Baru-baru ini muncul isu di tengah masyarakat mengenai asosiasi GERD (Gastroesophageal reflux disease) dengan penyakit jantung. Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP. memberikan penjelasan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung secara instan.
“GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, bisa meningkatkan risiko gejala serangan jantung. Terdapat dua organ yang berbeda, namun tetap terhubung karena berada dalam satu tubuh yang sama,” jelasnya.
Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu menguraikan, GERD dapat meningkatkan risiko gangguan jantung apabila didukung oleh berbagai faktor risiko dan telah melewati serangkaian proses yang panjang. Misalnya, GERD yang ditandai oleh inflamasi di lambung dapat meningkatkan tekanan darah karena saraf simpatik bekerja lebih keras. Dampaknya, detak jantung menjadi lebih cepat dan memicu respons tubuh yang lebih sensitif. Apabila berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan didukung oleh faktor risiko, jantung dapat mengalami pembengkakan dan menimbulkan serangan atau gagal jantung.
“Namun, hal tersebut membutuhkan waktu dengan alur yang beragam. Tidak ada penderita GERD akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam jangka waktu singkat,” tegas dr. Jordan.
Oleh sebab itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu menentang keras diagnosis gangguan kesehatan yang seringkali tidak melibatkan prosedur pemeriksaan medis yang baku, termasuk asosiasi GERD dengan serangan jantung. Kesamaan profil yang seringkali didapati pada pasien GERD dan gangguan jantung tidak menjadi dasar pengambilan kesimpulan yang akurat. Oleh sebab itu, ketika terdapat gejala serupa, khususnya nyeri pada bagian dada, penegakan diagnosis harus dilakukan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan rangkaian pemeriksaan khusus.
Dr. Jordan turut menyoroti keberadaan faktor risiko yang dapat meningkatkan kecenderungan penyakit jantung. Ia membaginya menjadi dua klasifikasi, yaitu faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan dan faktor risiko yang dapat dikendalikan. Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, genetik, dan perubahan iklim yang memengaruhi manusia secara global. Sedangkan, faktor risiko yang dapat dikendalikan terdiri dari kadar gula darah, kadar kolesterol, tekanan darah, penggunaan obat-obatan, gaya hidup, kebiasaan, dan sebagainya.
“Kenali faktor risikonya. Ketika Anda sudah sadar terkait faktor risiko yang melekat pada diri Anda, anda sudah memiliki akses terhadap tahap pencegahan untuk memperlambat proses memburuknya kondisi. Kita tidak dapat mengendalikan usia, namun dapat mencegah akselerasi kerusakannya,” tutur dr. Jordan.
Mengingat permasalahan kardiovaskular yang sangat tinggi di seluruh dunia, dr. Jordan tidak hanya mengajak masyarakat untuk mengenal faktor risiko secara pribadi. Ia berharap masyarakat secara aktif melakukan upaya pada faktor-faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui gaya hidup yang sehat, seperti mengontrol stres, berolahraga secara rutin, tidak merokok, beristirahat yang cukup, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Terakhir, dr. Jordan mendorong masyarakat agar segera mendatangi tenaga medis profesional terdekat apabila muncul gejala dan gangguan kesehatan. Dengan demikian, tidak ada pasien yang melakukan diagnosis secara mandiri, sehingga pemburukan kondisi dan penanganan yang tidak tepat dapat dihindari. (tsy)
Sumber gambar: Pinterest