Maknai Paskah Di Tengah Pandemi Covid-19 Dengan Bersyukur


  • 08-04-2020

Hari Raya Paskah adalah hari raya paling besar dan ditunggu-tunggu umat Kristiani sedunia. Makna Paskah yang sesungguhnya adalah pengampunan. Paskah sebagai moment untuk menghapus dosa. Itulah mengapa sebelum Paskah umat Katholik akan melakukan ritual berpuasa hingga mengaku dosa. Sebelum umat Katholik merayakan Paskah, ada beberapa peristiwa penting seperti Yesus membasuh kaki Para Rasul, Hari Minggu Palma serta momen ketika Yesus Disalib hingga bangkit pada hari ke tiga. Umat Kristiani berbondong memadati Gereja untuk memperingati peristiwa istimewa.

Namun era pandemi Covid-19 kali ini, pemerintah menghimbau untuk melakukan ibadah di rumah saja. Lalu bagaimana sebaiknya kita memaknai hal tersebut? Untuk kali ini kami mewawancarai Dr. Farida Suhud, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi, yang juga berstatus sebagai aktivis gereja ini. Simak wawancaranya berikut ini!

 

Q: Apa arti dan kesan Paskah menurut ibu?

A: Kesannya sangat mendalam. Kenapa? Karena untuk saya pribadi masa pra-paskah, diawali dengan rabu abu, mengingatkan manusia bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Sekarang juga sudah memasuki pekan suci. Ceritanya seperti itu.

Q: Lalu apa dampak Covid-19 terhadap suasana perayaan paskah?

A: Menyikapi suasana sekarang itu, tentang pandemi covid-19, justru membuat saya pribadi semakin membuka mata hati dan pikiran untuk memaknai bahwa manusia ini betul-betul debu yang tidak ada artinya. Tiupan angin saja sudah cukup untuk tersingkir jauh. Menurut saya kali ini luar biasa sebab Paskah harus dirayakan di rumah saja dengan ibadah online.

Q: Apakah Covid-19 ini dimaknai sebagai hal yang buruk Bu?

A: Ada sisi positifnya, kenapa? Bumi seolah olah dikembalikan ke sifat alaminya. Saya rasa Tuhan ingin mengajak manusia di muka Bumi ingin mengembalikan alam sebagaiman mestinya. Semua dimulai dengan adanya keseimbangan, tetapi karena keserakahan dari dalam diri manusia membuat keseimbangan tersebut kacau. Contohnya polusi dan sebagainya. Nah Covid-19 ini juga menjadi bumerang untuk kita sebagai manusia yang memporak porandakan bumi ini.

Q: Berarti ini saat yang tepat untuk introspeksi ya bu?

A: Ya. Nah kalau kemudian manusia berpikir; ‘Kok Tuhan tega membuat umat yang dicintai-Nya itu menderita?’ itu salah besar. Kenapa? Jalan yang direncanakan oleh kita tidak selalu seiring dengan rencana Tuhan. Kalau saya memaknai dengan pengorbanan Tuhan saat Paskah, tidak ada artinya penderitaan saat pandemi ini kalau dibandingkan dengan yang dialami oleh Yesus saat dikhianati, dicambuk, memanggul salib, menggunakan mahkota berduri, dan jalan ke golgota. Belum lagi salib yang dibawa adalah yang akan Ia gunakan untuk disalibkan demi menebus dosa-dosa manusia. Ini penderitaan yang luar biasa dan tentunya tidak bisa dibandingkan dengan work from home (WFH) ‘wah bosen dan sepi’, tetapi juga harus dilihat bahwa Tuhan itu tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan ciptaan-Nya. Jadi ini saatnya kita dengan segala akal budi, berusaha untuk mengatasi permasalahan ini. Biarkan tangan Allah tetap bekerja melalui ilmuwan, tenaga medis, dan sukarelawan.

Q: Berarti justru Paskah kali ini punya makna yang sangat istimewa ya Bu?

A: Iya benar. Selain itu, saya memaknai paskah ini dengan bisa diam di rumah. Biasanya jarang bertemu dengan anak..sisipan terus. Saya pulang dia pergi dan sebaliknya. Sekarang jadi punya waktu lebih untuk berdoa bersama. Peristiwa ini mendekatkan dengan keluarga yang mungkin sering terabaikan. Hal ini juga membuat relasi kita dengan Sang Pencipta mulai terjamin kembali. Biasanya pulang kantor langsung tidur, tapi dengan adanya peringatan pandemi Covid-19 ini kita mau tidak mau diingatkan untuk bersyukur. Bersyukur dan berterimakasih karena sudah diberi kesempatan untuk melakukan edukasi. Kemarin senang saya sempet bisa mengedukasi masyarakat sekitar Ubaya terkait penggunaan antiseptik. Pandemi Covid-19 ini suatu tantangan yang luar biasa, tapi disaat yang sama kedekatan dengan Tuhan mulai terjalin kembali.

Q: Berarti memang pandemi Covid-19 memberi banyak kesempatan untuk merefleksikan hidup ya bu?

A: Benar. Jujur selama periode saya menjabat rasanya waktu selalu habis. Saya meninggalkan kegiatan choir Gereja, dan seringkali absen ibadah doa-doa. Banyak yg saya tinggalkan seolah seolah membelakangi Tuhan. Dengan peristiwa ini saya diingatkan untuk kembali lagi. Sama seperti kita melihat alam sudah kembali, polusi berkurang, banyak sekali kicauan burung di pagi hari. Ada nikmat alam yang kembali. Kalau diingatkan sedikit-seidkit kita sering menutup hati dan telinga, tapi melalui pandemi Covid-19 ini saya rasa Tuhan seakan-akan sedang mengingatkan kita bersama: “Ayo kembalikan alam yang Aku ciptakan untuk kenyamanan bersama.”

Q: Memang kita harus menyikapi pandemi ini dengan positif ya Bu.

A: Betul. Tetapi sebenarnya tingkatan orang beda-beda. Tingkat orang menyikapi segala sesuatu beda. Meskipun kita pintar luar biasa tetapi dengan menyikapi kondisi seperti ini, simpelnya karena proses pembelajaran yang berubah, dari konvensional sampai online banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Kita harus sadari bahwa ini bukan kondisi yang ideal, ini juga permasalahan bersama. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini kita menyadari bahwa harus melakukan antisipasi secara bertahap. Belum lagi kalau bicara Farmasi, bagaimana dengan praktikum? Tentu ini jadi PR kita bersama.

Q: Lalu bagaimana sebaiknya sikap ideal kita dalam menghadapi kendala keterbatasan?

A: Kembali ke pribadi masing-masing. Ketahanan terhadap permasalahan berbeda. Kedewasaannya berbeda. Kalau kita bisa menyikapi dengan kedewasaan dan cara berpikir yang terbuka, rasanya permasalahan juga bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Kalau kita bisa nerima dari kacamata positif, maka hasil akan positif. Lain hal nya ketika kita berpikir negatif. Jangan berpikir negatif.

Q: Lalu bagaimana caranya supaya kita tetap positif dan optimis Bu?

A: Nah contoh ketika work from home tadi. Bosen, sepi. Tetapi positifnya bisa diselingi banyak kegiatan di rumah seperti masak, bersih-bersih rumah ketika kita sudah jenuh dengan administrasi ataupun online learning. Kita jadi punya waktu untuk merawat rumah, merawat tubuh dengan bentuk jalan pagi/olahraga yang ketika kuliah konvensional tidak sempat melakukan. Kalau konvensional terkadang harus sampai kampus jam set 7 untuk mempersiapkan praktikum.

Terkait relasi dengan orang lain, saya juga selalu berusaha melihat scara positif. Walaupun mereka pernah menyakiti saya, saya pasti berusaha memaafkan. Selama orang tersebut memiliki nilai positif, tentunya akan saya endapkan. Intinya adalah: ngapain dibuat stress? Sesuatu yang bisa dibuat enjoy, ya dibuat enjoy aja. Yang bikin stress itu kalau ada orang-orang yang tidak mau menerima hal positif.

Q: Luar biasa bu. Lalu apa pesan-pesan ibu untuk mereka yang merayakan Paskah?

A: Pesannya sederhana aja, kita nikmati bahwa punya Tuhan punya maksud yang luar biasa dengan peristiwa ini untuk membuka mata hati, pikiran, mendekatkan diri kepadanya dan kepada sesama. Terutama orang-orang yang dekat dengan kita yang selama ini kita abaikan. Jujur saja ,manusia saat ini dituntut macam-macam. Seminggu 7 hari sehari 24 jam itu kurang apalagi metode online learning sekarang. 24 jam berfokus dengan tempat yang terbatas, namun tidak ada batasan waktu sehingga komunikasi bisa berlangsung sampai malam / dini hari jikalau memang diperlukan. Intinya kita ini harus jadi orang yang mampu bersyukur. Tuhan sudah memberikan segala sesuatunya itu adalah rencana yang tidak kita pahami. Saat inilah kita belajar memahami segala sesuatu yang direncanakan oleh Allah.

 

Nah berikut adalah wawancara dengan Bu Farida mengenai pemaknaan hari raya Paskah di masa pandemi Covid-19. Maka di tengah-tengah pandemi dan keadaan yang memang kurang ideal ini, saat yang tepat untuk bertanya: “Sudahkah anda bersyukur hari ini?” Salam sehat! (sml)

Update: 08-04-2020 | Dibaca 3557 kali | Download versi pdf: Maknai-Paskah-Di-Tengah-Pandemi-Covid-19-Dengan-Bersyukur.pdf