Universitas Surabaya (Ubaya) kembali unjuk keunggulan melalui kualitas para dosen yang ahli di bidangnya. Salah satunya adalah Prof. Elieser Tarigan, Ph.D., guru besar dalam bidang Renewable Energy yang saat ini turut menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Energi Terbarukan (PuSLET) Ubaya.
Ketertarikan Prof. Elieser terhadap energi terbarukan sudah dimulai sejak ia menempuh pendidikan sarjana di Program Studi Ilmu Fisika Institut Teknologi Sepuluh November dari tahun 1992 hingga 1996. Menyikapi isu krisis energi yang hangat sejak sekitar tahun 1970, Ia memilih mengangkat topik energi surya dalam tugas akhirnya. Setelah meraih gelar sarjana, ia mendalami energi surya melalui studi pascasarjana di European Solar Engineering School (ESES) Universitas Dalarna, Swedia.
Sebelum studi pascasarjana yang ia tempuh selesai, Prof. Elieser mendapat tawaran beasiswa penuh untuk melanjutkan studi S3 di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT) Thailand melalui program The Joint Graduate School of Energy and Environment (JGSEE). Studi tersebut ia selesaikan dengan penelitian terkait pemanfaatan energi surya dalam pengeringan produk pertanian.
“Tenaga surya dapat diubah menjadi energi listrik dan energi panas. Pengubahan menjadi energi listrik sudah saya dalami ketika studi di Swedia. Di Thailand, saya fokus dalam mengubah energi surya menjadi panas dalam pengeringan hasil pertanian. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan di Indonesia yang merupakan wilayah pertanian,” jelas Prof. Elieser.
Sekembalinya dari Thailand, Prof. Elieser menginisiasi pendirian sebuah pusat studi yang mengintegrasikan berbagai ilmu dalam mendukung energi terbarukan di Indonesia. Usul ini disambut baik oleh Ubaya dengan pendirian Pusat Studi Energi Terbarukan (PSET) pada tahun 2009 dengan Prof. Elieser sebagai ketuanya.
“Sebagai lembaga pendidikan, Ubaya memiliki inisiatif yang sangat baik karena sudah aware terkait isu, urgensi, dan peluang energi terbarukan. Dengan adanya PSET ini, Ubaya bisa berkontribusi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kerja sama dengan banyak pihak, termasuk pemerintah dan berbagai universitas dalam dan luar negeri,” paparnya.
Salah satu kerja sama yang dijalin PSET di bawah kepemimpinan Prof. Elieser adalah kolaborasi akademik dengan ESES Universitas Dalarna dari tahun 2009 hingga tahun 2017 berupa pertukaran dosen dan penelitian mahasiswa ESES di Ubaya. Selain itu, PSET yang kemudian berganti nama menjadi PuSLET (Pusat Studi Lingkungan dan Energi Terbarukan) terus bersinergi dengan berbagai instansi, seperti kedutaan besar Republik Ceko, UNESCO, dan pemerintah Indonesia.
“Dengan pemerintah, kami merancang Roadmap Energi Terbarukan Kota Surabaya hingga tahun 2050 dan Rancangan Umum Energi Daerah (RUED) yang telah disahkan menjadi Peraturan Gubernur (Pergub),” ucap Prof. Elieser.
PuSLET juga berkontribusi dalam penyusunan kurikulum perkuliahan terkait energi terbarukan di Ubaya, penguatan riset melalui publikasi ilmiah, pemberian edukasi dini kepada anak-anak, perancangan sistem PLTS untuk rumah tangga, serta pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan tenaga surya.
Seiring berjalannya waktu, Prof. Elieser menyadari urgensi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menunjang pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
“Sebagai bagian dari dunia pendidikan Indonesia, Ubaya harus mengambil peran dalam hal energi terbarukan ini. Untungnya, kita sudah memiliki concern dan tenaga pendidik yang mumpuni. Maka, kita membuka peminatan Renewable Energy di bawah payung Prodi Teknik Elektro Fakultas Teknik Ubaya,” ungkapnya.
Dengan berdirinya peminatan tersebut, kiprah Prof. Elieser di bidang energi terbarukan kian meluas dan membuka banyak peluang baru sebagai seorang akademisi.
“Saya bertanggung jawab dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus mendukung terwujudnya RUEN dan NZE (Net Zero Emissions) 2060 yang telah disusun pemerintah. Mari kita memberi kontribusi nyata dan mencapai target tersebut bersama-sama,” tandasnya. (tsy)