Kita Memiliki Kontribusi Atas Terjadinya Keberhasilan Dan Kegagalan : Tinjauan Teori Atribusi


  • 29-12-2012

Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bangga bila berhasil dan menilai bahwa keberhasilan tersebut sebagai hasil kerja kerasnya merupakan hal biasa. Tapi bila merasa tidak berkontribusi atas kegagalan yang dialami dan menyalahkan orang lain sebagai penyebab kegagalan itu baru perlu dipertanyakan. Sebagai contoh kasus nyata yang penulis temui di lingkungan perkuliahan : Seorang mahasiswa menyalahkan teman kelompoknya ketika nilai kelompok mendapatkan nilai jelek karena merasa temannya kurang berkontribusi. Begitu juga ketika ia mendapatkan nilai jelek di mata kuliah karena merasa tidak mendapatkan materi dosen karena menurutnya kelalaian asisten. Sekadar fakta bahwa mahasiswa tersebut telah dianggap dan merasa dirinya sebagai mahasiswa yang pandai. Saat mendapatkan nilai yang tidak memuaskan maka akan mengejar dan mendapatkan konfirmasi penyebab nilainya jelek. Setelah jelas-jelas mendapatkan nilai yang kurang memuaskan tidak ada kesalahan penilaian maka mulai mencari-cari kambing hitam.

Di kelas mahasiswa tersebut, semua mahasiswa tidak mendapatkan satu materi dosen. Dalam ujian terdapat beberapa materi dosen yang diujikan, ketika mahasiswa tersebut mendapatkan nilai di bawah 60 dan masih terdapat mahasiswa lain di kelas yang sama mendapatkan nilai di atas 80 maka pertanyaannya apakah karena memang satu materi dosen menyumbang penilaian sampai 50% dari total nilai maksimal? ketika mahasiswa yang mendapatkan nilai di atas 80 juga tidak memiliki materi yang memang tidak diberikan dosen namun masih mampu mencapai nilai hampir maksimal kira-kira penjelasannya bagaimana?

Analisis berikutnya ketika di mata kuliah lain mahasiswa tersebut mendapatkan nilai di bawah 50 karena papernya memang tidak tepat, kurang rajin dalam tutorial paper, dan tidak mengikuti feedback dosen. Pertanyaannya wajar atau tidak bila kemudian nilai kelompok menjadi rendah? Ketika mahasiswa menyalahkan temannya sebagai penyebab tanpa melihat kontribusinya sendiri sebagai penyebab masalah maka tidak wajar bila dilakukan.

Berdasarkan sudut pandang psikologi, perilaku yang ditampilkan mahasiswa dalam kasus yang dicontohkan penulis termasuk pada atribusi. Mahasiswa tersebut menilai keberhasilan sebagai atribusi internal. Maksudnya keberhasilan karena penyebabnya berasal dari mahasiswa itu sendiri yang merasa dia telah belajar, dia telah memahami, dan dia adalah mahasiswa yang pandai sehingga pantas mendapatkan nilai memuaskan. Namun saat ia mengalami kegagalan, maka atribusi yang dimiliki adalah eksternal. Maksudnya kegagalan yang dia alami disebabkan faktor di luar dirinya, seperti asisten yang lalai memberikan materi dosen, temannya yang kurang berkontribusi dalam tugas kelompok, dan faktor-faktor eksternal lain yang sifatnya dicari untuk menutupi kekurangan diri.

Refleksi yang dapat dipetik, setiap keberhasilan atau kegagalan kita memiliki kontribusi atas terjadinya keberhasilan atau kegagalan. Kita harus menyadari itu, sehingga keberhasilan yang dicapai tidak membuat kita menjadi takabur, dan merasa telah menjadi lebih baik dari orang lain. Begitu juga ketika mengalami hambatan, tidak selalu menyalahkan orang lain sehingga membuat kita tidak belajar memperbaiki kekurangan diri. Harus dievaluasi secara bijaksana dimana dan seberapa besar kontribusi kita terhadap masing-masing situasi yang terjadi, sehingga kita dapat berperilaku secara tepat. Mari kita bertanggungjawab.