi lintas disiplin, inkubator inovasi kebencanaan, dan ruang pembentukan generasi yang tangguh menghadapi krisis. Keselamatan merupakan tanggung jawab kita bersama, mari berkolaborasi untuk pengurangan risiko bencana yang lebih adaptif dan manusiawi,” tutup Listyo. (tsy)