Green Biotechnology Untuk Menguak Sistem Komunikasi Tanaman


  • 08-05-2019
  • Fadjar Efendy Rasjid

Dalam rangka Dies Natalis ke-51 Universitas Surabaya (Ubaya), Johan Sukweenadhi, Ph.D. memaparkan pidato ilmiah berjudul “Sistem Komunikasi Tanaman: Tantangan Memahami Tanaman dan Kebutuhannya”, pada Rapat Terbuka Senat Universitas Surabaya, di Ruang SerbagunaGedung Perpustakaan Lt. 5, Kampus Ubaya Tenggilis Jalan Raya Kali Rungkut Surabaya, Senin (11/3/2019).

“Tanaman dianggap sebagai makhluk hidup yang tidak bisa menerima, mengirim, dan menyampaikan pesan atau respon layaknya manusia. Hal ini membuat manusia menjadi sulit untuk mengetahui posisi dan kebutuhan tanaman. Melalui uji eksperimen yang telah saya lakukan, tanaman terbukti memiliki sistem komunikasi khusus untuk mengetahui kondisi atau keadaan lingkungan yang dapat menguntungkan atau sebaliknya menimbulkan stres dan mengancam kehidupan mereka,” jelas Johan selaku dosen Fakultas Teknobiologi.

Green Biotechnology digunakan sebagai sarana untuk menguak sistem komunikasi tanaman. Walau terdengar asing dan termasuk bidang baru untuk dipelajari, namun ilmu ini bermanfaat bagi petani di Indonesia dalam merekayasa produk pertanian agar mudah mengendalikanpertumbuhan tanaman, mengarahkanproduksi tanaman, memunculkan sifat unggul tanaman, serta membuat tanaman mampu menghadapi serangan abiotik (stres garam, kekeringan, banjir, logam berat) maupun biotik (serangga, herbivora, bakteri, jamur).

Sistem komunikasi tanaman menjadi wawasan dan terobosan baru denganmemanfaatkan bioteknologi, agar sumber alam hayati Indonesia terutama tanaman bisa digunakan semaksimal mungkin. Baik dibidang komoditi tanaman pangan, tanaman hias, atau tanaman obat. Komunikasi terjadi antara sesama tanaman atau dengan organisme lain seperti mikroba, serangga, herbivora, atau burung.

Johan memaparkan jika komunikasi terjadi tidak secara lisan, namun melalui respon senyawa kimia. Sebagai contoh ketika serangga mengunyah daun, tanaman akan merespon dengan melepaskan senyawa volatil organik atau Volatile Organic Compounds (VOCs). Tanaman lain dapat mendeteksi sinyal yang terbawa udara dan meningkatkan produksi senyawa kimia sebagai mekanisme pertahanan dan ini adalah respon tanaman untuk bertahan hidup.

Jalur komunikasi antara tanaman dengan bakteri yang satu dengan yang lain memiliki jalur komunikasi berbeda. Tanaman dengan bakteri A memiliki jalur komunikasi yang cocok, menunjukkan bahwa adanya hubungan saling menguntungkan.

Sedangkan tanaman dengan bakteri B memiliki jalur komunikasi yang tidak cocok menimbulkan kerugian. “Dengan mengetahui jalur komunikasi tanaman, kita terbantu untuk memahami apa yang dibutuhkan tanaman, bakteri apa yang merugikan dan menguntungkan. Sehingga tanaman bisa tumbuh lebih cepat, berbuah lebih banyak, dan tahan terhadap stres,” kata Johan.

Saat ini, sebut Johan, Ubaya sedang memulai pengembangan kultur jaringan tanaman obat asli Indonesia. Keberadaan Kalbe Ubaya Hanbang-bio Laboratory (KUH Lab) diharapkan berperan serta sebagai bentuk interdisiplin Fakultas Teknobiologi, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Kedokteran Ubaya dalam pengembangan penelitian pada sektor kesehatan berbasis sumber daya lokal asli Indonesia.

“Saya berharap dengan kita memahami sistem komunikasi tanaman yang ada, maka tujuan tersebut dapat dicapai dengan cepat,” ungkap Johan. (sur/ano/yan)

https://pendidikan.memontum.com

Update: 08-05-2019 | Dibaca 611 kali | Download versi pdf: Green-Biotechnology-Untuk-Menguak-Sistem-Komunikasi-Tanaman.pdf