Warga Jatim Siap Memilih


  • 30-08-2013
  • Fadjar Efendy Rasjid

SURABAYA, KOMPAS.com — Rakyat Jawa Timur, Kamis (29/8/2013), akan menentukan siapa gubernur dan wakil gubernur untuk periode 2014-2019. Sebanyak 30 juta dari 41 juta jiwa penduduk provinsi ini memiliki hak suara. Partisipasi politik rakyat sangat penting untuk memperkuat kualitas demokrasi.

Empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur, yakni Soekarwo-Saifullah Yusuf, Eggi Sudjana-M Sihat, Bambang Dwi Hartono-Said Abdullah, dan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja.

Sosialisasi tentang pemilihan umum kepala daerah (pilkada) masih minim. Ini tecermin dari betapa masih banyak warga belum tahu kapan pilkada digelar dan siapa saja calonnya. Dalam diskusi ”Masa Depan Jawa Timur di Mata Anak Muda” yang digelar Harian Kompas dan Universitas Surabaya, mahasiswa yang menjadi peserta utama umumnya mempertanyakan kapan pilkada berlangsung.

Bagaimana pemilih pemula, yang sekitar 3 juta orang, dapat menentukan pilihan apabila mereka tidak kenal sosok pasangan calon yang ikut dalam pertarungan untuk meraih suara terbanyak. Adapun pilkada akan digelar di 71.033 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 38 kabupaten/kota.

Menurut pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi, angka golongan putih (golput) alias tidak memilih diperkirakan sekitar 18 persen. Namun, kendala teknis, seperti minimnya sosialisasi dan karut-marutnya daftar pemilih tetap justru bisa mendongkrak jumlah warga yang tidak memilih. Apalagi, pada pilkada 2008, pemilih yang tak menggunakan hak pilihnya hampir 50 persen.

Jadi, momentum politik dewasa ini—dalam bentuk pemilihan umum yang langsung dengan jaminan cukup kebebasan untuk memilih dan dipilih—menjadi saat yang tepat bagi warga untuk tak bersikap golput dalam Pilkada Gubernur Jawa Timur 2013.?

Saat ini, negara dan pembangunan memerlukan partisipasi politik karena pemilihan umum menemukan kesempatan yang relatif tepat sebagai wahana partisipasi warga. Meski tidak sempurna, iklim dan budaya politik telah memberikan kebebasan yang dibutuhkan bagi pemilu.

”Idealnya warga ikut aktif dalam politik bangsa untuk memilih. Tentu sebaiknya berupa pilihan yang rasional untuk mendapatkan kandidat dengan rekam jejak terbaik dan program kerja terbaik,” kata Guru Besar Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang Prof Dr Djoko Saryono.

Djoko yang dikenal sebagai budayawan menjelaskan, tata dan struktur peraturan dalam pemilihan gubernur dan pemilu secara umum cukup banyak direformasi. Dengan demikian, muncul kandidat partai dari semua golongan masyarakat, bahkan ada kandidat independen di luar partai.

”Tidak ada kontestan yang ikut dalam kontestasi secara tidak fair. Itu sudah cukup untuk menjadi jaminan netralitas meski tentu tidak sangat sempurna,” katanya.?

Mantan komisioner Komnas HAM, Hesti Armiwulan, menjelaskan, penting sekali menggaet pemilih saat ini karena, dalam kenyataannya, partisipasi pemilih tidak pernah mencapai 100 persen. Pemilih yang aktif cenderung berasal dari pedesaan, sementara pemilih perkotaan cenderung pasif. Pemilih muda cenderung tidak aktif karena kejiwaannya masih cenderung apolitis. ”Potensi itu yang harus diupayakan melalui sistem dan aturan serta budaya politik pemilih agar lebih aktif terlibat,” kata dosen Fakultas Hukum Ubaya itu.?

Hingga Rabu siang, beberapa warga mempersiapkan pembuatan TPS. Umumnya masih memasang tenda di lokasi TPS, tetapi belum dilengkapi meja dan kursi.

Bersamaan dengan Pilkada Jatim, digelar juga pilkada di Kota Mojokerto, Kediri, Madiun, dan Probolinggo.

Sumber : KOMPAS SIANG
Editor : Kistyarini

Update: 30-08-2013 | Dibaca 8995 kali | Download versi pdf: Warga-Jatim-Siap-Memilih.pdf