Bukan Beban, Bikin Senang


  • 07-02-2019
  • Fadjar Efendy Rasjid

BERTITEL sekolah, baby school dan kelompok bermain tidak berarti melulu tentang belajar. Konsepnya berbeda 180 derajat dengan sekolah dasar atau jenjang di atasnya. ”Fokus baby school dan playgroup lebih ke pengembangan keterampilan,” jelas psikolog Maria Farida SPsi. Tidak ada ujian, penilaian, maupun skorsing.

Psikolog sekaligus pendiri Baby Smile School, Surabaya, itu menyatakan, si kecil bisa mulai ”bersekolah” di usia 6 bulan (selengkapnya baca grafis). Si kecil wajib didampingi orang tua atau pengasuh selama di kelas, meski ada guru. ”Justru orang tuanya harus ikut. Sehingga mereka tahu dan bisa mempraktikkan ’pelajaran’ di rumah,” tegasnya.

Pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak dan dibuat fun. Misalnya, berlatih menggenggam alat makan, berdiri, maupun mengikuti lagu sederhana.

Pada kategori playgroup, anak dilatih mampu menggunakan toilet. Ada pula sesi mengikuti arahan sederhana. Tahapan belajar di kelas berfungsi sebagai stimulus agar kemampuan anak berkembang.

Di preschool, guru secara tidak langsung ikut memantau tumbuh kembang anak. ”Misalnya, usia 8–10 bulan anak seharusnya bisa babbling, tapi murid A belum. Nah, inilah yang jadi ’rapor’ anak,” urainya.

Guru pun bisa berdiskusi dengan orang tua terkait kemampuan anak. Alhasil, si kecil tidak sampai terlambat dalam menguasai kemampuan motorik, berbahasa, maupun lainnya.

Nurlita Endah Karunia SPsi MPsi sepakat dengan Maria. Manfaat jenjang prasekolah banyak. Salah satunya, melatih kemampuan bersosialisasi anak dengan sebayanya. Fokus pada bidang akademis jadi urusan kesekian.

Di kelas, sebut Maria, anak tidak diajarkan calistung. Namun, lebih ke pengenalan angka dan huruf. ”Bahasa asing pun sebatas perkenalan, enggak jadi bahasa pengantar,” kata alumnus Fakultas Psikologi Universitas Surabaya itu.

Menurut dia, target pendidikan prasekolah adalah menyiapkan anak bersekolah. Tahap tersebut bukan pendidikan formal yang wajib dilalui anak. Bila anak lebih banyak sendirian, tidak punya teman sebaya, dan kurang aktivitas, Maria menyarankan, anak mengikuti tahap prasekolah. "Kalau langsung masuk ke SD nanti dia sangat kaget karena langsung berhadapan dengan tugas yang cukup berat," tambah Nurlita.

Dia mengatakan, jangan sampai prasekolah menjadi tuntutan bagi anak. Karena itu, orang tua perlu menanyakan kepada diri sendiri tujuan anak disekolahkan.

Agar tumbuh kembang anak optimal, menurut Nurlita, ada tiga hal yang harus dipenuhi. Yakni, kematangan, proses belajar, dan stimulasi. "Jadi, kalau memang merasa anak butuh proses stimulasi dan belajar yang lebih, ya bisa disekolahkan prasekolah," tutur psikolog sekaligus dosen Universitas Surabaya tersebut.

Selain itu, menyekolahkan anak tidak berarti melepas tanggung jawab orang tua kepada guru. Orang tua tetap memberikan perhatian dan pengawasan penuh kepada anak selama menjalani prasekolah. "Pulang preschool ulangi lagi kegiatan seperti di sekolah tadi. Sebab, di sekolah hanya beberapa jam, waktu paling banyak di rumah bersama orang tua," ujar Nurlita. (fam/adn/c25/nda)

Jawa Pos, 01 Feb 2019

Update: 07-02-2019 | Dibaca 969 kali | Download versi pdf: Bukan-Beban--Bikin-Senang.pdf