Jadi Pribadi Yang Lebih Siap Dengan Berinvestasi


  • 30-01-2020

Tahun baru, resolusi baru. Merumuskan tujuan hidup yang ingin kita capai adalah hal yang lazim dilakukan pada bulan-bulan pertama di tahun ini. Ingin menikah, ingin studi lanjut, ingin membeli rumah, ingin melakukan perjalanan ibadah, dan banyak tujuan lain. Pastinya hal tersebut membutuhkan sumber daya finansial yang cukup besar, sehingga tujuan-tujuan tersebut tidak akan bisa dicapai tanpa financial planning (perencanaan keuangan) yang baik. Untuk itu, kami berkesempatan mewawancarai Dr. Werner Ria Murhadi, S.E., M.M., CSA., selaku Kepala Program Studi Magister Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya. Simak wawancaranya berikut ini!

 

Q: Secara singkat, apa yang dimaksud dengan perencanaan keuangan?

A: Kemampuan atau cara kita mengelola sumber daya yang dimiliki individu atau keluarga dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan hidup, menyekolahkan anak, beli rumah, ibadah haji, dan sebagainya. Pasti itu membutuhkan dana yang besar. Jadi bagaimana kita mengelola sumber daya (penghasilan dan aset) dalam rangka mencapai tujuan hidup tadi. Pengelolaan sumber daya lah, pengelolaan keuangan.

Q: Apa indikator pengelolaan keuangan yang baik?

A: Pertama tentu harus punya simpanan / investasi yang cukup. Minimal 10% dari penghasilan diinvestasikan sehingga bisa dipergunakan untuk tujuan hidup yang akan datang. Idealnya 10-20% dari penghasilan. Kalau berani 50% tambah bagus, karena kita tidak pernah tahu kedepan akan seperti apa. Yang pasti kita tambah tua. Semua orang tambah tua, penyakit banyak, belum lagi bila ada kecelakaan, atau perubahan-perubahan dunia. Kita harus selalu siap.

Q: Usia ideal untuk memulai melakukan perencanaan keuangan?

A: Mulai dari kuliah. Contohnya di Ubaya, mahasiswa semester 2 sudah diajarkan untuk berinvestasi dengan menggunakan instrumen yang sesuai dengan kemampuan mereka. Seratus ribu rupiah pun bisa diinvestasikan melalui reksadana. Itu kalau secara disiplin kita lakukan hasilnya 5-10 tahun bisa luar biasa, dan jangan salah pilih karena banyak juga yang bermasalah.

Q: Apakah tahun 2020 menjadi tahun yang aman untuk investasi?

A: Kalau secara global tentunya ada ketidakpastian terkait perang dagang Amerika dengan China. Secara politik, Amerika dan Timur Tengah sedang berkonflik. Kita harapkan ketegangan tidak meningkat karena kalau ketegangan meningkat harga minyak akan naik dan itu dampaknya pada Indonesia luar biasa karena kita salah satu importir minyak. Sisi global, pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami stagnansi. Tidak ada pertumbuhan tinggi.

Q: Lalu mengapa kita harus berinvestasi Pak?

A: Karena masa depan penuh ketidakpastian, sehingga harus antisipasi dari sisi sumber daya atau keuangan. Maka dari itu tetap butuh investasi. Harus disiplin. Jangan tamak. “Saya minta return tinggi, resiko tidak ada!” Nah itu berbahaya. Harus banyak membaca dan membuka wawasan tentang alternatif produk. Yang paling sering terjebak adalah skema ponzi. Jadi suatu pengelola investasi membayar jatuh tempo menggunakan dana yang baru masuk. Kalau seperti itu tidak akan tahan lama.

Q: Apa yang dimaksud skema ponzi pak?

A: Kalau usaha yang benar-benar usaha, akan menjual produk. Walaupun bentuknya multi-level-marketing (MLM), selama produknya real tidak apa-apa. MLM hanyalah pengurangan alur distribusi. Kalau jual obat dari pabrik-distributor-pedagang besar-apotik, itu semua ambil untung sehingga harga jatuh ke konsumen mahal. MLM memotong jalur distribusi itu, dari pabrik langsung ke anggota. Skema Ponzi tidak menjual produk. Produk hanyalah kedok saja.

Ada yang jual program, ada yang jual iklan, produk tidak jelas. Tapi yang diutamakan adalah soal membership / keanggotaan. Misal anda punya dua anggota, kaki kiri, kaki kanan yang akan setor ke anda. Yang dijual bukan produk, tapi sumbangan dari bawahan itu. Nah yang bawah nanti cari lagi. Sumbang ke atas dan seterusnya. Suatu saat akan ketahuan belangnya. Kapan? Ketika orang sudah mulai jenuh dan tidak membeli. Yang rugi siapa? Yang terakhir membeli. Skema ponzi ini umumnya disebut pyramid scheme / skema piramida. Contohnya Talk Fusion. Dia menjual aplikasi yang memungkinkan kita untuk rapat online, pembelajaran online gratis. Lah pake Skype gratis. Talk Fusion sampai 9 juta, 15 juta, bayar itu. Produknya apa? Jualan sistem online. Tidak jual produk, tapi jual membership.

Q: Apakah ini yang dimaksud kurangnya manajemen resiko?

A: Benar. Manajemen resiko / risk management adalah hal utama yang harus dipertimbangkan dalam investasi. Dalam arti apa? Secara alamiah kalau suatu aset memberi return (hasil) tinggi, maka resiko akan tinggi. Demikian pula sebaiknya. Nah masalahnya seringkali masyrakat itu mendapat tawaran yang returnnya tidak masuk akal, lalu dibilang resikonya tidak ada. Banyak kasus hilang ratusan miliar dari produk abal-abal seperti “Setor 24 juta dapat mobil mewah.” Itu tidak masuk akal. Itu yang paling sering terjadi. Masyarakat harus tahu kalau return tinggi dan resiko rendah itu tidak masuk akal. Tapi publik banyak yang kena, dan itu menjadi keprihatinan kita karena tidak mampu mengelola resiko tersebut. High risk, high return (resiko tinggi, hasil tinggi). Low risk, low return (resiko rendah, hasil rendah).

Q: Berarti apa instrumen investasi yang terbaik untuk kita semua?

A: Saya rasa tidak ada yang semua. Itu tergantung dengan profil resiko investornya. Ada yang berani resiko tinggi, ada yang resiko rendah, ada yang tidak suka resiko sama sekali. Yang tidak berani resiko sama sekali ya deposito. Deposito return 6% masih dipotong pajak. Sangat rendah sekali. Tapi dia aman. Walaupun bank nya ditutup, dana akan dikembalikan oleh lembaga penjamin simpanan. Tapi kalau jantungnya kuat, berani resiko yang lebih tinggi harus mulai naik yang menengah ke atas. Bisa mulai ke reksadana. kenapa reksadana? Kalau kita nitipkan uang ke manajer investasi, dia kan profesional. Tapi harus berhati-hati jangan sampai seperti kasus Jiwasraya. Kalau jantungnya lebih kuat lagi bisa ke saham. Kalau mau yang lebih beresiko lagi di atas saham, bisa pake derivatif yang high risk, high return seperti option trading.

Q: Pasca kasus Jiwasraya, kepercayaan masyarakat menurun terhadap asuransi yang di bawah pengawasan OJK. Bagaimana menurut bapak?

A: Memang banyak yang kena. Mereka yang dikelola tidak baik ini dibekukan oleh OJK. Tapi kan berlangsung bertahun-tahun, lalu dimana sistem pengawasan kita? Mungkin memang ada sistem yang lemah. OJK yang sekarang mulai membongkar. Lalu OJK yang kemarin bagaimana? Itu juga hati-hati. Bisa jadi ada yang kurang benar dalam sistem.

Q: Lalu instrumen investasi apa yang aman Pak?

A: Kita harus cari tahu sendiri. Kita harus kritis dalam mencari track record pengelola. Setelah Jiwasraya, Asabri, Bumi Putera juga mau mbledhos. Harus cari mereka yang betul-betul punya track record baik. Misal, apakah instrumennya pernah gagal bayar atau tidak, atau apakah manajemen dikelola dengan baik. Apakah pengelola pernah tertangkap melakukan hal yang menyimpang? Misal dulu di asuransi X, lalu di reksadana Y. Atau apakah dana investasi dikelola dengan tidak sehat? Misalnya: investasi di perusahaan ecek-ecek. Gunakan google, ini era big data.

Q: Lalu apakah investasi ini akan menjamin suksesnya kita mencapai tujuan tersebut?

A: Belum tentu. Misal mau nikah. Hitung-hitung 200 juta. Tiba-tiba harga minyak dunia naik sehingga semua bahan yang import naik, lalu ada penyesuaian harga. Ternyata jadi 250 juta. Itu di luar kendali kita, dikembalikan lagi apakah mau tetap di 200 juta dengan beberapa konsekuensi atau siap biaya tambahan. Terkait hal tersebut, penting untuk terus mengelola aset dengan baik dengan memberi target. Kita review secara periodik, setiap 6 bulan misalnya. Kita menargetkan return 8%. Nah 6 bulan bakal tercapai tidak? Jika tidak harus ada plan B. Kita harus mengubah pola investasi kita.

Nah itu adalah hasil wawancara dengan Pak Werner terkait perencanaan keuangan melalui investasi. Tahun 2020 akan penuh dengan berbagai hal yang tidak kita duga, termasuk berbagai kejadian yang sudah melanda berbagai belahan dunia di negara lain di bulan Januari 2020 ini. Karena itu marilah kita menjadi pribadi yang siap menghadapi berbagai perubahan dengan investasi. (sml)

Update: 30-01-2020 | Dibaca 1042 kali | Download versi pdf: Jadi-Pribadi-Yang-Lebih-Siap-Dengan-Berinvestasi.pdf