Kebutuhan Mendapat Perhatian


  • 26-04-2017
  • Fadjar Efendy Rasjid

TINGKAH berlebihan itu adalah salah satu sinyal gangguan kepribadian histrionik. Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) menyebutkan, gangguan tersebut
ditandai dengan pola emosi yang berlebihan dalam mencari perhatian.

Hal itu ditunjukkan lewat gestur, ekspresi, hingga gaya bercerita penderita yang serba berlebihan. Kebanyakan penderitanya adalah perempuan. "Misalnya, saat mengalami masalah, mereka akan merajuk, ngambek, dan menangis. Kadang juga diikuti ancaman bunuh diri," kata psikolog Indri Putri Waskita Sari MPsi.

Mereka sering dinilai memiliki kepribadian yang sensitif karena mudah tersentuh oleh hal-hal kecil. Padahal, itu sudah termasuk masalah kejiwaan. Tanda lain adalah penderita tersebut punya hobi menonjolkan penampilan fisik. "Mereka sering tampil dengan pakaian yang seksi. Kadang, bahasa tubuhnya juga seduktif," tegas psikolog yang berpraktik di RS Husada Utama, Surabaya, itu.

Singkat kata, penderita sering memanipulasi tingkah, penampilan, dan ucapannya agar orang di sekitarnya tertarik. Namun, mereka biasanya memandang bahwa yang dilakukannya normal. Alumnus Universitas Surabaya tersebut menyatakan, sulit menumbuhkan kesadaran pada penderita. ”Karena penderita tidak merasa ada yang salah dengan dirinya,” lanjutnya.

Sumber gangguan histrionik sering kali berawal dari pola asuh yang keliru. Indri mengungkapkan, penderita biasanya punya masa kecil yang terlalu dimanjakan. Saat masih anak-anak, mereka menerima pujian dengan amat mudah. Bahkan, untuk hal yang memang semestinya sudah harus dia lakukan. "Anak pun merasa, dia adalah orang yang paling penting. Akhirnya, timbul sikap menuntut dan egois," paparnya.

Menurut dr Sadya Wendra SpKJ, para penderita biasanya juga memiliki self-esteem rendah. Dengan begitu, mereka akan berusaha mendapat perhatian dari sekitarnya. "Makanya, mereka berusaha menampilkan kesan yang kuat supaya kepercayaan diri naik. Caranya, tampil lebih menonjol dan wah dibandingkan dengan yang lainnya," kata dokter yang berpraktik di RKZ Surabaya itu.

Kebutuhan untuk selalu diperhatikan tersebut membuat mereka amat bergantung pada orang lain. Menurut Sadya, hal itu berdampak pada perkembangan pribadi penderita. "Mereka akan sulit beradaptasi dan tidak fleksibel. Dampak lain, penderita sulit mengambil keputusan sendiri, termasuk yang berkaitan dengan dirinya sendiri," ucapnya.

Dokter yang juga Kasubdeg Ilmu Kesehatan Jiwa di RSAL dr Ramelan, Surabaya, itu menuturkan, orang lain pun bakal sulit menerima penderita. "Orang di sekitar biasanya sulit memahami perkataan penderita. Soalnya, apa yang diungkapkan nggak detail, malah terkesan mencari sensasi dan perhatian saja," imbuh Sadya.

Penderita juga kerap mengalami perubahan mood yang lumayan drastis. Meski demikian, bukan berarti sikap lebay baik dalam perkataan maupun perilaku bakal selamanya melekat pada penderita. Sadya menuturkan, seiring bertambahnya usia, gejala yang ditampakkan cenderung berkurang. Namun, dia menegaskan, untuk memulihkan histeria yang dimunculkan, pasien tetap harus mendapat dukungan orang terdekat. "Mereka harus melewati terapi kognitif behavioral dan pendampingan psikiater dan keluarga," ucap lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah, Surabaya, itu. (fam/c7/ayi)

Jawa Pos

Update: 26-04-2017 | Dibaca 4132 kali | Download versi pdf: Kebutuhan-Mendapat-Perhatian.pdf