Rawon Instan Karya Mahasiswa Universitas Surabaya


  • 07-08-2012
  • Fadjar Efendy Rasjid

Tahan Sebulan meski Bebas Pengawet

Harjo Suwignyo dan Matthew Raymond berinovasi di bidang kuliner. Dua mahasiswa Jurusan Teknobiologi Universitas Surabaya itu membuat rawon instan. Tidak hanya berisi bumbu rawon, tetapi juga dilengkapi nasi plus daging.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID

---

AROMA rawon langsung tercium begitu tutup kemasan berbentuk gelas itu dibuka. Di dalam kemasan berwarna cokelat tersebut, telah tersedia sebungkus bumbu rawon warna hitam, sebungkus daging sapi, dan nasi putih yang terletak di dasar kemasan. Bila diseduh dengan air panas dan didiamkan selama lima menit, bimsalabim jadilah seporsi nasi rawon yang siap disantap.

Tetapi, tentu saja, Harjo Suwignyo dan Matthew Raymond yang memberi nama karyanya 5 Minutes Instant Rawon itu tak menggunakan ilmu sulap. Mereka memanfaatkan ilmu dalam bidang teknobiologi untuk pembuatan rawon instan. Khususnya, agar makanan itu bisa tahan lama tanpa menggunakan pengawet sedikit pun.

"Kami ingin menepis anggapan bahwa makanan yang awet itu selalu diberi bahan pengawet," kata Harjo kemarin (6/8). Mahasiswa angkatan 2008 tersebut menyatakan melakukan percobaan beberapa kali untuk membuat rawon instan itu bisa awet. Terutama, mengakali agar nasi yang disediakan bisa awet.

Pada prinsipnya, lanjut dia, makanan yang awet harus terbebas dari bakteri yang memicu kerusakan. Mi instan, misalnya, menambahkan bahan pengawet agar bakteri tak menghampiri makanan itu. Namun, rawon instan lebih mengedepankan cara sterilisasi dan pengeringan. Pengeringan dimaksudkan agar kadar air tak terlalu banyak. Sebab, air bisa mempercepat makanan jadi basi. "Kalau pakai bahan pengawet, kita sudah tahu sendiri efek sampingnya seperti apa," ujarnya.

Harjo mengungkapkan, nasi yang telah ditanak itu diberi perlakuan khusus dengan cara dioven dalam suhu tertentu. Dengan demikian, kadar air di dalam nasi tersebut tinggal 14 persen. Kadar itu juga berkaitan dengan penyeduhan air panas untuk membuat nasi kering tersebut jadi enak untuk dikonsumsi.

"Tiap kali percobaan, pasti kami cicipi," tegas Matthew. Begitu pula pada saat mereka menentukan jenis daging dan bumbu yang digunakan. Daging sapi yang dipakai harus tetap empuk pada saat diseduh air panas. Hal yang sama berlaku untuk bumbu. Syarat utama, steril dan enak saat diberi air panas.

Setelah berulang-ulang, uji coba itu akhirnya berhasil. Hasil kajian yang mereka lakukan, rawon instan bisa tahan selama sebulan. Mereka telah memamerkan karya tersebut pada Juni lalu. Rawon instan itu merupakan bagian dari tugas mata kuliah kewirausahaan di jurusan teknobiologi.

"Kami sangat ingin mengembangkan hasil penelitian ini," ungkap Matthew. Sebab, mereka sudah punya formula yang tepat untuk menghasilkan rawon instan dengan cita rasa enak. Namun, mereka terkendala modal untuk pengembangan penelitian tersebut menjadi usaha yang prospektif. (*/c7/nda)

Sumber: Jawa Pos, 7 Agustus 2012

Update: 07-08-2012 | Dibaca 11665 kali | Download versi pdf: Rawon-Instan-Karya-Mahasiswa-Universitas-Surabaya.pdf