Tidak hanya pemerintah pusat yang salut terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan Surabaya sehingga membuahkan piala Adipura. Dunia juga angkat topi atas kerja keranya. Organisasi dunia bidang lingkungan PBB, Senin (25/6) menganugerahi award of excellent bidang pengelolaan lingkungan.

Surabaya memang tidak sebersih Singapura. Namun semangat untuk menjadi kota yang bersih dan nyaman dengan melibatkan partisipasi masyarakat, dinilai tidak ada yang menandingi.

 Singapura sendiri belum mampu mencontoh ingar bingarnya partisipasi yang membuahkan penghargaan PBB bidang lingkungan untuk Asia Pasific itu. Hanya sebuah kota kecil di Thailand yang sanggup menyamai Surabaya sehingga mendapat penghargaan serupa, awal pekan ini.

Entah kapan PBB turun untuk menilai kebersihan Surabaya. Bahkan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemkot, Tri Rismaharini, mengaku kaget saat fakta pengelolaan sampah di Surabaya dipamerkan PBB untuk Asia Pasifik di Kota Kitakyusu Jepang, 25 Juli 2007.

“Awalnya kami diundang untuk berbicara dalam seminar lingkungan di Kitakyushu. Ternyata diberi penghargaan,” kata Risma kepada Surya, Kamis (28/6). Acara itu digelar PBB bersama Institute for Global Environmental Strategies (IGIS), sebuah perguruan tinggi bidang lingkungan yang berpusat di Singapura.
Ketika nama Surabaya disebut, Risma seperti tidak percaya. Wali Kota Bambang DH yang ikut hadir di Kitakyusu juga menduga pengumuman itu hanya godaan ringan untuk mencairkan suasana. Nyatanya piala yang bernama award of excellent itu nyata-nyata diserahkan PBB.

Risma bertambah bingung dengan jenis perhargaan terbaik itu. Apanya yang dinilai dari Surabaya yang masih kerap dijumpai sampah ringan di sudut kota, sampah kali yang semakin terlihat jika musim kemarau seperti saat ini. Sampah pasar juga berserakan sebelum petugas kebersihan membereskan pada setiap siang. Padahal Singapura yang seluruh sudut kotanya nyaris tidak ditemukan kotoran, tidak mencicipi penghargaan serupa.

Ternyata bukan hasil yang dihargai PBB, namun proses memerangi sampah berwawasan lingkungan yang melibatkan banyak organ masyarakat itulah yang membuat dunia salut. “Surabaya ternyata mampu menggerakkan partisipasi masyarakat dengan mengelola sampah menjadi barang berharga,” ujar Risma. Dinas Kebersihan telah berhasil menggandeng swasta, merangkul akademisi dengan Pusdakota Ubaya, bahkan organisasi asing, KITA Jepang.

Pengelolaan sampah mandiri telah menjadi demam di sudut-sudut Surabaya. Saat ini di setiap kampung, para pemuda dan ibu-ibu rumah tangga berlomba menjadi yang terbaik mengelola sampah. Kampung yang semakin sedikit menyetor sampah ke Lokasi pembuangan akhir (LPA) dan mampu menyulap sampah menjadi sebanyak mungkin uang adalah impian.

Pola pengelolaan sampah yang bersumber dari rumah tangga dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian diolah di sebuah zona modulasi melalui kegiatan pengomposan atau kegiatan daur ulang lainnya. Ini telah menjadi gerakan yang masif.

Selain masyarakat, semua pihak telah memiliki peran, Pusdakota bertanggung jawab dalam proses penelitian, konstruksi, pelatihan bagi pengelola sampah dari Dinas Kebersihan yang akan ditempatkan di lokasi pengelolaan kompos sampah, konsultasi, dan advokasi. KITA Japan terlibat dan bertanggung jawab dalam pendanaan, proses penelitian, dan konsultasi teknologi.

Dinas Kebersihan mendanai pembangunan lokasi yang akan dijadikan tempat untuk mengelola sampah dan penyediaan sumber daya manusia yang nantinya akan menjadi pengelola. Swasta membantu publikasi dan hadiah lomba.
“Inilah mungkin yang dihargai, gerakan bersama mengelola sampah,” kata Risma. Pasca penghargaan PBB, Surabaya bakal menjadi rujukan studi banding komposting sampah dari Asia Pasific.

dikutip dari Harian Surya, 28 Juni 2007