Kapal Api Susah Penetrasi Pasar Eropa


  • 31-05-2012
  • Fadjar Efendy Rasjid

SURYA Online, SURABAYA - Kopi Indonesia masih kalah bersaing dengan kopi Amerika Latin. Kondisi ini menjadi salah satu alasan kopi Kapal Api susah menembus pasar Eropa.

President Director PT Santos Jaya Abadi (produsen kopi merek Kapal Api) Soedomo Mergonoto mengatakan, ekspor kopi paling mentok ke Malaysia, China, Hongkong, Jepang, dan Saudi Arabia.

"Kalau ekspor ke Eropa kita sudah kalah taste (rasa) dengan kopi Amerika Latin yang didominasi jenis arabica, sementara kita didominasi jenis robusta," katanya di sela Seminar Expo 2012 bertema Kemitraan UMKM, Industri dan Perguruan Tinggi di kampus Ubaya, Sabtu (26/5/2012).

Menurut Soedomo, varian kopi arabica bukan berarti tidak ada di Indonesia tapi agak susah tumbuh di Indonesia.

"Lahan kami di tanah Toraja Sulawesi Selatan seluas 1000 hektare hampir semuanya ditanami kopi robusta, kalau jenis arabica biasanya kami beli dari Aceh tapi itupun untuk diekspor ke Jepang karena harga ekspor arabica lebih menarik," jelasnya.

Soedomo berujar, kapasitas produksi untuk setiap hektare lahan menghasilkan 750 kg biji kopi. Untuk produksi kopi bubuk sekitar 150 ton per hari, naik tipis dari tahun lalu 135 ton per hari.

"Penjualan kami tahun lalu tumbuh tipis hanya 10 persen dibandingkan 2010, tahun ini mungkin tidak jauh beda dengan tahun lalu," yakinnya.

Porsi ekspor dari total kapasitas produksi baru 2 persen. "Belum akan dinaikkan karena demand di pasar domestik juga masih tinggi, sementara produktivitas lahan juga tidak meningkat," lanjutnya.

Kopi Kapal Api dengan 20 varian saat ini sudah masuk pasar Arab Saudi sejak 7 tahun lalu, masuk Malaysia 5-6 tahun lalu, masuk pasar China 10 tahun, dan masuk pasar Hongkong 2 tahun lalu.

Untuk pasar domestik, kopi Kapal Api masih memasarkan 80 persen produknya ke Jawa dan 20 persen ke luar Jawa.

Sumber: Surya Online

Update: 31-05-2012 | Dibaca 14691 kali | Download versi pdf: Kapal-Api-Susah-Penetrasi-Pasar-Eropa.pdf