Bahas Digital Bank Bersama FBE Ubaya samueldim November 11, 2021

Bahas Digital Bank Bersama FBE Ubaya

Ilustrasi: freepik.com (@vectorjuice)

Kamis, 21 Oktober 2021 Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Surabaya (FBE Ubaya) kembali mengadakan acara CEO Talks bertajuk “Digital Bank: Risk and Compliance System”. Acara ini dilaksanakan guna mendekatkan teman-teman akademik dengan dunia nyata supaya bisa lebih cepat beradaptasi di kampus dan berkarya. FBE Ubaya mendatangkan narasumber yang berkompeten di bidangnya yakni Imelda Triyanti Putri Rajamin selaku Vice President of Citibank Indonesia.

Imelda membuka diskusi dengan membahas aktivitas perbankan. “Pada waktu pandemi, kita dituntut untuk membuat digital bank karena adanya ketentuan baru seperti himbauan tetap di rumah,” tuturnya. Dengan begitu, Imelda mengatakan bahwa transformasi di bank ini membuat orang bisa melakukan aktivitas perbankan menggunakan laptop atau handphone sembari tetap di rumah. “Pada dasarnya itu mempermudah kita saat pandemi, supaya tidak perlu datang ke bank mengantri. Berbeda dengan digital yang bebas diakses kapan saja,” lanjutnya. Namun, Imelda menambahkan bahwa tetap ada beberapa hal tertentu yang membuat kita perlu datang ke bank seperti transfer dengan jumlah yang besar.

Sayangnya, digital banking tidak luput dari risiko seperti sistem eror dan keamanan. Menurut Imelda, sistem eror dari segi perbankan memang bisa terjadi dan perlu dilaporkan agar dapat diperbaiki. “Sedangkan keamanan sudah banyak orang yang pintar melakukan hacking atau cyber crime,” jelasnya. Dengan begitu, Imelda menegaskan untuk tidak memberi One Time-Password (OTP) pada siapapun. “Sekarang banyak yang telepon dari bank apa dan meminta OTP. Jadi perlu dikasih edukasi juga pada sekitar untuk tidak pernah memberi OTP mereka,” tekannya.

Pemaparan materi menarik banyak pertanyaan dari peserta, salah satunya Hery. “Sejauh mana anak ekonomi perlu belajar teknologi informasi (IT) di zaman digital ini kalau mau berkarir di dunia perbankan?” tanyanya. Imelda menjawab bahwa tidak semua orang di perbankan paham dengan IT. “Hal yang penting itu logical thinking. Jadi kita belajar dengan memahami bukan menghafal,” jawabnya. Dengan begitu, ketika bertemu dengan seorang yang mengetahui IT kita bisa bertanya supaya mendapat informasi baru. (et)