Melihat Kampus III Ubaya Di Pegunungan Trawas, Mojokerto - Menyatu Dengan Alam, Belajar Serasa Sedang Berlibur


  • 13-06-2010
  • Fadjar Efendy Rasjid
 
 



Universitas Surabaya (Ubaya) memiliki kampus baru. Bila dua kampus sebelumnya berada di Kota Surabaya, kampus III berada jauh dari kebisingan metropolis. Kampus dengan filosofi berdekatan dengan alam itu terletak di kawasan Pegunungan Trawas, Mojokerto. Seperti apa?

UPIK NOVIYANTI

---

Amphitheatre terbuka yang terletak di tengah lapangan tersebut disesaki banyak orang kemarin (12/6). Dari kejauhan, suara musik yang mengiringi tari tradisional khas Mojokerto, bantengan, bergemuruh. Dua orang yang berperan sebagai banteng menari dengan iringan kendang dan alat musik tradisional lainnya.

Para penari itu menyambut kedatangan Gubenur Jawa Timur Soekarwo yang akan meresmikan kampus III Ubaya kemarin (12/6). Orang nomor satu di Jawa Timur tersebut menandatangani prasasti peresmian kampus baru itu. "Saya cukup bangga dengan upaya Ubaya," ujarnya.

Dia berharap, kampus tersebut tidak hanya melahirkan ilmuwan yang sibuk di kampus, tapi juga peka terhadap kondisi alam dan lingkungan sosial di sekitarnya. "Biasanya, kampus terletak di tengah kota. Ubaya berusaha mendobrak pakem tersebut," katanya. Dia menuturkan, dengan adanya kampus baru itu, Ubaya bisa lebih berpartisipasi untuk menyejahterakan masyarakat.

Ya, Ubaya kini memiliki kampus III yang terletak di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Bangunan yang menempati lahan seluas 40 hektare tersebut didominasi bahan kayu dan batu alam. Kayu yang dipakai adalah jenis aliwowos yang didatangkan langsung dari Sulawesi Utara. Kayu jenis itu terkenal tahan rayap.

Karena berada di kawasan pegunungan, udaranya begitu sejuk. Pemandangan tampak asri dan hijau. Siapa saja tidak merasa seperti berada di kampus, tapi sedang berlibur. Apalagi, berbagai sarana outbound tersedia di kampus tersebut. "Kami mulai merancang kampus ini sejak 1980-an," ungkap Rektor Ubaya Prof Wibisono Hardjopranoto.

Dia menjelaskan, pembelian tanah untuk kampus itu dilakukan secara bertahap. Bangunan juga digarap secara bertahap. "Bangunan pertama adalah pendapa," ungkapnya. Pendapa tersebut berada paling depan di antara bangunan lain.

Pemilihan bahan bangunan dan lingkungan sangat diperhatikan. "Kami tidak mau menebang pohon terlalu banyak," kata Wibisono. Ketika memasuki kampus tersebut, seseorang akan menemui banyak jalan berkelok. Itu adalah konsekuensi dari menghindari penebangan pohon. Jalan harus mengikuti tumbuhnya pohon.

Kampus III Ubaya berkonsep integrated outdoor campus (IOC) atau kampus lingkungan terpadu. Menurut Wibisono, IOC berbeda konsep dengan dua kampus sebelumnya. Ada kampus indoor dan outdoor di kampus III.

"Jadi, mahasiswa tidak hanya duduk di kelas dan mendengarkan dosen. Mereka juga diajak untuk berpraktik dan berkegiatan," tutur Wibisono. Kampus ketiga yang bernuansa outdoor tersebut merupakan alternatif untuk kampus konvensional yang indoor.

"Kami akan memadukan dua kegiatan dalam kampus tersebut," ungkapnya. Dua kegiatan itu adalah kegiatan pendidikan tinggi yang berupa Tridarma Perguruan Tinggi, teori dan praktik, serta kegiatan usaha yang diselenggarakan yayasan yang bekerja sama dengan warga sekitar.

Kampus IOC tersebut akan menjadi Ubaya Training Center (UTC). Ada berbagai fasilitas pelatihan di kampus itu. Di antaranya, barak atau cottage, ruang diskusi, camping ground, multifunction hall, kantin, dan amphitheatre. "Semuanya bisa digunakan untuk mendukung sebuah pelatihan. Semua sarana tersebut dibuka untuk umum," terang Wibisono.

Dia menjelaskan, khusus mahasiswa, tidak ada tambahan biaya perkuliahan saat menggunakan fasilitas itu. Sebab, fasilitas tersebut termasuk fasilitas mahasiswa. "Setiap mahasiswa pasti akan melakukan kegiatan di sini," katanya. Sekarang Ubaya sedang membagi jadwal dan kegiatan untuk melakukan berbagai pelatihan dan kegiatan outdoor khusus untuk mahasiswa.

"Kami mencoba menggugah masyarakat untuk sadar akan lingkungan," ungkap Wibisono. Sebab, berbagai kegiatan di IOC memang diarahkan untuk kelestarian lingkungan. "Kami berusaha mencukupi kebutuhan operasional kampus dengan mengolah bahan alam yang sudah ada," imbuhnya. Misalnya, pemanfaatan kotoran manusia untuk pupuk, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan pusat pembuatan kompos (puspos).

Itu mungkin bukan hal yang baru. Namun, dengan adanya PLTS tersebut, kampus bisa menghemat pengeluaran operasional untuk listrik. Dia menyatakan selama ini sudah memiliki 800 meter persegi sel surya. Tiap satu meter persegi bisa menghasilkan 1.000 watt. Selain untuk penerangan, PLTS digunakan untuk solar water heater (pemanas air tenaga surya).

Untuk pupuk dari kotoran manusia, Ubaya mengacu pada sanitasi yang berbasis ekologi. "Kami sudah memisahkan feses dan air seni," ujar Wibisono. Kotoran manusia tersebut akan diubah menjadi pupuk yang akan dialirkan ke tanaman. "Selama ini, kami gunakan itu untuk pupuk sayuran," imbuhnya.

Puspos dibuat untuk memanfaatkan limbah dan kotoran yang berasal dari kegiatan kampus. "Kami membuat kompos dari sampah dan kotoran hewan," terang Wibisono. Kotoran hewan didapat dari peternakan domba di kawasan kampus.

Dia mengungkapkan, Ubaya telah melakukan berbagi pelatihan di lima kelurahan di sekitar kampus lewat puspos. Di antaranya, pelatihan kewirausahaan, budi daya kakao, dan budi daya salak. "Intinya, kami ingin mendampingi para petani agar bisa lebih sejahtera," katanya.

Ubaya juga memiliki kebun salak seluas 6 hektare yang juga ditanami pepaya, pisang, durian, dan kayu sengon. "Kami juga mendampingi warga di sekitar kebun salak itu," jelas Wibisono. Para warga diajari cara-cara menjadi petani salak. Tujuannya, meningkatkan kesejahteraan warga.

Ubaya akan membangun perpustakaan dan berbagai laboratorium. Harapannya, banyak mahasiswa lokal maupun asing yang tinggal lebih lama dan menyepi untuk belajar atau meneliti sesuatu. (*/c12/nw)

 

dikutip dari JawaPos, Minggu 13 Juni 2010