Orang Indonesia Suka Menunda-nunda Pekerjaan


  • 19-03-2011
  • Fadjar Efendy Rasjid

Orang Indonesia ternyata masih suka menunda-nunda pekerjaan.Meskipun tampaknya sepele, kerugian yang ditimbulkan akibat suka menunda-nunda pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng. Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Dr. BAGUS SIAPUTRA, S.Psi dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, kerugian secara material yang ditimbulkan akibat menunda-nunda pekerjaan ini bisa mencapai triliunan rupiah.

Dalam psikologi, menunda-nunda pekerjaan dikenal dengan istilah Prokrastinasi. Penelitian untuk disertasi program doktoral di UGM ini dilakukan pada 232 mahasiswa yang menunda-nunda mengerjakan skripsi. Kerugian yang ditimbulkan akibat menunda-nunda pengerjaan skripsi itu ternyata sampai triliunan rupiah persemesternya, dihitung dari penambahan biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh kuliah

”Katakanlah paling sedikit ada 100 ribu mahasiswa yang menunda-nunda mengerjakan skripsi tiap semesternya, maka kerugian yang timbul memang mencapai triliunan rupiah buat mereka,” kata dia.

Dari segi non materiil, keterlambatan menyelesaikan skripsi juga berdampak bagi para mahasiswa, yakni krisis kepercayaan diri, gelisah, malu, stress karena ancaman drop out, tertundanya masa bekerja, sampai ke penundaan rencana pernikahan.

Ada kaitan antara kebiasaan menunda-nunda pekerjaan di Indonesia ini dengan budaya yang berlaku. Diantaranya pada budaya Jawa karena ada filosofi Alon-alon Maton Kelakon, disalahpersepsikan jadi Alon-alon Waton Kelakon. ”Keduanya punya makna yang beda. Yang pertama punya makna biar lambat asalkan pekerjaannya selesai, sedangkan yang kedua, berlambat-lambat dengan asal-asalan tapi pekerjaannya selesai,” paparnya.

Menunda-nunda pekerjaan, kata BAGUS, bukan hanya ada di dunia mahasiswa. ’Penyakit kronis’ ini sudah ada di masyarakat Indonesia sejak lama. Misalnya menunda-nunda membayar tagihan listrik atau telpon. Pada tataran hukum dan pemerintahan misalnya, menunda memberantas korupsi yang dampaknya membuat korupsi itu malah makin tumbuh subur. Di bidang high politics, menunda lengser dari kekuasaannya sehingga rakyat melengserkan pimpinannya dengan paksa, seperti yang terjadi di dunia Arab belakangan ini.

Prokrastinasi, lanjut BAGUS, bukan hanya ’penyakit’ khas Indonesia. Menurut dia, gejala ini bersifat universal. Bahkan kajian prokrastinasi di Amerika Serikat, angkanya lebih mencengangkan. Sekitar 50% mahasiswa program doktoral di AS terpaksa drop out karena terlambat menyelesaikan disertasi. Penyebabnya, karena mereka suka menunda-nunda menyelesaikan disertasi. Secara lebih luas, 95% masyarakat AS kerap menunda-nunda pekerjaannya.

Belum ada kajian lebih komprehensif di Indonesia tentang prokrastinasi, namun BAGUS yakin, angkanya tidak berbeda jauh dengan di AS. Dia mencontohkan pada hal yang paling dekat, yakni menunda-nunda pekerjaan di kalangan para akademisi. ”Contoh yang lucu, saya tidak bisa dapat data-data pendahuluan untuk menghadiri Konvensi Internasional tentang Prokrastinasi karena panitianya menunda-nunda mengirimkan saya data-data penelitian lainnya,” ungkapnya.

Disebutkan BAGUS, prokrastinasi adalah perilaku bawaan manusia. Tapi bukan berarti perilaku itu tidak bisa diubah. Dalam teori motivasi sesaat yang populer sejak 2009 di kalangan ilmuwan psikologi, ada 4 komponen yang bisa mengurangi prokrastinasi, yakni meningkatkan ekspektasi keberhasilan, menaikkan nilai suatu pekerjaan, menurunkan impulsifitas, dan mengurangi waktu tunda. Cara yang paling mudah adalah dengan menyusun time table target waktu pekerjaan secara detil dan mendisiplinkan diri untuk mentaati time table itu.(edy)

 

dikutip dari suarasurabaya.net, 12 Maret 2011

Update: 19-03-2011 | Dibaca 14208 kali | Download versi pdf: Orang-Indonesia-Suka-Menunda-nunda-Pekerjaan.pdf