Selekasnya Menata Hati


  • 02-10-2018
  • Fadjar Efendy Rasjid

Idealnya, tugas pengasuhan diemban ayah dan ibu. Namun, kadang ada alasan yang memaksa ayah dan ibu berpisah tanpa bisa bertemu lagi. Seberapa besar pengaruhnya kepada anak?

DEFINISI orang tua tunggal merujuk kepada ayah atau ibu yang mengasuh sendiri anaknya. Tanpa didampingi pasangannya. ’’Secara hukum, single parent berarti orang tua yang kehilangan pasangannya. Baik karena meninggal maupun bercerai,’’ ungkap psikolog Dr Elly Yuliandari MSi.

Dia menyatakan, dalam kondisi itu, pengasuhan anak tidak ideal. Sebab, ayah dan ibu mengemban peran berbeda. ’’Dalam mengasuh anak, masing- masing akan punya ciri khasnya,’’ kata Elly.

Selain itu, anak banyak belajar peran gender dari sana. Terutama pada anak usia 0–12 tahun yang memahami konsep dari contoh konkret. Anak perempuan bakal berkaca pada ibunya, sedangkan anak laki-laki pada ayahnya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya itu menuturkan, anak-anak yang lebih besar cenderung lebih siap karena mampu berpikir kritis. Di samping itu, anak umumnya mampu belajar dari luar lingkungan keluarga. ’’Tapi, anak yang kehilangan salah satu orang tuanya tak lantas akan terus kehilangan. Figur laki-laki maupun perempuan panutan bisa dari mana saja,’’ jelas Elly.

Menurut dia, anak bisa ’’berkaca’’ pada orang-orang di lingkaran keluarga dekat. Misalnya, tante atau nenek. Dari luar lingkungan tersebut, anak biasanya mengagumi guru di sekolah. Elly menilai figur tersebut merupakan model. ’’Tak lantas menggantikan sosok orang tua kandungnya,’’ paparnya.

Elly menjelaskan, anak-anak yang dibesarkan orang tua tunggal tidak berbeda dengan mereka yang diasuh orang tua lengkap. Dengan catatan, anak dan orang tua memiliki hubungan yang solid. ’’Setelah perpisahan, orang tua harus mampu move on. Jangan sedih, kecewa, atau marah berlarut-larut,’’ tutur alumnus Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, tersebut.

Psikolog Linda Hartanti SPsi menjelaskan, keberhasilan ayah atau ibu ditentukan dari dirinya sendiri. Mereka harus lebih dulu menata pikiran dan hati. ’’Jangan anaknya disuruh tegar, tapi ibunya masih mangkel. Orang tua harus mampu ’pulih’ lebih dulu dari perpisahan,’’ tuturnya.

Linda, yang juga seorang single parent setelah suaminya meninggal, menambahkan bahwa mood orang tua bisa memengaruhi anak. Bila orang tua optimistis anak pun akan ikut memiliki pemikiran tersebut. Orang tua perlu terbuka kepada anak. Termasuk saat menjelaskan alasan perceraian. ’’Tidak perlu membohonginya sekalipun anak belum dewasa,’’ ungkap psikolog SLB Bina Mandiri tersebut.

Apalagi menyampaikan alasan dengan emosional. Sebab, hal itu bisa menghapus respek anak kepada orang tua. Si kecil bisa jadi sakit hati karena dibohongi orang yang mereka percaya. Jika dijelaskan dengan baik, Linda menyebut bahwa anak mampu menerima. ’’Tidak benar kalau anak dari orang tua yang berpisah selalu bermasalah,’’ tegasnya.

Lulusan Universitas Surabaya itu menegaskan, yang paling penting, komunikasi antara single parent dan anaknya lancar. Kedekatan tersebut membantu anak dan orang tua sama-sama move on. Jadi, mereka bisa lebih kuat. ’’Enggak bagus juga kalau keluarga merasa nelangsa atau berpikiran, ’Enggak ada hari esok’,’’ kata Linda.

Dia menceritakan, emosi tinggi wajar dialami orang tua maupun anak pasca berpisah. Linda mengenang, ketika suaminya wafat, dirinya dan putra semata wayangnya shock. Sedih luar biasa. Menurut dia, periode itu alami. ’’Namun, tidak perlu lama-lama sedih. Orang tua perlu ingat, ada anak yang punya masa depan yang panjang,’’ ujarnya.

Dia menyatakan, jika dihadapi dengan tabah, perpisahan justru bakal menjadi perekat hubungan orang tua tunggal dengan anak. (fam/c14/nda)

Jawa Pos, 28 September 2018

Update: 02-10-2018 | Dibaca 2397 kali | Download versi pdf: Selekasnya-Menata-Hati.pdf