SURABAYA ndash; Kampung Tambak Bayan, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, tampak meriah kemarin pagi (23/4). Puluhan mahasiswa terlihat asyik menggambar di tembok rumah warga. Tembok-tembok tersebut digambari aneka rupa kebudayaan khas Tionghoa. Maklum, mayoritas penghuni kampung itu memang warga keturunan.
Gambar tersebut di antaranya adalah topeng khas Tiongkok yang digambar dari beberapa sudut pandang. Di sebelahnya terdapat tulisan Evil Has Two Face (Setan Mempunyai Dua Wajah). Selain itu, ada gambar naga yang memakan ekornya sendiri dan rumah gaya Tiongkok yang mewah, namun keropos di bagian bawah.
Ketua pelaksana mural Kumara Sadana Putra (dosen DMP Universitas Surabaya) mengatakan, mural tersebut merupakan upaya untuk menyelamatkan Tambak Bayan. Seperti diketahui, saat ini warga sedang berbersengketa dengan seorang pengusaha. Akibat konflik itu, sudah 27 rumah yang digusur.
”Kami ingin menunjukkan bahwa konflik menimbulkan ketidakpastian,” ujarnya. Ketidakpastian yang dimaksud adalah masa depan kampung itu sendiri. Kumara yang
membawa bendera Orange House Production (OHS), yang didirikan peneliti perkotaan asal Jepang Kenta Kishi, memang tidak berpihak. Namun, dia ingin menyampaikan bahwa Tambak Bayan memiliki banyak potensi unik. Potensi tersebut adalah keberadaan warga yang kebanyakan beretnis Tionghoa.
Kawasan itu bisa dikatakan bersejarah karena masih menjadi tempat bagi warga keturunan untuk mempertahankan budaya nya. Sebab, kampung asli pecinan di Surabaya sudah hampir hilang. ”Mural sebagai seni monumental bisa digunakan untuk menyampaikan pesan itu,” terangnya. (dim/c9/oni)
Sumber: JawaPos 24 April 2011
Kampung Bisa Jadi Penopang Pusat Bisnis
PENELITI perkotaan asal Jepang, Kenta Kishi, memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan Kota Surabaya. Menurut dia, saat ini kondisi perkampungan sudah sangat rapuh karena tidak bisa mengimbangi transisi kota. Termasuk, ketimpangan pada perkembangan ekonomi masyarakat.’Penelitian kami mengarah ke sana,’ ujarnya.
Ketimpangan-ketimpangan itu, jika tidak segera diseimbangkan, bisa mengakibatkan pembangunan menjadi kebablasan. Dia yakin banyak kampung yang akan dihancurkan dan diganti dengan proyek modern. Mulai pusat perbelanjaan hingga perumahan. ‘Rapuhnya kampung bisa membuatnya semakin mudah dihapus,’imbuhnya.
Dia lantas menceritakan tentang fenomena Kota Beppu di Prefektur Kyushu, Jepang. Sama dengan Surabaya, Beppu dulu menjadi salah satu kota yang berkembang
pe sat. Bedanya, kota di kepulauan itu besar karena potensi alamnya, sedangkan Surabaya tumbuh menjadi kota perdagangan dan jasa.
Eksplorasi besar-besaran membuat pembangunan di Beppu menjadi kebablasan. Akhirnya, kota itu berada pada titik jenuh dan tidak lagi bisa dieksploitasi. Perlahan, Beppu mulai ditinggalkan warganya yang masih produkif. Kota itu menjadi sepi. Pembangunan supermegah tidak lagi berarti.
Surabaya memang tidak bisa dibandingkan secara head-to-head dengan Beppu karena tipikalnya berbeda. Namun, ada satu kesamaan, yakni kota ini mengalami pembangunan pesat. Berbagai gedung pencakar langit mulai berdiri lengkap dengan pusat perbelanjaan. ‘Ketika kampung tidak lagi dipedulikan, Surabaya akan kehilangan hatinya,’ jelasnya.
Kenta menyebut demikian karena kampung adalah hati dari Surabaya. Kota ini, menurut Kenta, lahir dari jaringan kampung yang besar. Karena itu, kampung
de ngan segala permasalahan dan kehidupan sosialnya harus tetap dibiarkan dan diberdayakan.
Karena di masa depan, permukiman justru bisa menjadi semacam tempat untuk nostalgia dan lokasi menarik bagi turis. ‘Tetapi, itu tidak lagi menarik jika hanya menjadi bangunan mati tanpa penduduk,’ tuturnya.
Kenta tidak ingin Surabaya meniru kondisi Jepang yang disebutnya sedang mencari kembali suatu sistem di level bawah. Di kota besar seperti Tokyo, beberapa per kam pungan yang disebut Shita-machi memang masih ada. Lengkap dengan sosial strukturnya yang mirip Indonesia dengan chonaikai (RW) dan tonarigumi (RT). ‘Dulu kami punya banyak, tetapi sekarang sudah berkurang,’ ungkapnya.
Meski demikian, Kenta menegaskan bahwa hasil penelitiannya tidak dimaksudkan untuk melawan pembangunan kota. Menurut dia, pembangunan tetap harus berjalan namun seimbang. Dia melihat pola-pola keseimbangan itu sebenarnya sudah diaplikasikan dengan benar oleh pemkot. ‘Ini yang
harus dipertahankan,’ katanya.
Pola yang dimaksud Kenta adalah letak kampung dan lokasi perkantoran atau pusat bisnis tidaklah jauh. Contoh yang paling pas, menurut dia, adalah kawasan Jalan Tunjungan, Jalan Embong Malang, hingga Jalan Basuki Rahmat karena pertokoan dan mal diletakkan di pinggir jalan. Di belakangnya ada perkampungan.
Pola tersebut dinilai tepat karena kampung bisa menjadi penopang kegiatan bisnis. Para pekerja bisa indekos atau tinggal di sana, termasuk memenuhi kebutuhan pangan. Itu dibuktikan dengan selalu berdirinya warung-warung atau kos di dekat kegiatan bisnis tersebut. ‘Kampung menawarkan
kemurahan tempat tinggal hingga makanan,’ tuturnya.
Bagi dia, kota tidak jauh berbeda dengan manusia yang sama-sama hidup dan terus tumbuh. Dalam pertumbuhan itu, banyak kemungkinan arah pembangunan, tetapi
yang sering diketahui adalah konsep master planning (mendirikan bangunan baru). Penelitiannya dilakukan untuk mencari alternatif pola pembangunan tersebut.
Sebab, Kenta yakin bahwa sistem kampung yang sudah ada bisa memberikan petunjuk untuk mengembangkan metropolis ke arah yang tepat. Konsep sistem jaringan
kampung yang kompleks, multikultur, konsistensi, simultan, spontan, dan komperehensif adalah kata kuncinya. ‘Surabaya tidak perlu perubahan besar dan
cepat. Namun, perubahan kecil tetapi bertahap dengan konsep itu,’ jelasnya. (dim/c7/ang)
Sumber: JawaPos 2 Mei 2011
Kenta Kishi, Peneliti Asal Jepang yang Meneliti Perkampungan di Surabaya
Blusukan Kampung, Sempat Diteriaki dan Disidang Warga
Perkampungan di Surabaya menarik minat peneliti asal Jepang Kenta Kishi. Didampingi beberapa mahasiswa ITS dan dosen Ubaya, dia blusukan dari satu kampung ke kampung lainnya.
DHIMAS GINANJAR
SUDAH dua jam lamanya lelaki berbaju merah itu berseliweran di sudut-sudut Kampung Tambak Bayan, Bubutan. Wajahnya tampak semringah tanpa tetesan keringat.
Hawa panas Surabaya tak membuat lelaki berwajah oriental tersebut terganggu. Dengan penuh semangat, dia mengambil foto dan sesekali berdialog dengan warga.
Lelaki itu adalah Kenta Kishi, peneliti kota asal Jepang yang sudah hampir setahun ini menetap di Surabaya. Bersama Kumara Sadana Putra (dosen Ubaya) serta Pandu Rukmi Utomo dan Bintang Putra (keduanya mahasiswa Despro ITS), dia membentuk Orange House Studio (OHS). Itu adalah lembaga yang bertujuan melakukan penelitian tentang kawasan perkampungan di Surabaya. Kantornya berada di kawasan Kampung Malang. OHS didukung The Nippon Foundation API (Asian Public Intellectuals).
Rumah yang kali pertama dikunjungi siang itu adalah milik Ketua RT 4 RW 3 Tambak Bayan Suseno. Keterbatasan bahasa membuat Kenta hanya diam memperhatikan mimik Kumara, Pandu, dan Suseno. Saat ketiganya tersenyum atau tertawa, Kenta juga ikut menarik bibirnya. Setelah itu, dia menowel salah seorang temannya. ‘What he said (Apa yang dia bicarakan)?’ ujarnya.
Kata-kata itulah yang kerap diucapkan Kenta ketika tidak paham dengan komunikasi yang terjadi. Walaupun sudah melakukan penelitian sejak Agustus 2010, dia belum fasih berbahasa Indonesia. Meski demikian, cara tersebut efektif membuat komunikasi dengan warga lebih cair. Sebab, koleganya sekaligus menjadi
penyambung lidah. Obrolan yang muncul kebanyakan menyangkut sejarah berdirinya kampung serta pola interaksi antarwarga, suku, dan agama hingga sesekali tentang mistik
Terkesima Lihat Kampung Plampitan, Peneleh
Namun, yang menarik perhatiannya adalah konflik tanah yang terjadi dengan salah satu pengembang. Itu sangat disayangkan karena bisa membuat kampung tersebut lenyap dari peta Surabaya. ’’Padahal, kampung ini memiliki banyak kisah sejarah,’’ katanya.
Puas bercakap dengan Suseno, mereka lantas diantar berkeliling kampung. Saat menyusuri jalan sempit perkampungan, Kenta sibuk memotret segala sesuatu yang dianggapnya menarik. Terutama arsitektur Belanda yang masih tampak asli di beberapa hunian warga.
Kisah lucu terjadi saat Suseno mengantar Kenta cs memasuki sebuah rumah Belanda kuno. Rumah tersebut sangat luas dengan pencahayaan minim. Ruangan dalam rumah itu dibagi menjadi beberapa kamar dengan jarak antara lantai dan atap sangat tinggi.
Tembok-tembok rumah tersebut tampak lusuh karena retak-retak dan catnya kusam. Tempat itu biasanya digunakan warga untuk membuat terali yang terbuat dari kawat dan memasak. Kegiatan tersebut menjadi mata pencarian sebagian warga. Raut wajah Kenta sempat berubah kaget beberapa detik saat Suseno mengatakan, kerap ada kemunculan makhluk halus di gedung itu.
Entah serius atau guyon, Kenta ternyata mengaku melihat bayangan putih di rumah kuno tersebut. ‘Saya sempat melihat bayangan putih di sebelah sana,’ ungkap Kenta sambil jarinya menunjuk bagian rumah yang gelap. Namun, kekagetan Kenta tidak lama. Dia lantas kembali asyik memotret arsitektur bangunan itu. Sesekali tangannya mengetuk kayu atau tembok rumah.
Kenta memang tidak ikut campur dengan konflik yang terjadi di kampung tersebut. Namun, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika wilayah yang kebanyakan dihuni orang Tionghoa kelas menengah ke bawah itu benar-benar hilang.
Konflik yang terjadi bukan tidak mungkin membuat warga Tambak Bayan yang ada saat ini adalah generasi terakhir. Kenta tampak merenung saat melihat potongan berita yang dimuat media di posko perlawanan warga. Terutama salah satu artikel berbahasa Mandarin. ‘Sayang kalau kampung ini harus hilang, padahal banyak menyimpan sejarah,’ tutur lelaki yang sejak 2007 menjadi periset kota internasional itu.
Kekhawatiran serupa berlaku untuk Kampung Lemah Putro, Jalan Panglima Sudirman. Maklum, kampung yang hanya tinggal satu ruas jalan utama tersebut seolah menunggu waktu untuk punah. Kampung itu dikepung gedung-gedung pencakar langit. ‘Kampung tersebut juga diapit dua jalan besar,’ ujar Pandu disambut anggukan Kenta.
Kisah lucu terjadi saat timnya melakukan observasi di kampung itu. Status tanah yang bersengketa dengan pengembang hotel membuat mata warga selalu memandang
curiga saat melihat kedatangan orang yang bukan penduduk asli. Apalagi kalau orangorang tersebut mengabadikan beberapa bangunan dan melakukan pengukuran.
Kecurigaan itulah yang membuat mereka harus disidang warga karena dituduh bakal merebut tanah warga lagi. Pandu masih ingat betul saat tim OHS diteriaki penduduk. Namun, kesalahpahaman langsung mencair saat mereka tahu bahwa Kenta adalah warga Jepang yang sedang melakukan penelitian.
Selain kisah lucu, Kenta dan tim juga dibuat terkesima dengan beberapa kampung di Surabaya. Salah satu favoritnya adalah Kampung Plampitan di kawasan Peneleh, Jalan Ahmad Jais. Selain membesarkan tokoh besar bangsa seperti Presiden Soekarno, kampung tersebut masih menjaga banyak arsitektur
kuno. ‘Itu salah satu bakal lokasi pameran,’ terang Kumara.
Pameran tersebut merupakan puncak dari penelitian yang mereka lakukan selama satu tahun. Hasil penelitian disampaikan dalam bentuk ekshibisi pada 1 hingga 8 Mei dengan beberapa pertunjukan. Namun, semuanya tetap mengarah pada pentingnya melestarikan kampung. ‘Kami masih mencari lokasi yang
pas. Apakah Plampitan, Lemah Putro, atau Tambak Bayan,’ imbuh Bintang Putra.
Kenta menjelaskan, saat ini Surabaya berada pada masa transisi di antara beberapa visi masa depan. Satu yang pasti ialah tumbuh seperti kota besar di dunia. ’’Biasanya, untuk mewujudkan hal itu, perkampungan akan tergusur,’’ ungkap lelaki kelahiran Tokyo pada 1969 tersebut.
Megapolitan yang diharapkan bisa mengatasi masalah ternyata menjadi problem baru di kemudian hari. Sebab, megapolitan menjadi tak ramah terhadap warga yang tidak produktif. Saat Surabaya semakin sesak, pembangunan akan dilakukan di kota lain dan membuat Surabaya ditinggalkan dan menjadi kota mati.
Dia lantas menceritakan Kota Beppu di Prefektur Oita, Kepulauan Kyushu, Jepang. Kota yang ditemukan pada 1924 itu pernah berjaya karena memiliki sumber daya alam berupa hot spring atau kolam air hangat di dataran tinggi. Tidak lama kemudian, kota itu menjadi favorit dan langsung dibangun habis-habisan oleh pemerintah Jepang.
Namun, alam memiliki masa pakai tersendiri. Menurut Kenta, Beppu lantas berubah menjadi seperti kota mati karena tidak ramai lagi. Para pemuda mencari pekerjaan di luar Beppu yang dianggap memiliki potensi lebih untuk menghasilkan uang. Saat ini konon 80 persen penghuninya adalah orang-orang berusia
di atas 40 tahun.
Nah, menurut Kenta, Surabaya memiliki potensi untuk menjadi seperti Beppu. Kecuali jika kampung-kampung yang ada dipertahankan. Kenapa? Sebab, dia menilai Surabaya merupakan kota dengan jaringan kampung yang sangat besar. Selain itu, komposisi yang ada saat ini sudah tepat. ‘Perkampungan tersebar di beberapa wilayah dan mendukung pembangunan yang ada,’ terangnya.
Lulusan Tokyo University dan Cranbrook Academy of Art Amerika itu menjelaskan, kampung bisa menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan harga murah di berbagai sisi, seperti makanan atau tempat tinggal, jika dibandingkan dengan produk modern.
‘Banyak pekerja yang tinggal di kampung. Kalau lokasinya dekat dengan kantor, akan mengurangi kemacetan,’ paparnya. Di samping itu, dia menilai komposisi
perkampungan yang ada saat ini sudah tepat di beberapa wilayah. Misalnya Jalan Tunjungan.
Menurut tim OHS, kawasan tersebut sudah pas karena perkampungan ada di belakang pertokoan. Selain itu, kampung diperlukan saat orang sudah penat dari rutinitas dan modernisasi. ‘Kadang rindu akan masa lalu kerap muncul dan itu bisa diatasi oleh kampung,’ tuturnya. (*/c9/oni)
Sumber: JawaPos 04 April 2011