Jokowi Ndagel Saat Beri Kuliah Umum Di Universitas Surabaya


  • 03-03-2014
  • Fadjar Efendy Rasjid

Solopos.com, SURABAYA –  Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi mengawali pembicaraan di kuliah umum Universitas Surabaya pada Sabtu (1/3/2014) dengan bercanda melalui kisah awal menjadi seorang pemimpin.

Dalam kuliah umum bertemakan Memperkokoh Kebhineka Tunggal Ikaan – dari Primodial ke Sipil-Politik tersebut Jokowi berbagi cerita saat kali pertama menjalani tugas sebagai Wali Kota Solo.

“Saya ingat cerita sedikit waktu 9 tahun lalu dicalonkan jadi walikota. Sebelum dapat rekomendasi, Bu Mega juga bisik-bisik ke Ketua DPC PDIP Solo, yang disampaikan adalah apa nggak ada calon yang lain? Mungkin karena body saya seperti ini, kok kelihatan kasihan,” ungkap Jokowi, yang sontak membuat para peserta kuliah umum tertawa.

Jokowi juga bercerita pernah keliru dalam melaksanakan upacara bendera pada hari pertama bekerja di kantor walikota. Cerita-cerita lucu Jokowi itu pun membuat ruangan kuliah umum itu heboh dan penuh tawa dari para mahasiswa.

“Jangan diteruskan nanti jadi stand up comedy,” imbuhnya.

Sumber: SoloPos.com

 

Risma, Whisnu, Jokowi dan Megawati Semobil ke Ubaya

Surabaya - Kemesraan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berlanjut. Mereka bahkan semobil saat berangkat ke Universitas Surabaya.

Setelah mendapat wejangan di Bandara Internasional Juanda, Risma dan Wawali Whisnu Sakti Buana serta Gubernur DKI Jakarta Jokowi menumpang satu mobil bersama Megawati, Sabtu (1/3/2014). Keempatnya sampai di lobi perpustakaan Universitas Surabaya (Ubaya) sekitar pukul 13.12 WIB. Mereka menumpang Toyota Alphard L 507 NA warna hitam.

Jokowi duduk di bangku depan, bersebelahan dengan driver. Megawati duduk di kursi tengah ditemani Risma. Sedangkan Whisnu duduk di kursi belakang.

Megawati mengenakan setelan kebaya bernuansa hijau gelap, Jokowi mengenakan kemeja putih, Risma mengenakan batik cokelat, sementara Whisnu Sakti mengenakan kemeja gelap motif kotak-kotak.

Setelah 15 menit di ruang transit untuk menyantap jamuan, keempatnya menuju lantai 5 gedung perpustakaan untuk menghadiri acara kuliah terbuka bertema 'Memperkokoh Kebhinekaan Indonesia'.

Sebelumnya di Juanda, Megawati meminta Risma untuk tetap mengemban tugas sebagai walikota bersama Wawali Whisnu Sakti hingga masa jabatan rampung pada 2015. Risma diingatkan untuk tegar dari segala goyangan.

Sumber: NewsDetik.com

 

Megawati: Akhiri Konflik Surabaya

Larang Risma Mundur, Whisnu Diminta Bantu


SURABAYA – Warga Surabaya boleh berharap kotanya kembali membangun dengan suasana damai. Sebab, konflik selama sebulan terakhir yang terkait dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang menyatakan ingin mundur dan wakilnya, Whisnu Sakti Buana, boleh dibilang berakhir.

Titik terang penyelesaian konflik itu diperoleh dalam sebuah pertemuan Risma dan Whisnu serta sejumlah pengurus DPP PDIP di ruang VIP Bandara Juanda kemarin (1/3). Dari DPP PDIP, pengurus yang hadir, antara lain, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Wasekjen Hasto Kristianto. Gubernur DKI Jakarta Jokowi juga hadir.

Seusai acara itu, dibacakan pernyataan dari DPP oleh Hasto. Isinya, pertama, pernyataan bahwa Mega secara resmi melarang Risma mundur. ”Karena kalaupun terus seperti ini, maka yang dirugikan adalah rakyat Surabaya. Energi yang ada sebaiknya digunakan untuk fokus berpikir dan bekerja untuk rakyat,” tuturnya.

Hasto menjelaskan, Mega sudah memanggil Risma dan Whisnu ke rumahnya pada 23 Februari lalu. ”Intinya, Ibu Risma sudah setuju untuk melakukan perintah ketua umum partai untuk tidak mundur. Kami juga meminta Whisnu untuk sekuat tenaga membantu wali kota sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya,” jelasnya.

DPP juga menyatakan bahwa sudah tidak ada permasalahan terkait dengan prosedur pemilihan Wawali. Sebelumnya, Risma maupun sebagian anggota panitia pemilihan DPRD Surabaya meragukan keabsahan pemilihan Wawali meski SK Mendagri sudah turun. ”Artinya, secara hukum sudah tidak ada masalah,” ucap Hasto.

Selain itu, Hasto menegaskan, DPP memandang masih ada kaitan antara konflik tersebut dan tahun politik. ”Ada sejumlah orang yang ingin membuat perpecahan. Ini yang harus disikapi,” tandasnya. Seharusnya, terang dia, tahun politik disikapi sebagai tahun istimewa bagi rakyat untuk memilih pemimpin yang baik.

Di tempat yang sama Mega juga memberikan pernyataan yang terkait dengan konflik Risma. ”Saya kira apa yang disampaikan Wasekjen (soal konflik Risma) sudah jelas,” papar Mega.

Menurut dia, sebenarnya tidak ada masalah apa-apa di balik konflik tersebut. ”Cuma kadang media memang, apa itu istilahnya, suka nggoreng. Tapi tidak apa-apa. Kalau tidak gitu, suasana jadi tidak hangat,” ujar Mega dengan nada jenaka. ”Jangan-jangan saya ngajak Mas Jokowi ke sini juga mau digoreng apa gitu,” katanya. Padahal, alasannya sederhana. ”Mas Jokowi Sabtu (1/3) libur? Dijawab iya, saya libur. Kalau gitu, ikut saya mau? Karena Mas Jokowi bisa ikut, ya saya ajak saja,” imbuh Mega.

Selain itu, sambil menepuk paha Risma yang duduk di sebelah kanannya, Mega menyatakan sudah bicara panjang lebar soal konflik wali kota Surabaya. ”Pesan saya, agar yang diutamakan adalah kepentingan rakyat Surabaya,” terangnya. Dikatakan Mega, dirinya juga menguatkan Risma. ”Saya katakan kepada Mbak Risma bahwa menjadi pemimpin itu harus siap dengan goyangan dan tekanan. Apalagi jadi wali kota Surabaya,” tuturnya.

Setelah Mega berbicara, Hasto menawarkan kesempatan kepada Risma maupun Whisnu untuk bicara. Seolah sepakat, keduanya menggeleng. Lalu, jumpa pers yang berlangsung hanya sekitar 15 menit tersebut pun berakhir.

Dalam pertemuan kemarin Risma terlihat cukup banyak tertawa. Entah kepada jurnalis maupun Whisnu atau Mega. Bahkan, Whisnu sempat berbisik-bisik kepada Risma di tengah jumpa pers.

Hasto sendiri kemudian mengatakan bahwa Surabaya menjadi salah satu kota paling penting bagi PDIP. ”Karena dulu jadinya Ibu Mega sebagai ketua umum DPP PDIP bermula dari Surabaya.

Ketika dalam kongres luar biasa, secara de facto, Ibu Mega resmi menjadi pemimpin PDI saat itu,” terangnya. Setelah itu, rombongan Mega datang ke
kampus II Universitas Surabaya (Ubaya) di Jalan Tenggilis. Mega maupun Jokowi diplot sebagai pembicara mata kuliah umum dengan tema Memperkukuh Ke Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia dari Primordial ke Sipil Politik di gedung Perpustakaan Ubaya lantai VI. (ano/kus/c11/agm)

Sumber: Jawa Pos, 2 Maret 2014

 

Megawati & Jokowi Beri Kuliah Umum Di Ubaya

Solopos.com, SURABAYA – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengisi kuliah umum di Universitas Surabaya(Ubaya) pada Sabtu (1/3/2014).

Dalam kuliah umum bertemakan Memperkokoh Kebhineka Tunggal Ikaan – dari Primodial ke Sipil-Politik tersebut Megawati mengajak para mahasiswa dan peserta kuliah lainnya untuk menghayati Pancasila dan berani menghadapi tantangan apapun di depan.

“Bapak saya pernah berpesan, Mega kalau ketemu orang asing, tegakan wajahmu, tatap matanya. Lah nggak ada beda kok. Kita itu punya kelebihan loh. Indonesia kalau pulaunya copot satu saja, itu sangat diinginkan orang asing,” kata Megawati dalam pidatonya kepada para mahasiswa Ubaya.

Megawati juga mengatakan kepada para mahasiwa itu bahwa jangan sampai Indonesia dipecah belah oleh orang-orang asing, untuk itu perlunya memperkuat Kebhineka Tunggal Ikaan.

“Saya bukan anti asing, saya cinta pada warganya, tapi kalau mereka datang cuma untuk merugikan, buat apa? Masa’ petani sayur saja bisa dirugikan sampai kita tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu mau jadi bangsa apa ini?Itu kan bentuk penjajahan baru,” tuturnya.

Kuliah umum yang digelar di ruang Perpustakaan Ubaya itu cukup dipenuhi peserta dan mahasiswa. Sebelum Megawati bicara di podium, seorang pria di barisan paling belakang berteriak, PDIP untuk presiden.

Sementara itu, dari pengamatan Bisnis di lokasi, ada seorang pria yang juga mengenakan kaos simpatisan Joko Widodo bertuliskan Jokowi for 2014.

Sumber: SoloPos.Com

 

Update: 03-03-2014 | Dibaca 9640 kali | Download versi pdf: Jokowi-Ndagel-Saat-Beri-Kuliah-Umum-Di-Universitas-Surabaya.pdf