Dosen FK Ubaya Raih Gelar Doktor, Teliti Hipertensi Arteri Pulmonal pada Anak humasubaya January 2, 2026

Dosen FK Ubaya Raih Gelar Doktor, Teliti Hipertensi Arteri Pulmonal pada Anak

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya, dr. Agus Cahyono, Sp.A. berhasil menyelesaikan studi lanjut S3 di Ilmu Kedokteran Universitas Airlangga. Gelar doktor resmi disandang pada 25 November 2025. 

Dr. Agus menyelesaikan studi doktoralnya dengan disertasi berjudul “Pengaruh Sildenafil dan Metformin terhadap Kadar Endothelin-1, TNF-α, ERK1/2, Proliferasi Fibroblast, Proliferasi Sel Otot Polos Arteri Pulmonal, Tebal Penampang Arteri Pulmonal, dan Tekanan Arteri Pulmonal pada Tikus Model Hipertensi Arteri Pulmonal”.

Pemilihan topik ini dilatarbelakangi fenomena masalah jantung pada anak, terutama hipertensi arteri pulmonal, yang masih belum menjadi prioritas utama di Indonesia. “Padahal, risiko untuk mengalami penyakit ini tinggi karena banyak penyakit jantung anak yang tidak terdeteksi dini dan tidak mendapatkan terapi yang layak,” ujarnya. 

Pengerjaan disertasi yang ditempuh selama 2 tahun 11 bulan tidak lepas dari tantangan. Kendala utama yang dialami dr.Agus adalah peralatan penelitian yang sulit didapatkan di Indonesia. Banyak reagen (pereaksi kimia) yang harus didatangkan dari luar negeri. 

“Teknis penelitian yang walaupun sulit dikerjakan, ternyata bisa dikerjakan setelah menemukan cara yang tepat. Hal  tersebut bisa ditemukan melalui riset dan ketekunan mencoba setelah delapan bulan,” imbuhnya. 

Istri dan anak-anak menjadi penyemangat terbesarnya dalam menyelesaikan disertasi. Selain itu, peran peran promotor dan kopromotor yang sangat fasilitatif membantu menyelesaikan studi tepat waktu. Selain itu, peran sejawat dalam memberikan dukungan, serta pimpinan fakultas maupun universitas yang memberikan izin dan keleluasaan sangat membantu penyelesaian studinya.

Ke depan, ia akan mengembangkan penelitian pada manusia setelah temuan pada hewan coba menunjukkan hasil yang positif. “Semoga, di masa mendatang, lingkungan riset di Indonesia jauh lebih baik dalam hal pendanaan, alat, dan reagen sehingga para peneliti bisa lebih fokus pada hal yang esensial,” pungkasnya. (el)