Optimalisasi Dukungan Orang Tua Terhadap Mahasiswa Di Awal Tahun Perkuliahan


  • 01-03-2022

Mahasiswa baru seringkali menghadapi tantangan ketika baru pertama beradaptasi dalam dunia perkuliahan. Ditambah, situasi pandemi yang memaksa mereka untuk belajar dari rumah memunculkan banyak masalah baru. Masalah utama yang sering terjadi adalah konflik antara orang tua dan anak.

Konflik itu tak jarang menjadi penghambat mahasiswa untuk dapat melakukan adaptasinya di kuliah secara maksimal. Sehingga perlu adanya peran orang tua dalam memberi dukungan yang tepat sesuai kebutuhan anak. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, Dr. Soerjantini Rahaju, Dra., M.A., Psikolog—atau yang akrab disapa Bu Ninuk—memberikan penjelasan mendalam mengenai hal tersebut. Simak wawancara kami berikut ini!

 

Q: Sebetulnya, apa tantangan yang sering dialami oleh mahasiswa baru di awal tahun perkuliahan—khususnya saat pandemi?

A: Mereka kan masih masuk di tahun pertama semester baru, jadi proses adaptasinya sangat besar. Ditambah pandemi, adaptasinya makin lebih-lebih. Semua kegiatannya terpusat di rumah. Kalau rumahnya oke, tidak masalah. Tapi, kalau di rumah itu bermasalah? Bayangkan, dia berada di situasi yang tidak nyaman.

 

Q: Iya, Bu. Berarti orang rumah punya peran dalam proses adaptasi itu ya, Bu?

A: Benar. Apalagi, karakteristik dari mahasiswa semester satu ini masih emerging adulthood. Dia itu dikatakan remaja sudah ketuaan, dikatakan dewasa juga belum. Emerging adulthood ini problematikanya khas banget. Salah satunya adalah kurangnya stabilitas dalam segala sesuatu. Khas lainnya lagi adalah self-focus. Dia merasa tidak terlalu bertanggung jawab pada orang tua. Tapi, dia juga belum ada kewajiban ngurusin orang lain. Karakteristik-karakteristik seperti ini membuat konflik dengan orang tua akan semakin besar.

 

Q: Berarti kalau boleh dirangkum sebenarnya ada faktor dari mahasiswa dan orang tua ya?

A: Iya. Jadi ada dua hal disini, faktor mereka masih mahasiswa baru dan harus beradaptasi dengan karakteristik mereka. Lalu, situasi pandemi yang tidak menguntungkan baik bagi orang tua maupun mahasiswa.

 

Q: Baik. Lalu, dukungan orang tua seperti apa yang tepat?

A: Tadi kan sudah saya sampaikan bahwa mereka itu sedang dalam masa emerging adulthood. Jadi, menurut saya, ketika dia jadi mahasiswa jangan dilepas sama sekali. Tetap harus ada pemantauan. Tetapi, pemantauan ini juga jangan seperti anak sekolah. Pemantauan yang tepat adalah mengenali dan memahami aktivitas serta tuntutan di dunia barunya (dunia kuliah). Sehingga, orang tua bisa menjadi teman diskusi, bukan tukang interogasi.

 

Q: Nah, apa yang membuat dukungan orang tua ini terhambat?

A: Salah satunya ya tadi. Orang tua kurang paham terhadap karakteristik perubahan-perubahan perkembangan dari putra-putrinya. Mereka dianggap masih anak-anak. Kedua, baik mahasiswa maupun orang tua tidak punya pola komunikasi yang baik. Itu juga jadi hambatan. Begitu juga kalau si mahasiswanya tidak percaya atau ada amarah yang tidak keluar. Mereka merasa ditekan dan dibanding-bandingkan. Itu kan jugaproblem yang menghambat komunikasi. Terampil dalam berkomunikasi itu kan justru harus terampil dalam mendengarkan dulu, baru bisa bicara. Hambatan lainnya itu orang tua terlalu sibuk juga bisa.

 

Q: Berarti ada keterkaitannya antara kesejahteraan di rumah dengan kelancaran mahasiswa menghadapi kuliah ya?

A: Iya. Apalagi di masa pandemi dimana akses dia dengan kampus dan teman-teman menjadi agak terbatas dan berjarak.

 

Q: Baik. Kalau begitu, apa pesan Ibu untuk orang tua agar dapat mendukung anaknya dengan optimal?

A: Untuk orang tua, anaknya yang menjadi mahasiswa perlu diperlakukan secara lebih dewasa karena itu keinginan dan kebutuhan mereka. Nah, salah satu bentuk memperlakukan mereka secara dewasa, yaitu dengan menjadi teman diskusi. Keputusan tidak diambil secara otoriter, tapi jadikan keputusan bersama. Namun, tetap harus ada edukasi, pemantauan, dan jadi teman diskusi bukan tukang interogasi saja.

 

Q: Kalau untuk teman-teman mahasiswa yang masih berjuang untuk adaptasi nih Bu?

A: Kalau mahasiswanya, biasanya ‘kan kalau menghadapi hal baru butuh adaptasi. Nah, adaptasi itu perlu waktu. Selama rentang waktu itu performa bisa menurun. Bagaimana caranya supaya hal ini tidak berlarut-larut, maka harus secepatnya menemukan jalan keluar dari segala hal yang baru. Jangan waktu tertekan malah melakukan hal-hal yang sifatnya pelarian. Nanti jadinya adiksi. Tantangan adaptasi baru itu harus dihadapi.

 

Demikian hasil wawancara kami dengan Bu Ninuk tentang optimalisasi dukungan orang tua terhadap mahasiswa. Semoga wawancara ini dapat menambah wawasan baik bagi mahasiswa maupun orang tua untuk dapat saling mendukung dan bekerjasama dalam menjalani kegiatan perkuliahan. Sehat-sehat selalu ya semuanya! (el)

Update: 01-03-2022 | Dibaca 1222 kali | Download versi pdf: Optimalisasi-Dukungan-Orang-Tua-Terhadap-Mahasiswa-Di-Awal-Tahun-Perkuliahan.pdf