Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Saat melihat anak kecil yang mengalami kesulitan melakukan sesuatu biasanya kita merasa kasihan. Kenapa kita merasa kasihan, karena kita tahu anak kecil tersebut belum bisa melakukan sesuatu. Namun saat anak kecil tersebut kemudian menangis untuk menunjukkan kelemahannya, akan banyak orang yang bersedia membantu. Begitu pula saat kita melihat lansia yang mengalami kesulitan melakukan sesuatu, beberapa dari kita biasanya kita merasa kasihan karena kita tahu lansia sudah mengalami berbagai degenerasi secara fisik atau psikis. Namun bagaimana saat lansia tersebut menunjukkan kelemahannya, berapa banyak orang yang akan membantu? Berapa banyak dari orang yang akan menggerutu mengatakan lansia tidak tahu diri? Lansia yang hanya bisa merepotkan? Orang-orang seperti ΐйΐ lupa atau belum sadar bila sekarang tubuh masih kuat karena masih muda, suatu saat bila memiliki panjang umur akan menjadi lansia, akan menjadi seperti lansia yang sekarang dianggap merepotkan. Sudah siapkah kita menjadi lansia?

Sebagai contoh, seorang ibu lansia yang hidup serba kekurangan, kondisi kesehatan yang tidak terlalu baik, seringkali merasa merepotkan cucunya, dan ingin segera dipanggil Tuhan ketika anaknya telah meninggal dunia terlebih dahulu. Saat ini ia merasa bersyukur karena masih dirawat cucunya. Teringat masa lalu saat cucunya masih kecil, ibu lansia ini merawat cucunya dengan sepenuh hati, tidak pernah berkata kasar ataupun membentak. Harapannya saat dewasa nanti cucunya tidak berkata kasar atau membentaknnya. Saat cucunya salah ia selalu mengingatkan, termasuk cucunya ketika berbuat salah atau berperilaku tidak baik ke orang lain ibu ini selalu dengan sabar menegurnya agar cucunya tidak berperilaku seenaknya sendiri. Walaupun terkadang cucunya tetap memarahi ibu tersebut karena kelalaian dan kekurangannya, namun cucunya tetap merawat ibu tersebut dengan tulus dan dengan sebaik-baiknya. Sekarang ibu lansia ini memetik buah dari perilakunya saat masih fase dewasa awal hingga dewasa madya.

Kita pun terkadang berada pada posisi yang sama seperti cucu ibu tersebut. Kita dengan segala hal yang bisa kita lakukan sekarang, merasa tidak sabar ketika menghadapi orang tua ataupun nenek dan kakek kita yang mulai bergerak, berpikir, ataupun meminta bantuan kita. Kita merasa marah ketika mereka tidak melakukan seperti apa yang kita mau, tidak mengerti apa yang kita katakan, tidak memperdulikan peringatan kita sehingga kita repot jika sesuatu terjadi kepada mereka. Namun ingatlah bahwa dulu kita juga sama seperti mereka. Bukan karena tidak mau melakukan semuanya sendiri, tapi karena kita belum mampu melakukannya. Bukan tidak mendengar apa yang dikatakan orang tua kita, namun karena kita tidak mengerti apa yang mereka maksudkan. Kita juga memaksa orang tua kita melakukan apa yang kita inginkan, menuntut orang tua kita mengerti apa yang kita mau, dsb. Demikian juga para orang tua. Bukan karena tidak mau melakukan semuanya sendiri, tetapi sudah tidak mampu lagi melakukannya. bukan karena malas bergerak, tapi tak mampu lagi bergerak dengan cepat. Bukan karena tidak mau mengerti, namum kadang kita terlalu cepat berbicara sehingga mereka tidak dapat menangkap apa yang sesungguhnya kita maksudkan. Semua itu terjadi bukan karena kita atau mereka sengaja melakukannya, namun karena memang begitulah siklus hidup manusia.

Sekarang apakah kita yang sudah memiliki anak atau cucu, merasa memperlakukan anak atau cucu kita dengan baik. Okelah bila jawabannya sudah, dengan memberi kebutuhan anak atau cucu, tidak pernah berkata kasar atau membentak, tapi bila melakukan kesalahan ke orang lain dan kita membelanya atau perilaku terlalu melindunginya sehingga terlepas dari tanggungjawab. Pertanyaannya, apakah kelak saat kita lansia, anak atau cucu yang kita perlakukan seperti itu akan mau membantu merawat kita dengan layak? Belum tentu, bisa jadi kita akan disia-siakan.

Sebagai contoh, seorang lansia yang sudah mempersiapkan diri ketika dewasa madya dengan mencari kegiatan pengisi waktu luang sendiri di sela-sela kegiatan sosialnya. Harapannya saat dia tidak bisa lagi memiliki dukungan sosial seperti saat dewasa madya atau awal, dia bisa tetap beraktivitas sendiri. Sekarang saat kondisi kesehatannya sudah mulai menurun, teman-temannya sudah banyak yang meninggal dunia, dia tidak terlalu terbebani dan tidak terlalu merasa kesepian. Butuh keseimbangan antara sendiri dan bersama orang lain, karena pada dasarnya kita akan sendiri nanti. Itu semboyannya sehingga ia mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Sudah siapkah kita dengan kondisi lansia yang akan kita hadapi kelak? Saat tubuh sudah tidak kuat lagi menopang kegiatan seperti saat ΐйΐ, saat kita masih muda. Memang banyak yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa lansia. Terpenting, kita harus sadar bahwa kita pada fasenya akan menghadapi masa lansia bila umur memungkinkan. Belajar dengan lansia, belajar kehidupannya dan pengalaman yang telah dilalui juga merupakan cara yang baik untuk persiapan menghadapi masa lansia. Jangan hinakan lansia, tapi belajar memahami dan peka terhadap kehidupan mereka. Semoga tulisan ini bermanfaat.

 

Yang Kurang Beruntungpun Masih Berbagi

Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tulisan ini masih berkaitan dengan perayaan Natal 2012. Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat berkunjung ke rumah lansia yang secara ekonomi kurang beruntung dan kondisi kesehatan yang kurang bagus. Di sanalah penulis mendapatkan kisah sekaligus pelajaran berharga dari ibu lansia tersebut yang cukup menyentuh hati penulis.


Ibu lansia ini telah berusia 80 tahun. Badannya kurus dan kecil serta tak lagi dapat berdiri dengan tegak. Ibu tersebut hanya mempunyai dua orang anak yang semuanya menikah. Salah seorang anaknya hidup dengan cukup nyaman di kota Malang bersama suami dan anak-anaknya. Sedangkan anak yang seorang lagi belum lama ini telah mendahuluinya kembali ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa  karena mengidap kanker paru-paru. Saat ini, ibu lansia ini hanya hidup pas-pas an bersama seorang cucunya. Untunglah cucunya telah cukup dewasa untuk bekerja sehingga dapat membantu kehidupan mereka sehari-hari. Bayangkanlah seandainya ibu itu, dengan tubuhnya yang tak lagi kuat berjalan dengan tangkas dan bahkan berdiri dengan tegak, masih harus bekerja untuk dirinya dan cucunya.


Setiap bulannya mereka memang mendapatkan bantuan uang dan beras dari serikat pekerja sosial Santo Vincentius untuk menunjang kehidupan sehari-harinya. Namun di balik semua kesederhanaan dan kekurangan yang dialaminya, ternyata pada hari Natal pun ibu ini masih berkeinginan membagikan beras yang dimiliki dengan membeli, kepada tetangga-tetangganya yang kondisinya sama tidak mampunya. Saat ditanya bagaimana ibu itu masih memiliki keinginan yang seperti itu, Ibu lansia tadi menjawab dengan tersenyum kecil "meski tidak mampu, saya masih ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain".


Apa yang dilakukan ibu lansia tadi ternyata sudah dilakukan sejak dulu, meski dulu kondisinya sedikit lebih baik dari sekarang karena masih adanya anaknya yang bekerja. Ibu lansia tersebut merasa perlu berbagi beras saat Natal sebagai wujud syukur kepada Tuhan.


Berdasarkan sudut pandang psikologi, yang dilakukan ibu lansia adalah kebutuhan belongingness, kebutuhan untuk menyayangi orang lain, berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Kebutuhan belongingness pada dasarnya dimiliki setiap manusia. Layaknya jenis kebutuhan manusia yang lain, maka tingkat tinggi rendahnya kebutuhan antar manusia berbeda-beda. Pada ibu lansia ini tergolong tinggi. Kondisi ekonomi tidak menjadi halangan untuk berbagi sebagai perwujudan belongingness. Kebutuhan ini tidak ditentukan oleh kaya atau miskin. Hal ini terbukti dari kasus nyata yang diwujudkan ibu lansia tadi. Meski dengan membeli beras untuk dibagi-bagikan, ibu lansia tadi harus rela tidak bisa membeli keperluan sehari-harinya seperti pampers yang harus ia kenakan untuk membantunya buang air baik sehari-hari terutama ketika saat beribadah ke Gereja. Hal ini bukan karena ibu ini manja sehingga tidak mau pergi ke toilet sendiri, namun karena kedua kakinya tak lagi mampu berjalan jauh untuk pergi ke toilet gereja dan terlalu berbahaya jika ia harus pergi sendiri ke toilet di rumahnya ketika cucunya pergi bekerja. Dengan adanya pampers tersebut, sangat membantu ibu lansia ini untuk mengurangi rasa sakit yang di deritanya pada kaki dan punggungnya karena harus berjalan, duduk, dan bangkit dari toilet.


Refleksi yang dapat dipetik adalah, ketidakberuntungan bukan menjadi halangan untuk berbagi kebahagiaan. Ketika yang tidak beruntung masih bisa berbagi kebahagiaan, bagaimana dengan kita yang sangat beruntung secara ekonomi dalam hidup? Harusnya kita bisa lebih berbagi kebahagiaan. Semoga.

Copyright
© 2014 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/71/Renungan-Tentang-Lansia.html