Sebanyak 300 Siswa Dan Mahasiswa Pecinta Alam Mengikuti "Green Movement" Yang Digelar Mapala Universitas Surabaya (Ubaya)


  • 11-10-2010
  • Fadjar Efendy Rasjid

SURABAYA - Sebanyak 300 siswa dan mahasiswa pecinta alam se-Surabaya mengikuti "Green Movement" yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Surabaya (Ubaya) di kampus setempat, Sabtu.

"Kami tidak hanya melakukan sosialisasi, tapi kami juga melakukan aksi nyata, karena itu kami menggelar 'Green Movement' selama dua hari," kata ketua pelaksana, Wibowo Mappatunru.

Mahasiswa yang juga anggota aktif MAPAUS (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Surabaya) itu mengatakan kegiatan sosialisasi dilakukan dengan "Presentasi Perubahan Iklim MaPAUS" di aula Perpustakaan Ubaya.

"Presentasi untuk penyadaran itu disampaikan Emerald Starr dari Dubes Al Gore untuk Asia-Pasifik, Prof Joni Hermana dari ITS Surabaya dan anggota 'The Climated Project Indonesia', serta Ir Sasmito Hadi dari Kementerian Kehutanan Khusus Mangrove di Bali," katanya.

Setelah itu, kata mahasiswa semester 3 Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Ubaya itu, peserta akan diajak melakukan aksi nyata dengan menanam 1.000 mangrove di Hutan Wisata Mangrove Gunung Anyar, Surabaya pada Minggu (10/9) pagi.

"Aksi nyata itu untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming), karena itu kami tidak akan berhenti di Gunung Anyar, namun kami akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian Jatim untuk melakukan penanaman tanaman dimana-mana," katanya.

Ia mencontohkan MaPAUS akan meminta bantuan tanaman keras dari Dinas Pertanian Jatim untuk ditanam di kampus Ubaya dan beberapa titik di Surabaya serta ditanam di beberapa gunung yang mulai tandus.

"Dalam setahun, kami melakukan dua kali pendakian yang rutin, namun ada juga pendakian yang insidentil, karena itu setiap pendakian akan kami upayakan melakukan penanaman pohon di gunung-gunung yang sudah banyak yang tandus itu," katanya.

Dalam presentasinya, pakar lingkungan dari ITS Surabaya Prof Joni Hermana menyarankan beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi perubahan iklim yang cukup radikal saat ini.

"Masyarakat dapat melakukan hal-hal kecil dari Surabaya seperti jangan membuang sampah plastik, jadikan sampah sebagai kompos, matikan listrik bila tidak perlu, dan banyak lagi. Itu langkah kecil tapi berperan besar untuk mengurangi perubahan iklim," katanya.

Untuk kalangan pemerintah, kata anggota "The Climated Project Indonesia" yang alumni pelatihan Al Gore di Australia itu, bisa memberlakukan pemeriksaan uji emisi kendaraan setiap tahun.

"Caranya juga mudah, pemerintah dapat melakukan uji emisi saat pemilik kendaraan bermotor membayar pajak. Bila gas emisi masih di bawah ambang batas akan diizinkan dipakai lagi dan bila melebihi ambang batas harus di-service atau bahkan tidak boleh dipakai lagi," katanya.

 

dikutip dari BANJARMASINPOST.co.id, Senin 11 Oktober 2010