Asyiknya Para Dewasa Bermain Kereta Api Model, Rela Rogoh Kocek Belasan Juta Rupiah Untuk Mengoleksi


  • 10-04-2012
  • Fadjar Efendy Rasjid

Kereta Api Model (Kamod) bukan sekedar mainan. Penggemarnya juga bukan hanya anak-anak. Bahkan karena harganya yang tidak murah, penghobinya justru kebanyakan datang dari orang-orang dewasa.

 
UMI HANY KASAH
Wartawan Radar Surabaya
 
Namun bukan berarti komunitas para penggila kereta api model ini mati. President Indonesian Train Model (ITMC) Kunto Wibisono Siswowardojo penggemar Kamod di Indonesia justru semakin meningkat. Ini jika dibandingkan pada tahun 2007 lalu, dimana anggota ITMC hanya beberapa orang saja. Kemudian menjadi 302 orang tahun 2012 ini orang.
 
"Kebanyakan karena menggemari kereta. Karena itu mereka ingin terus melihatnya, tanpa perlu ke stasiun," kata Kunto, ketika ditemui di sela-sela Gatering ITMC di Universitas Surabaya (Ubaya), kemarin 7/4.
 
Karena kegemaran itu tidak heran jika akhirnya seseorang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk miniatur kereta api dan maket lay-out-nya. Satu buah rangkaian miniatur kereta bisa dibandrol sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 15 juta. "Harga itu bisa hanya maket lay out rel dan kotanya atau hanya lokomotifnya saja," jelasnya.
 
Dipaparkannya, kereta buatan Amerika dengan mesin analog sederhana bisa dimiliki dengan harga Rp 300 ribu. Sedangkan dengan model yang lebih modern bisa dibeli seharga Rp 1,5 hingga Rp 2 juta. Bahkan ada juga yang mencapai belasan juta rupiah.
 
Sebagai penggemar, Kunto menyatakan masih ada kendala untuk mengoleksi. Di antaranya yaitu soal bahan baku kereta dan mesin yang belum diproduksi secara massal. Mesin umumnya didatangkan dari Prancis dan Amerika Serikat.
 
"Untuk di Indonesia, umumnya pabrik miniatur kereta ini ada di Surabaya, Jakarta dan Bandung," jelasnya.
 
Menurutnya, salah satu kendala kurang majunya kereta api motif yakni kurangnya teknologi yang ada di Indonesia.
 
Aldiano Chemical Advisor PT Rannova Agen 3D Printing di Indonesia menambahkan salah satu alat yang bisa memperbaiki atau membuat kereta api model yakni 3D Printing.
 
"Di Eropa, alat ini dikenal sejak 10 tahun lalu. Sementara Indonesia masih ketinggalan dalam menggunakan mesin cetak tiga dimensi. Bahkan baru beberapa bulan, alat tersebut mulai dikenal," jelasnya. Tapi meski demikian, lanjut Aldino, sejumlah industri seperti rokok, furnitur dan speaker sudah memanfaatkan 3D Printing. "Sekarang sudah cukup banyak yang menggunakan. Seperti casing rokok, furniture dan speaker," ujarnya.
 
Menurut ia, dengan menggunakan desain sebuah karya bisa divisualkan secara tiga dimensi. Waktu dan biaya yang diperlukanpun jauh lebih efisien.
 
Dibandingkan dengan pembuatan manual, mesin 3D Printing bisa menghemat ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Tak hanya itu, waktu pengerjaannya pun cukup cepat. Selain itu, bila terjadi kesalahan, tinggal direvisi ulang. Hanya perlu revisi desain di komputer dan mengaturnya di mesin 3D Printing. "Hasilnya pun bisa langsung terlihat. Apalagi secara riil, dari sisi ketebalan dan presisi mesin 3D lebih mendekati aslinya," jelasnya. (*/het)
 
Sumber: Radar, 7 April 2012
 
 
Belajar Desain Miniatur KA
 
SURABAYA – Mahasiswa Jurusan Desain dan Manajemen Ubaya kemarin (7/4) menimba ilmu dari para penghobi miniatur kereta api (KA) yang tergabung dalam Indonesia
Train Modelling Community (ITMC). Para mahasiswa itu diajari cara mendesain miniatur KA. Mereka juga diajari cara memasarkan hasil desain tersebut.
 
Yuwono Budi Pratikto, ketua Program Studi Manufaktur dan Desain Manajemen Produk Ubaya, menjelaskan, acara itu bertujuan meningkatkan ide kreatif mahasiswa di
bidang pemodelan. "Ini penting supaya mahasiswa terlibat langsung tentang bagaimana membuat sebuah produk desain," tegasnya.
 
Jurusan yang terdaftar pada 2007 itu rutin mengadakan acara pembelajaran bersama dengan orang-orang di dunia desain dan pemasaran. "Mahasiswa harus kreatif
membuat dan memasarkan karya mereka," tambah Yuwono.
 
Mendesain sebuah karya memang tidak gampang. Itu tidak bisa didapat hanya dengan materi dalam ruang perkuliahan. "Mahasiswa perlu terlibat langsung," tegas Yuwono.
 
Kunto Wibisono, wakil dari ITMC, menjelaskan beberapa teori untuk memulai mendesain miniatur kereta. "Harus ada rancangan ide yang matang," ungkap Kunto.
 
Ide tersebut tidak hanya berupa visualisasi, namun juga bagaimana memperkenalkan dan memasarkan ide itu. "Dua faktor tersebut yang perlu dipikirkan saat memulai proses kreatif," ujarnya.
 
Membuat desain miniatur kereta memang tidak murah. Karena alasan itu, Kunto berharap, mahasiswa lebih cerdas.’Ketikaberhasilmembuat, jangan hanya dipajang, harus ada nilai ekonomisnya, jelas Kunto. (zal/c7/oni)
 
Sumber: Jawa Pos, 8 April 2012