Demi Stabilitas Rupiah, BI Rate Jangan Sampai Diturunkan


  • 23-10-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) hingga akhir tahun ini diharapkan tidak menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate dari level 7,5 persen saat ini. Bahkan, jika ingin nilai tukar rupiah lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh gejolak pasar uang akibat dampak rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan bunga acuan, seharusnya pada November mendatang BI Rate dinaikkan secara bertahap, seperti halnya rencana Federal Reserve.

Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Ahmad Zafrullah, mengatakan BI Rate belum bisa diturunkan karena rupiah masih rentan terhadap pelemahan. Menurut dia, desakan kepada BI untuk menurunkan BI Rate mencerminkan adanya kepentingan segelintir pengusaha atau debitur.

“Seharusnya, di kala BI dan pemerintah sedang bersamasama mengantisipasi krisis, kalangan pengusaha ikut menjaga kepercayaan investor dengan mendukung program pemerintah,” kata dia saat dihubungi, Kamis (22/10).

Ahmad menjelaskan apabila BI Rate diturunkan akan membuat mata uang RI tidak menarik di mata investor sehingga mereka akan mengalirkan dananya keluar dari pasar keuangan Indonesia.

“Bila BI Rate diturunkan akan membuat rupiah semakin tertekan karena dana diperkirakan akan keluar. Bank sentral pun bakal menggunakan devisa untuk stabilisasi. Padahal, sekarang ini yang penting adalah menjaga devisa tidak terkuras dan memupuk devisa untuk stabilitas nilai tukar,” jelas dia.

Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Khairun, Ternate, Marwan, menilai belum saatnya otoritas moneter menurunkan BI Rate karena meski kini telah menguat, nilai tukar rupiah masih rawan tekanan depresiasi.

“Selain defisit neraca transaksi berjalan, problem nilai tukar kita juga sangat dipengaruhi besarnya utang luar negeri. Di akhir tahun ini kita akan sangat membutuhkan dollar untuk membayar utang luar negeri, baik pemerintah dan swasta, yang akan jatuh tempo.

Sebelumnya dikabarkan, BI diharapkan tidak terpengaruh dengan adanya desakan untuk menurunkan bunga acuan atau BI Rate dari level 7,5 persen saat ini dengan alasan untuk menjaga daya beli. Justru, bank sentral sekarang ini mesti tetap menerapkan kebijakan uang ketat atau menaikkan BI Rate, guna mengantisipasi rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, menaikkan bunga acuan. Tujuannya, untuk menjaga agar rupiah tetap kompetitif sehingga mengurangi potensi tekanan depresiasi akibat arus modal keluar atau capital outflow. Ekonom UGM Yogyakarta, Revrisond Baswir, menegaskan BI tidak ada pilihan kecuali harus menaikkan bunga acuan. Stabilitas rupiah itu ibaratnya darah dari tubuh perekonomian. Inisiatif menurunkan BI Rate cenderung berpihak kepada debitur.

“Ini kan merusak ekonomi. Yang harus dibela adalah para penabung. Kalau inflasi tinggi siapa yang mau menabung dalam rupiah, kalau bunga diturunkan akan terjadi capital flight.”

Melego Devisa

Denni P Purbasari, dosen FEB UGM Yogyakarta, memaparkan dalam menjaga rupiah, BI terbelenggu oleh the impossibility of trinity, yaitu kemustahilan untuk mencapai kurs yang stabil, kebijakan moneter longgar, dan rezim devisa bebas sekaligus.

“Jadi, ketika Indonesia mengadopsi rezim devisa bebas untuk membuat rupiah stabil atau tidak terdepresiasi tajam seperti sekarang, mau tak mau kebijakan moneter BI haruslah ketat alias hawkish,” kata dia, belum lama ini.

Ia menambahkan kebijakan moneter ketat berarti suku bunga ditetapkan tinggi. Ketika rupiah, misalnya, melemah lebih jauh lagi dan BI ingin menstabilkan rupiah, bisa jadi tingkat suku bunga akan dinaikkan menjadi 7,75 persen. BI bisa saja menstabilkan rupiah lewat intervensi di pasar valas.

“Namun, langkah ini berarti melego cadangan devisa yang saat ini susah payah dikumpulkan dari ekspor dan aliran modal masuk. Dus, langkah ini bersifat terbatas dan tidak mungkin dilakukan terusmenerus,” tegas Denni.

Menurut dia, ongkos kebijakan suku bunga tinggi ini ialah menurunnya pertumbuhan kredit sehingga pertumbuhan ekonomi melambat dan pengangguran meningkat. Namun, ini memang pilihan yang tidak dapat dihindari.

Marwan mengakui suku bunga rendah akan menyebabkan biaya modal menjadi murah sehingga dapat menggairahkan dunia usaha. Namun, hal itu berisiko melemahkan rupiah sehingga beban kewajiban utang pada akhir tahun makin tinggi.

“Justru dengan menaikkan suku bunga, rupiah berpotensi menguat sehingga biaya belanja barang modal yang mayoritas masih impor akan menurun. Kalau ada yang menyarankan BI Rate sedikit dinaikkan, itu sangat masuk akal,” jelas dia.

Sumber: http://www.koran-jakarta.com

Update: 23-10-2015 | Dibaca 6888 kali | Download versi pdf: Demi-Stabilitas-Rupiah--BI-Rate-Jangan-Sampai-Diturunkan.pdf