Dosen FK Ubaya Raih Gelar Doktor, Kembangkan Metode Deteksi Autoimun di Thailand humasubaya January 22, 2026

Dosen FK Ubaya Raih Gelar Doktor, Kembangkan Metode Deteksi Autoimun di Thailand

Fakultas Kedokteran Ubaya kembali membuktikan kualitasnya dari peraihan gelar Doktor oleh salah satu dosen, dr. Kevin Muliawan Soetanto, M.Sc., Ph.D. Dr. Kevin berhasil menyelesaikan studi S3 dari Faculty of Medicine Siriraj Hospital, Mahidol University, Thailand. Disertasinya berjudul “Study of Anti-Fc Epsilon RI IgG Autoantibodies and the Expression of Fc Epsilon RI and MRGPRX2 in Relation to the Severity of Chronic Spontaneus Urticaria”. 

 

Penelitiannya ini dilatarbelakangi oleh Chronic Spontaneus Urticaria (CSU), salah satu penyakit kulit berupa bentolan kemerahan atau pembengkakan di bawah kulit. Penyakit ini timbul tanpa penyebab yang jelas dan sangat mengganggu kualitas hidup penderitanya karena bersifat kronik atau terjadi lebih dari 6 minggu. Setelah diteliti lebih lanjut, ditemukan hasil bahwa CSU disebabkan oleh penyakit autoimun atau suatu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang diri sendiri. 

“Di kulit kita ada sel yang ketika pecah akan menimbulkan gatal, kemerahan, dan pembengkakan. Dalam kasus CSU, sistem kekebalan tubuh menyerang sel tersebut, sehingga pecah dan menimbulkan gangguan pada kulit,” jelas dr. Kevin. 

 

Didasari oleh ketertarikan yang besar dalam dunia imunologi, dr. Kevin memilih mengembangkan metode diagnostik imun tubuh yang lebih efektif untuk diterapkan di Indonesia.

 

“Kalau kita ke rumah sakit untuk memeriksa autoimun, panel lab yang bisa diperiksa belum banyak. Penelitian saya menghadirkan kebaruan dengan tidak menggunakan sel kulit dalam pemeriksaan, melainkan menggunakan sel darah. Jadi, mempermudah proses diagnostik penyakit pasien dengan hasil yang lebih lengkap,” ucapnya. 

 

Setelah berhasil menyelesaikan studinya, dr. Kevin berencana melakukan kolaborasi dalam pengembangan penanganan berbagai masalah kesehatan di masyarakat. Menurutnya, imunologi merupakan bidang yang sangat fleksibel, sehingga sangat memungkinkan untuk dielaborasi dengan berbagai bidang medis lainnya. 

 

“Saat ini, saya sedang dalam proyek kolaborasi dengan dokter spesialis farmakologi klinik untuk mengembangkan metode diagnostik alergi obat, bersama dokter spesialis mikrobiologi untuk meneliti mengenai microbiome, dan dokter spesialis patologi anatomi dalam penelitian tentang kanker paru,” tuturnya. 

 

Tidak hanya kolaborasi di Fakultas Kedokteran Ubaya, dr. Kevin turut bekerja sama dengan beberapa fakultas dan unit di Ubaya dalam pengembangan pangan fungsional bagi lansia. Kolaborasi tersebut melibatkan Fakultas Teknobiologi, Fakultas Farmasi, Fakultas Psikologi, Center of Aging Wellness, Ubaya LIFe, dan PUI Pasdeg. 

 

“Penelitian itu harus ada manfaatnya ke masyarakat, tidak berhenti di laboratorium saja. Karena kesuksesan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa mengaplikasikan ilmu untuk kebermanfaatan umat manusia,” tutup dr. Kevin. (tsy)