Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

 

Lansia merupakan individu yang memiliki kerentanan mengalami kesepian terutama lansia yang berada di Panti Werdha. Kesepian dapat ditimbulkan karena kurangnya aktivitas yang dapat memberikan makna hidup bagi lansia. Kesepian yang dialami oleh lansia ini dapat menyebabkan kepuasan hidup yang rendah. Kesepian dan kepuasan hidup yang rendah merupakan salah satu indikator dari subjective well being yang rendah. Rancangan intervensi sosial perlu dilakukan dalam mengatasi masalah kesepian dan kepuasan hidup lansia di Panti Werdha. Intervensi sosial ini melibatkan keluarga lansia dalam bentuk pemberian dukungan sosial, perubahan pola pikir bahwa lansia masih memiliki peran dan bukan dibuang keluarga. Intervensi sosial yang melibatkan keluarga perlu dilakukan karena lansia tidak hanya seorang individual tetapi merupakan bagian dari lingkungan sosial keluarga. Saat lansia berada di Panti Werdha dan tidak adanya kunjungan keluarga dan tidak ada aktivitas bermakna dengan keluarga maka lansia akan makin merasa bahwa mereka sudah terlepas atau bukan lagi bagian dari keluarga yang makin meningkatkan perasaan terbuang. Panti Werdha dipandang sebagai tempat atau kumpulan lansia yang merupakan orang terbuang dari keluarga.

Salah satu program yang dapat diterapkan adalah program Green Economy yang tujuannya untuk memberdayakan lansia dalam suatu aktivitas yang produktif sesuai dengan kondisi fisik dan psikologis lansia sebagai bentuk terapi kerja. Terapi kerja (work therapy) adalah terapi atau bentuk intervensi (penanganan) yang diberikan dalam bentuk aktivitas atau kegiatan menjalankan hobi sehingga dengan kegiatan tersebut terdapat pemaknaan diri ataupun sesuatu yang bermanfaat bagi individu. Green Economy adalah suatu aktivitas yang bertujuan memanfaatkan bahan-bahan ataupun peralatan yang sifatnya sudah tidak terpakai dan dapat didaur ulang sehingga menjadi bentuk atau sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi, aktivitas tersebut dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Dengan terapi kerja dalam bentuk program green economy, para lansia dapat beraktivitas sesuai dengan kemampuan dan hobi yang dimiliki dengan menggunakan peralatan atau bahan-bahan tidak terpakai yang dapat didaur ulang sehingga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Harapannya dengan program ini lansia menjadi merasa bahwa dirinya masih produktif sesuai dengan usianya dan meningkatkan subjective well being lansia.

Rancangan programnya secara garis besar sebagai berikut :

  1. Mengenalkan tentang apa itu Green Economy pada pihak lansia dan pengelola Panti Werdha. Prinsip pengenalan bahwa Green Economy adalah suatu cara atau prinsip dalam mengurangi atau mencegah kerusakan lingkungan.
  2. Menjelaskan tentang pentingnya program Green Economy bagi subjective well being lansia dan masyarakat umum serta bagi Panti Werdha. Bagi lansia dapat sebagai pengisi waktu luang yang sifatnya produktif dan dapat meningkatkan makna hidup sekaligus subjective well being. Program ini sebagai salah satu bentuk aplikasi terapi kerja yang intinya adalah membuat lansia memiliki perasaan berdaya, bertanggungjawab, dan berarti bagi diri dan lingkungannya. Bagi masyarakat paling tidak beberapa kebutuhan hidup dapat dipenuhi dari produk green economy yang dihasilkan lansia. Bagi Panti Werdha akan terdapat program yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah psikologi lansia, selain itu juga adanya income dari bentuk aktivitas ini secara finansial dan produk (sifatnya pemberdayaan lansia untuk subjective well being, bukan untuk pemanfaatan tenaga kerja lansia). Bagi lingkungan dapat membantu mengolah limbah atau barang-barang yang tidak terpakai sehingga dapat mengurangi kerusakan lingkungan seperti limbah plastik, kertas, ataupun bahan kimia.
  3. Mengidentifikasi SWOT dan komitmen Panti Werdha dan lansia untuk menjalankan program Green Economy. SWOT ini dapat dilakukan secara fisik, psikologis, ataupun finansial pada individu (lansia) ataupun pada lembaga (panti werdha, ataupun lembaga pendukung program ini. Lembaga-lembaga tersebut harus memiliki potensi untuk mendukung program ini dalam bentuk pendampingan, pemberi modal, penyedia sumber material (barang bekas) yang dapat diolah, serta pengguna produk, ataupun pemasaran produk.
  4. Identifikasi kemampuan lansia secara fisik, psikis, dan ketrampilan yang dapat menunjang suatu program Green Economy yang akan dilakukan.
  5. Mengenalkan bentuk-bentuk green economy yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan lansia di Panti Werdha.
  6. Identifikasi kesiapan fasilitas usaha (lokasi, peralatan, sarana, dan prasarana)
  7. Identifikasi pasar dan cara memasarkan produk
  8. Identifikasi kecepatan menghasilkan produk (perlu adanya uji coba mengingat keterbatasan kemampuan lansia secara motorik dan tenaga, kondisi ini sesuai dengan karakteristik lansia). Perlu adanya back up dari sukarelawan mahasiswa dalam menghasilkan produk ini.
  9. Identifikasi pihak penyandang/supporting dana (modal awal, bagi hasil, dan sejenisnya perlu diidentifikasi)
  10. Identifikasi nilai strategis produk bagi masyarakat atau pengguna
  11. Memberikan ketrampilan yang dibutuhkan dalam program Green Economy (baik ketrampilan penunjang ataupun ketrampilan utama) pada lansia yang memiliki komitmen berpartisipasi dalam program Green Economy.
  12. Aplikasi dan monitoring program.
  13. Evaluasi program.


Demikian rancangan program secara garis besar, rancangan ini perlu ditindaklanjuti dalam program kerja sehingga menjadi program rinci dan dapat dilaksanakan. Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk peningkatan subjective well being lansia di Panti Werdha (secara psikologis), mengurangi kerusakan lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi yaitu terpenuhinya kebutuhan konsumen dan kebutuhan finansial lansia di Panti Werdha.