Ketika Ekonomi Sulit Saat Pandemi, BLT Adalah Obat Resesi Dan Depresi


  • 07-09-2020

Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah salah satu upaya pemerintah yang sering dilihat saat pandemi Covid ini. BLT ini diberikan dengan berbagai nama, kepada berbagai golongan dan lapisan masyarakat Indonesia. Kendati demikian, BLT memiliki pro dan kontra dalam teknisnya. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran dan anggapan masyarakat bahwa BLT adalah upaya yang sia-sia. Untuk menjawab kekhawatiran ini, maka kami mewawancarai Dr. Werner Ria Murhadi, S.E., M.M., CSA., selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya) untuk memberi pandangan peran BLT dalam menstimulus ekonomi saat pandemi. Simak wawancaranya berikut ini!

 

Q: Banyak sekali jenis BLT yang diberikan ke masyarakat. Mengapa pemberian BLT ini dipandang perlu untuk dilakukan?

A: Sebelum dibahas, perlu dicatat bahwa dalam kondisi pandemi, tidak hanya Indonesia, semua negara mengalami hal ini. Pandemi ini adalah kejadian yang luar biasa. Hampir semua sektor usaha mengalami kesulitan. Tentu harus ada penyelamat, karena kalau tidak ada maka semua sektor usaha akan semakin terpuruk. Karena itu seluruh negara di dunia memberi bantuan kepada masyarakatnya. Baik itu dalam bentuk langsung tunai kepada masyarakat, ataupun subsidi sejumlah uang kepada perusahan.

Q: Di seluruh dunia Pak?

A: Iya. Seperti di Jerman, selain bantuan langsung mereka juga memberi bantuan ke perusahaan supaya tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Kenapa? Karena semisal dalam kondisi ini perusahaan melakukan PHK, ekonomi akan semakin terpuruk. Bila terpuruk maka akan semakin sulit untuk membaik lagi. Kalau sudah di PHK nanti orang tidak pegang duit. Kalau orang tidak pegang duit, tidak bisa beli barang. Kalau tidak bisa beri barang, nanti saat recovery perusahaan jadi kebingungan--karena ini produksi tetapi tidak ada yang membeli. Jadi ya, kebijakan ini memang dilakukan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga seluruh dunia.

Di Indonesia kita banyak melihat subsidi suku bunga kredit, sektor perbankan, UMKM, hampir sema diberi bantuan pemerintah. Pekerja juga diberi bantuan, karena kondisi ini sangat luar biasa--kejadian luar biasa yang membuat kita harus bertindak berbeda dan tidak seperti biasanya.

 

Q: Lalu Pak, saya seringkali melihat bahwa BLT ini adalah salah satu bentuk stimulus ekonomi..

A: Betul, karena kalau dibiarkan seperti ini terus maka pertumbuhan ekonomi akan ke arah negatif, sehingga seluruh dunia akan kembali ke great depression seperti di tahun 1928 silam.

 

Q: Great depression ini apa Pak?

A: Great depression atau depresi besar di tahun 1928-1930. Pernah terjadi PHK massal di dunia. Harga saham jatuh sampai 50 persen. Banyak orang bunuh diri. Penyebabnya waktu itu adalah masalahnya ekonomi, sehingga betul-betul terpuruk. Sampai dua tahun pertumbuhan selalu negatif. Dampaknya baru bisa recovery dengan jangka panjang, sampai 10 tahun. Tentu kita belajar dari kejadian 1930 an itu ya. Jangan sampai masuk ke depresi.

Q: Apa yang masuk dalam kategori ‘depresi’ itu pak?

A: Depresi itu terjadi ketika negara-negara mengalami resesi secara bersamaan dan dalam. Negative growth-nya itu dalam sekali. Itu berbahaya bagi kita karena dampaknya bisa jadi peperangan, kerusuhan dan sebagainya. Implikasi sosial yang ditimbulkan sangat bermacam-macam.

 

Q: Lalu kalau soal resesi Pak, pertumbuhan kuartal 2 (Q2) Indonesia mencapai -5%. Apakah ini sudah tergolong resesi?

A: Nah ini. Indonesia belum resesi, karena kuartal 1 (Q1), periode Januari, Februari, dan Maret ekonomi tumbuh 2,9 persen. Barulah kuartal 2 (Q2), periode April, Mei, Juni, turun 5,6 persen.

Resesi adalah kondisi bila dua triwulan (kuartal) berturut turut mengalami pertumbuhan negatif. Kita menunggu triwulan ketiga di Juli, Agustus, dan September. Itulah kenapa pemerintah melakukan new normal, ‘memaksa’ membuka ekonomi supaya berjalan. Seluruh dunia memaksa untuk membuka diri. Karena kalau dibiarkan terus, ini akan jatuh terus ekonomi.

 

Q: Bagaimana anggapan Bapak dengan pernyataan bahwa: Lebih memilih ekonomi dengan mengorbankan kesehatan?

A: Tidak. Kita bukan bicara tentang memilih kesehatan dan ekonomi, lalu kita memilih kesehatan dan ekonomi dibiarkan. Sama juga nanti perang juga, rusuh karena butuh makanan dan macam-macam. Dua duanya ini akan berjalan. Ekonomi tetap berjalan bagaimana? Bulan Juli itu dibuka, semua membuka lockdown. Termasuk Indonesia PSBB diperlonggar supaya ekonomi berjalan. Kalau ekonomi berjalan, kita berharap triwulan ketiga tidak negative growth. Jikalau target ini tercapai maka kita mungkin salah satu negara di asian tenggara, setelah Vietnam, yang tidak resesi. Asean resesi, tinggal Indonesia dan Vietnam. Vietnam bagus. Kita berharap di bulan Juli Agustus September. Karena itu kemarin Pak Jokowi sempat marah ketika membahas serapan anggaran para Menteri. Pasalnya dana dikucurkan tetapi tidak mengalir. Kalau dana ini masih belum berjalan di daerah, maka masyarakat tidak bisa dapat apa-apa. Tidak bisa berbelanja. Maka ekonomi akan terperosok.

 

Q: Lalu terkait BLT yang baru Pak, untuk karyawan pekerja melalui BPJS. Disana saya melihat ada beberapa persyaratan, salah satunya gaji di bawah 5 juta. Mengapa BLT perlu dibatasi oleh beberapa persyaratan?

A: Kalau tidak dikasi persyaratan bahaya. Nanti semua orang yang diatas 5 juta juga ngaku-ngaku. Itu untuk memudahkan kategorisasi. Misal, masyarakat miskin sudah BLT, maka tahap sekarang yang dibantu adalah menengah ke bawah. Dikategorisasikan melalui pendapatan UMR hingga maksimum 5 juta. Itulah mereka yang akan dibantu. Supaya pendataan jelas, maka pemerintah menggunakan data dari BPJS. Karena kalau tidak melalui BPJS nanti semua orang ngaku. Karena beda, Karakteristik kita adalah bangsa yang mau mengakui miskin, beda dengan dunia lain. Dunia lain tidak mau mengaku miskin, kalau bisa tangan di atas, kalau kita orang kaya pun kalau bisa minta BLT. Sejauh ini BLT pertama diberikan untuk BUMN, lalu UMKM. Kemudian bertahap ke masyarakat salah satunya bantuan ke pulsa untuk semua guru, dosen, dan mahasiswa pelajar. Semua bertahap.

 

Q: Banyak yang skeptis kalau BLT berjalan dengan baik. Sebagai pengamat ekonomi, akankah BLT efektif?

A: Efektif. Karena kalau kita tidak melakukan apa-apa, maka ekonomi akan terpuruk. Kalau tidak ada subsidi BUMN, UMKM, tidak subsidi masyarakat kelas bawah. Ekonomi kita akan betul-betul terpuruk. Kalau sudah terpuruk—ya kita belajar dari tahun 98—ketika terpuruk masyarakat mudah dikompori. Apalagi sekarang ada kondisi radikalisme yang berkemabng. Jadi begitu ada orang yang kelaparan, akan gampang sekali untuk membakarnya. Sehingga dampaknya nanti akan lebih besar biayanya dibanding ratusan triliun yang sekarang diberikan untuk subsidi rakyatnya sendiri. Saya tetap optimis sebab ekonomi sudah bergerak sekarang. Kita berharap pertumbuhannya tidak negatif.

 

Q: Tanda-tanda kondisi eknomi yang terpuruk itu seperti apa?

A: Kita bisa lihat dari daya beli menurun. Terjadi ketika uang yang kita miliki tidak mampu membeli. Ya bagaimana mau membeli kalau tidak punya pemasukan. Kenapa? Karena perusahaan melakukan PHK kepada karyawan. Ya bagaimana tidak PHK, selama 3 bulan perusahaan tidak boleh jualan karena PSBB yang ketat kayak gitu. Semua orang tidak beraktivitas. Perusahaan tidak berproduksi mengurangi produksi, akhirnya mengurangi karyawan. Akibatnya ada daya beli rendah. Daya beli rendah berakibat pada produsen yang tidak banyak produksi, karena dia tahu hasil produksinya tidak akan terjual. Akhirnya akan merosot kebawah terus. Itu dikatakan eknomi terpuruk, dan dilihat dari pertumbuhan ekonomi per kuartal.

 

Q: Semisal Indonesia tetap masuk resesi, masihkah ada harapan?

A: Semisal resesi dialami—yakni dua triwulan berturut-turut negatif—bank Dunia yakin kalau Indonesia akan cepat pulih kalau hanya resesi. Kenapa? Karena Indonesia memiliki konsumsi dalam negeri yang tinggi. Itu kehebatan Indonesia. Namun kalau yang terjadi adalah depresi, artinya pertumbuhan lebih dari dua triwulan mengalami negative growth, itu ekonomi dunia yang akan sulit. Contohnya China sangat tergantung dengan perdagangan dari amerika. Singapore dan Malaysia, kenapa mereka sudah resesi? Karena mereka juga tergantung dengan ekspor import US Europe.

Indonesia itu blessing in disguise. Artinya apa, kebetulan export import kita tidak terlalu besar dibanding negara lain, sehingga ekonomi dalam negeri ini lebih banyak berputar karena konsumsi domestik. Nah, kalau kita seperti Singapore dan Malaysia yang resesi, mereka nggak bisa lempar barang ke Amerika karena mereka juga resesi. Untungnya Indonesia tidak terlalu banyak export import. Lebih banyak konsumsi dalam negeri. Sehingga nanti ketika kita mengalami resesi, dan covid sudah keluar vaksinnya maka kita beraktivitas normal dan ekonomi kita kembali melesat naik karena konsumsi dalam negeri kita kuat. Indonesia diyakini sebagai salah satu negara yang pulih dengan cepat. Ini ramalan Bank Dunia.

 

Q: Pertanyaan terakhir Pak, lalu bagaimana sebaiknya cara masyarakat dalam menyikapi BLT sehingga BLT dapat berjalan dengan efektif?

A: Ini pertanyaan bagus. Kalau dulu kita mengatakan pada orang, tolong ditabung / investasi. Kali ini tidak. BLT itu habiskan. Belanjakan supaya ekonomi berputar. Kalau semua dapat BLT dan disimpan ke tabungan, maka ekonomi kembali stagnan. PHK akan terus berlanjut. Jadi sekarang BLT itu memang digunakan, diharapkan untuk membeli produk hasil UMKM, produk perusahaan, supaya UMKM dan perusahaan itu bisa berproduksi. Kalau mereka berproduksi tidak PHK karyawan. Itu multiplayer effect-nya seperti itu. Itu yang dilakukan di internasional, mencegah perusahaan-perusahaan dan UMKM mati dengan cara memberikan BLT kepada masyarakat supaya masyarakat belanja. Jangan ditabung dan dibelanjakan. Belilah di tetangga, dan UMKM kenalan kita supaya mereka dapat berproduksi terus dan mereka bisa merekrut karyawan lagi.

 

Nah, berikut adalah hasil wawancara kami dengan Pak Werner. Jangan hilang harapan dan patah semangat, sebab Indonesia adalah negara yang diprediksi segera pulih saat pandemi. Harapan selalu ada! Jangan berhenti berjuang. (sml)

Update: 07-09-2020 | Dibaca 349 kali | Download versi pdf: Ketika-Ekonomi-Sulit-Saat-Pandemi--BLT-Adalah-Obat-Resesi-Dan-Depresi.pdf