Jangan Hakimi Kalau Ada Yang Salah


  • 30-09-2019
  • Hayuning Purnama Dewi
Remaja identik dengan keinginan untuk eksplorasi diri. Mereka lebih suka diberi kebebasan. Namun, menurut psikolog Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc., orang tua juga tidak bisa begitu saja membebaskan mereka. "Karena sebetulnya mereka ini belum cukup matang dalam mengambil keputusan dan memilah risiko," terangnya.
 
Perempuan yang juga dosen Psikologi Perkembangan Ubaya itu menyarankan agar orang tua antusias dengan aktivitas yang dilakukan anak dengan gadgetnya. "Tunjukkan bahwa kita sebagai orang tua itu melihat gadget sebagai hal yang positif, yang juga bisa membantu anak untuk tumbuh," imbuhnya.
 
Selain itu, percaya pada anak dan ketika melihat ada yang keliru, hindari menunjukkan sifat yang menghakimi. "Beri pemahaman dengan alasan-alasan yang logis kenapa ini kurang baik," jelasnya.
 
Ketika anak tidak terbuka, tandanya dia insecure dengan orang tua sendiri. "Ini bisa terjadi karena anak tidak percaya bahwa orang tua sebenarnya cukup aman buat dia," ucapnya.
 
Psikolog Rahma Kusumandari bahkan menyarankan orang tua ikut mengugnakan media sosial (medsos) yang sama dengan anak. Dari situ orang tua bisa mengetahui informasi yang berhubungan dengan anak. Misalnya, saat remaja meng-update status di medsos.
 
Selain itu, orang tua sekaligus dapat mengetahui minat anak. "Bisa juga diketahui dari foto yang sering di upload anak. Atau dari temen-temen yang diikutinya," ucap dia. Selanjutnya, ornag tua bisa mengembangkan hobi anak-anak tersebut. (ama/ika/c6/any)
 
Sumber: JawaPos, 26 September 2019
Update: 30-09-2019 | Dibaca 222 kali | Download versi pdf: Jangan-Hakimi-Kalau-Ada-Yang-Salah.pdf