Dekan FIK Ubaya Terima Penghargaan Ergonomi Lingkup Asia humasubaya December 26, 2025

Dekan FIK Ubaya Terima Penghargaan Ergonomi Lingkup Asia

Prof. Ir. Markus Hartono, S.T., M.Sc., Ph.D., CHFP, DTPC, IPU, ASEAN Eng., GRI CSP menerima penghargaan The ACED Fellow Award dari Asian Council on Ergonomics and Design (ACED). Penghargaan ini diberikan kepada profesional terkemuka yang telah memberikan kontribusi berkelanjutan dalam pengembangan serta penerapan ergonomi dan desain. Penghargaan diserahkan di Beijing oleh Ketua ACED, Frederic Tey dan Ketua International Ergonomics Association (IEA), Prof. Andrew Thatcher pada Jumat (31/10/2025). 

Prof. Markus menuturkan, pemilihannya sebagai salah satu penerima ACED Fellow Awards berkaitan erat dengan kontribusinya yang kompleks dan berkelanjutan di bidang ergonomi. Sebelum menjadi anggota ACED, sudah menggeluti bidang ergonomi sejak masih menempuh pendidikan sarjana. 

“Pada tahun 2000, saya menyelesaikan skripsi dengan topik ergonomi dalam pengukuran beban kerja sebuah pabrik. Di tahun yang sama, saya mulai mengajar sebagai dosen dan bergabung dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI),” jelas Dekan Fakultas Industri Kreatif Ubaya ini.

Setelah lebih dari 25 tahun, kiprah Prof. Markus dalam bidang ergonomi terus berlanjut.  Selain menjadi dosen dan praktisi ergonomi di Ubaya, Prof. Markus merupakan salah satu pemegang Certified Human Factors Professionals (CHFP) yang dikeluarkan oleh Board of Certification in Professional Ergonomic (BCPE) Amerika Serikat yang hanya dimiliki oleh 3 orang di Indonesia. Saat ini, Guru Besar Prodi Teknik Industri di bidang Ergonomi dan Kansei Engineering ini juga menjabat sebagai Anggota Dewan Pakar Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI). 

Setelah menerima penghargaan sebagai ACED Fellow, Prof. Markus mengemban tanggung jawab baru, baik secara personal maupun profesional. Sebagai seorang Anggota Dewan Pakar PEI, penghargaan ini menjadi pemecut atas kondisi sosial masyarakat Indonesia yang belum memiliki kesadaran yang baik terkait penerapan ilmu ergonomi. 

“Padahal, ergonomi itu sejatinya dari dan untuk manusia, tujuannya untuk memudahkan hidup manusia. Tetapi, sosialisasi dan kajiannya di Indonesia masih sangat kurang, sehingga berpengaruh terhadap tingkat produktivitas yang juga sangat rendah. Jadi, ini menjadi salah satu tugas besar yang saya emban,” papar Prof. Markus.

Di tengah realitas tersebut, Prof. Markus memiliki harapan akan masa depan ergonomi dalam memudahkan kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun belum dikenal baik secara luas, pemerhati ilmu ini mengalami peningkatan yang signifikan beberapa waktu terakhir, khususnya dari akademisi dan mahasiswa yang akan menjadi pemimpin di masa depan. 

“Penghargaan ini saya jadikan penyemangat agar memberikan kontribusi yang lebih berdampak, khususnya dalam mendukung Ubaya sebagai sebuah institusi kampus yang berdampak,” ujarnya. Prof. Markus berencana menggalakkan kolaborasi lintas ilmu dalam perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi agar kajian-kajian ergonomi dapat dikenal lebih luas dalam pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. (tsy)