ACFTA Merupakan Seleksi Alam


  • 25-03-2010

Genderang perdagangan bebas ASEAN dan China, atau biasa disebut Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah ditabuh 1 Januari 2010 lalu. Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan Cina. Sebaliknya, Indonesia akan mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara tersebut.


Pro dan kontra pun kian bergulir. Banyak yang beranggapan, Indonesia terlalu terburu-buru menyepakati perdagangan tanpa kesiapan industri nasional dan ekonomi.Implikasinya, banyak yang pengusaha kecil dan menengah akan menjadi korban. Para pengusaha mulai khawatir produk-produknya tidak bisa bersaing dengan produk-produk dari China. Mau tak mau, ACFTA yang diteken pada 29 November 2004 di Laos ini, harus dihadapi dan tidak dapat dicegah. Pertanyaannya, apakah kebijakan pasar bebas ini akan membawa perubahan nasib rakyat negeri ini yang masih dihimpit dengan kemiskinan?


Menurut Ria Sandra Alinbudiono M Si, Kajur Akuntansi FBE Ubaya, pada awal kemunculan ACFTA memang memaksa banyak company berguguran. Ketidaksiapan, kata Ria, adalah faktor mereka gulung tikar. “Namun sejalan dengan waktu, mereka akan belajar dan bangkit kembali,” tambahnya. Pastinya, dengan kegagalan tersebut merupakan kunci keberhasilan dalam usaha. “Dan itu adalah jiwa entrepreneur sejati,” lanjutnya. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, dunia usaha perlu dituntut kreatif dan inovatif. Tentunya mengambil langkah menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.


Ria pun menuturkan, ACFTA itu tidak merugikan. “Merugikan dalam artian apa. Ini adalah seleksi alam, dan kita harus survive. Lihatlah jangka panjangnya,” kata Ria. Berkaca pada accounting analysis, Ria mengutarakan, bahwa dengan adanya ACFTA, kita harus lebih inovasi, berbenah diri dan kreatif. “ Pastinya melakukan analysis yang tepat pada aktivitas yang ber-value added,” tambahnya. Dan ini merupakan peluang besar untuk meningkatkan ekspor UKM di tanah air, mengingat China merupakan penduduk dengan populasi mencapai 1,5 miliar. Wanita kelahiran 16 Maret 1969 ini pun berkeyakinan, perusahaan kecil maupun menengah di Indonesia akan mampu melalui masa transisi ini. Teruslah berkarya anak negeri Indonesia!! (cuy/wu)

Update: 25-03-2010 | Dibaca 4978 kali | Download versi pdf: ACFTA-Merupakan-Seleksi-Alam.pdf