Curi Waktu Makan Siang Untuk Latihan


  • 21-01-2020
  • Hayuning Purnama Dewi
Cerita Willy Agustianto yang Beralih dari Basket ke Triatlon.
 
Menginjak usia 38 tahun, Willy memutuskan pensiun dari olahraga kesayangannya. Dari situ, dia mulai melirik olahraga yang dirasa tak berisiko tinggi mengalami cedera. Ternyata, triatlon membuatnya jatuh cinta.
 
Basket selalu jadi nostalgia bagi Willy. Maklum, dia tak hanya melakukannya sebagai hobi, tetapi juga prestasi. Pada PON XIV Jakarta 1996, Willy ikut turun bersama tim Bali. Dia juga bermain sebagai point guard untuk Pacific Surabaya di ajang Kompetisi Bola Basket Utama pada 1995-1997.
 
Sebagai olahraga yang cukup high impact, basket memang tak bisa selamanya jadi olahraga pilihan Willy. Umurnya yang terus bertambah membuat dirinya harus mencari olahraga yang lebih aman.
 
"Yang tidak body contact karena takut cedera mengingat umur," ucap pria kelahiran 1974 itu. Akhirnya, Willy memutuskan pensiun dari dunia basket pada 2012. Atau saat dirinya berusia 38 tahun.
 
Pada tahun yang sama, Willy mulai melirik lari. Ternyata, hal itu tak cukup. Berat tubuhnya sempat naik hingga mencapai 90 kilogram. "Padahal, waktu masih basket itu beratnya 70 kg lho," ucapnya, kemudian terkekeh.
 
Motivasinya jadi bertambah. Bukan saja mengalihkan kebiasaan olahraga yang ada, tapi juga tetap punya tubuh bagus. Kini Willy berhasil menjaga massa tubuhnya di angka 70 kg lagi.
 
Lari saja bisa jadi bikin bosan. Karena ajakan teman, Willy juga jadi serius bersepeda dan berenang. "Apalagi dari kecil sudah suka ya," ucap Alumnus Universitas Surabaya tersebut. Setelah latihan, Willy mulai ikutan race triatlon pertamanya pada 2014.
 
Bali Triathlon 2014 ternyata jadi pembuka. "Jadi jatuh cinta sama triatlon sih. Benar-benar jadi olahraga utamaku," tegas pria kelahiran Denpasar itu. Tak butuh waktu lama bagi Willy untuk mencapai jarak half-ironman (berenang 1,9 km; bersepeda 90 km; berlari 21,1 km). Pada 2014 dia berhasil menyelesaikan jarak tersebut.
 
Pada 2015 Willy untuk kali pertama menjajal jarak ironman (berenang 3,8 km; bersepeda 180 km; dan berlari 42,2 km). Bagi dia, triatlon bukan olahraga biasa. Pembagian kategori berdasar usia membuat triatlon jadi olahraga yang fair. "Jadi, kita bertanding dengan yang seusia," ujarnya.
 
Hal yang paling memotivasi Willy justru muncul saat bertanding. "Yaitu, kalau lihat peserta lain yang usianya di atas 60 tahun, 70 tahun sih," jawabnya. Melihat performa stabil peserta-peserta tersebut, Willy jadi ingin sehat dan keep in shape sampai tua. Motonya, usia hanya angka. Kuncinya ya konsistensi!
 
Kini Willy sudah menyelesaikan 4 race ironman dan 3 race half-ironman. Tahun 2020 juga jadi tahun yang pernuh semangat. Ironman Cairns Australia dan Ironman Malaysa Langkawi hanya dua target dari sembilan race yang dia bidik.
 
Setiap hari Willy meluangkan waktu 1-1,5 jam untuk berlatih saat pagi. Kemudian dilanjutkan dengan latihan 1-2 jam saat sore. "Kadang pas istirahat makan siang curi waktu untuk lari indoor, apalagi saat menjelang peak training untuk race," ujar pria yang bekerja sebagai wiraswasta itu.
 
Latihan tersebut juga ditunjang dengan menjaga makanan dan tak menawar waktu istirahat. (dya/c5/tla)
 
Sumber: JawaPos, 20 Januari 2020
Update: 21-01-2020 | Dibaca 286 kali | Download versi pdf: Curi-Waktu-Makan-Siang-Untuk-Latihan.pdf