Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bangsa Indonesia dikenal mahsyur sebagai bangsa yang ramah, toleransi tinggi, peduli dengan orang lain, gotong royong, dan karakter-karakter positif lainnya. Namun pertanyaan yang muncul saat ini apakah karakter-karakter positif tersebut masih terjaga kelestariannya pada masyarakat Indonesia. Jawabnya karakter positif tersebut mulai luntur. Semangat kebersamaan dan kekeluargaan mulai hilang berganti menjadi individual dan karakter negatif semakin umum dijumpai. Banyak indikator yang dapat kita gunakan sebagai acuan salah satunya adalah perilaku di jalan raya. Berikut akan diuraikan beberapa karakter positif yang mulai luntur dan nampak di jalan raya.

Perilaku meminta maaf yang bertanggungjawab. Ketika melakukan kesalahan misalnya menabrak kendaraan orang lain, banyak pelaku yang diam saja tidak peduli seolah-olah tidak terjadi apa-apa meskipun posisi sejajar di traffic light. Bahkan yang lebih parah pelaku lari dari tanggungjawabnya dengan menggeber kendaraannya kencang-kencang. Apakah dalam situasi seperti ini, perilaku tidak meminta maaf dan tidak bertanggungjawab yang seharusnya ditampilkan? Karakter bertanggungjawab tidak nampak dalam perilaku tersebut.

Perilaku saling serobot di jalan dan melanggar traffic light. Pengguna jalan hanya tertib ketika ada petugas, bahkan ketika ada petugas perilaku saling serobot dan melanggar traffic light tetap dilakukan ketika petugas tidak memberikan teguran. Karakter disiplin sudah mulai luntur. Individu sulit untuk mematuhi peraturan yang dibuat orang lain, tetapi ketika aturan itu dibuat oleh diri sendiri maka akan sangat keras menerapkan aturan tersebut kepada orang lain.

Tidak peduli dan hanya menjadi penonton ketika ada kecelakaan. Fenomena yang muncul sebagai berikut. Banyak orang akan hanya menjadi penonton daripada membantu ketika ada korban kecelakaan. Secara psikologis fenomena ini wajar karena ketika ada orang lain maka tanggungjawab personal akan makin berkurang. Tetapi sebagai manusia, tanggungjawab untuk membantu orang lain meskipun ada orang lain merupakan suatu keharusan. Bila saling menunggu siapa yang mau membantu maka akan sangat mungkin akan berdampak negatif pada korban. Tidak membantu ketika tidak mampu maka suatu kebijaksanaan, namun ketika mampu tetapi tidak membantu maka bentuk dari ketidakpedulian.

Membantu orang lain yang mengalami kecelakaan dengan melihat siapa orangnya terlebih dahulu. Fenomena ini menggambarkan karakter altruistik yang mulai hilang. Membantu orang lain yang mengalami kecelakaan dari sisi pamrih. Kalau laki-laki yang secara fisik tidak menarik misalnya orang akan jarang membantu, tetapi bila perempuan dengan didukung fisik yang menarik maka akan berlomba-lomba untuk membantu.

Saling suap ketika ada pelanggaran lalu lintas. Bukan rahasia umum bahwa suap menyuap sudah menjadi kebiasaan di Indonesia terutama pelanggaran lalu lintas. Kondisi ini terjadi karena hokum sebab akibat yang resiprok. Ada yang menstimulasi dan yang distimulasi akhirnya menggeneralisasikan pada semua yang mirip dengan stimulasinya. Hal ini dapat dikaitkan dengan value bangsa Indonesia yang tergolong short term orientation. Short term orientation menekankan pada semuanya ingin dicapai dengan cepat, tujuan jangka pendek, dan perencaan yang sifatnya jangka pendek juga. Implikasinya ketika mengalami masalah di jalan raya dalam bentuk melanggar lalu lintas mereka ingin secara instan masalah selesai.

Beberapa contoh perilaku pengguna jalan di jalan raya menggambarkan lunturnya karakter masyarakat Indonesia yang positif. Masyarakat mulai menekankan pada individualistik daripada kemaslahatan bersama. Kondisi ini juga disebabkan karena pendidikan nasional bangsa Indonesia lebih menekankan pada unsur kognitif daripada afektif yang menjadi dasar karakter positif. Solusi yang dapat ditawarkan adalah pentingya diberikan pendidikan karakter sejak dini untuk mencegah hilangnya karakter bangsa Indonesia yang positif. Mari tertib di jalan raya dengan menampilkan perilaku yang didasari karakter positif.