Menguak Buku Spiritual Selling Karya Jenu Widjaya Tandjung Tumbuhkan Loyalitas Pelanggan Dengan Produk Ramah Lingkungan


  • 05-03-2009
  • Fadjar Efendy Rasjid
Salesman bukan lagi sekadar pekerjaan yang berorientasi pada pencapaian target yang muaranya pada kenaikan penjualan produk atau jasa. Salesman juga bisa menjadi agen spiritual. Lewat konsep spiritual selling yang ditulis Jenu Widjaya Tandjung, dosen marketing ini ingin menyampaikan bahwa kenaikan penjualan akan terjadi otomatis jika semua salesman bisa menerapkan konsep-konsep spiritual. (Risang Anom Pujayanto rian_om@yahoo.com)

“SALESMAN Now, Entrepreneur Tomorrow,” demikian ucap Jenu Widjaya Tandjung MM CPM (AP) kepada Radar Surabaya saat hendak memaparkan dua buku pemasaran karyanya yang kini sudah menasional. Kedua buku itu berjudul Spiritual Selling: How to Get and Keep Your Costumers (SS), dan Menjadi Penjual berMental Harimau: 49,5 Cara Menjual untuk Mencapai Target Penjualan (MPMH).

Kedua buku karya dosen pemasaran di jurusan manajemen Universitas Surabaya ini termasuk fenomenal. Keduanya diluncurkan nyaris bersamaan pada 2008 lalu. SS dicetak pada Maret 2008, dan MPMH pada Oktober 2008. Sekarang, kedua buku itu sudah menasional.

Sebenarnya, masih ada tiga buku tulisan Jenu lainnya. Salah satunya yang cukup dikenal adalah Costumers Happy: Jurus Jitu Membuat agar tenaga tidak terbuang percuma dan Pelanggan Loyal. Hanya saja, ketiga buku itu cakupannya masih lokal.

Menurut Jenu, meski SS dicetak lebih dulu, namun MPMH merupakan dasar penjualan yang harus dipahami lebih dulu oleh pembaca SS. Pasalnya dalam buku MPMH, dipaparkan bahwa kepintaran, taktik, kesiapan, keterampilan, dan memahami suasana pasar, merupakan hal penting yang mesti dipahami salesman. “Bukannya menghalalkan segala cara lantas membohongi konsumen,” kata alumnus S1 Ekonomi Ubaya dan S2 Universitas Brawijaya (UB) Malang itu.

Menurut Jenu, selama ini sebagian besar salesman bergaya Rambo. Artinya, segalanya ditembak. Padahal, sesuatu yang tidak mempunyai prospek hanya akan menghasilkan kesia-siaan. “Seharusnya mereka bertindak seperti sniper, agar tenaga tidak terbuang percuma dan tepat sasaran,” tutur ketua Laboratorium Marketing FE Ubaya dan Sekretaris II Indonesia Marketing Association (IMA) Jatim ini.

Berbeda dengan MPMH yang bercerita tentang pembentukan pembentukan spiri-tual quotient (SQ). Intinya, buku SS ini lebih menekankan tentang tata cara mempertahankan pelanggan. Dengan menerapkan konsep marketing yang cinta lingkungan, menghormati prinsip-prinsip kemanusiaan, maka pelanggan akan lebih menghargai brand atau image produk, dan selanjutnya tumbuh loyalitas pada produk tersebut.

Di Inggris, konsep SS ini dapat dicontohkan melalui toko The Body Shop,” ujarnya. Untuk menjual sebuah produk The Body Shop tidak melakukan promosi besar-besaran. Namun, The Body Shop justru menawarkan konsep-konsep produknya yang ramah lingkungan, tidak menjual hewan untuk kelinci percobaan dan sebagainya. Dengan SS, pria kelahiran Surabaya ini mengharapkan seluruh salesman memiliki jiwa kejujuran, ketulusan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. “Sehingga, stigma yang selama ini melekat pada profesi sales harus diubah. Karena salesman bukan lagi pilihan akhir ketika tidak ada pekerjaan lain,” ungkapnya.

Dikutip dari Radar Surabaya, 5 Maret 2008