Bantu ODHA: Perlu Upaya Struktural Dan Kultural


  • 04-12-2018

Awal Desember (tepatnya 1 Desember) diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Tak jarang kita menemukan banyak sekali aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa di jalan dengan slogan: “Jauhi penyakitnya, bukan orangnya.” Ya, slogan ini memang paling sering didengungkan oleh aktivis-aktivis yang membela hak-hak Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), namun mengapa slogan itu harus didengungkan? Untuk memberi pemahaman lebih, tim Ubaya berkesempatan untuk mewawancarai Dr. Dra. N.K. Endah Triwijati M.A., selaku dosen Fakultas Psikologi yang juga adalah praktisi dalam menghadapi kasus-kasus kaum yang termarginalisasi dan sering dijauhi, ODHA adalah salah satunya. Berikut adalah cuplikan wawancaranya.

Q: Menurut ibu Tiwi (panggilan akrab Endah Triwijati), kenapa ODHA ini cenderung dijauhi?

A: Pengertian orang tentang Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) ini kan sedikit-banyak bersumber dari pemahaman bahwa ODHA adalah orang-orang yang Gay/ Homoseksual. Jadi ada penilaian negatif yang dimunculkan dari kacamata agama, bahwa hal itu muncul dari orientasi seksual yang “menyimpang” itu tadi. Jadi framing itu memunculkan stereotipe bahwa ODHA ini memiliki moral yang “Negatif” sebagai seorang manusia.

Q: Oh, jadi proses framingitu ya yang membuat ODHA cenderung dijauhi?

A: Ya, padahal kan penularan itu bisa beragam. Jadi ODHA sudah ditempeli dengan asumsi bahwa itu adalah ‘Kutukan dari Tuhan’ karena perilaku yang sudah dilakukan. Dan kita tahu segala penilaian yang sifatnya kearah moral agama kan cenderung mutlak gitu, tidak bisa diganggu gugat. Sehingga apapun yang dilakukan orang itu sudah tidak pantas.

Q: Jadi memang ada asumsi ODHA itu mutlak pasti salah secara ‘moral’ ya?

A: Iya jadi kalau dia kemudian sakit itu kesalahannya, jadi dia harus menerima ‘ganjaran’ dari situ. Kasihan sekali pada anak-anak yang ODHA yang ngga ngerti apa-apa tapi harus dijauhi karena asumsi itu.

Q: Iya karen ada asumsi tadi ya.

A: Betul karena sebenarnya mau dia gay atau apapun, kalau seseorang diduga ODHA sampai terbukti akan disingkirkan dari tatanan masyarakat. Sehingga ODHA sendiri pasti akan menutup dirinya. Karena menutup diri itu penanganannya akan jadi terlambat. Ini disebabkan dari adanya sikap masyarakat yang cenderung, apa itu namanya…

Q: Menghakimi?

A: Nah iya. Masyarakat kita itu punya kecenderungan untuk menghakimi. Bertindak seperti hakim yang merasa paling benar.

Q: Oke bu. Nah tadi ibu bilang kalau ODHA cenderung menutup diri, kenapa bisa seperti itu ya?

A: Jadi begini, orang akan tahu bahwa dia punya HIV/AIDS pasti kan setelah periksa. Dia ke dokter karena ada gangguan kesehatan, eh ternyata positif HIV/AIDS. Tapi misal kemudian dia dinyatakan bahwa dirinya HIV/AIDS positif. Nah kalau orang mendapatkan berita semacam itu maka dia akan semakin shock, pasti akan menolak, dan makin tidak ingin orang lain tahu kan? Terlebih lagi kalau dia tahu pandangan masyarakat awam tentang ODHA.

Q: Pandangan masyarakat yang mendiskriminasi ODHA ya?

A: Ya. Seringkali kalau dia ketahuan malah akan disuruh pergi. Karena ada beberapa orang yang sangat anti terhadap hal tersebut. Sebetulnya bagi ODHA sangat dibutuhkan supportsystem. Bayangkan saja ini: kita nggak pernah tahu kapan kita akan kena HIV/AIDS. Bisa dibayangkan misal itu anakmu, kamu, saudaramu. Terus, kalau ODHA itu adalah orang terdekatmu, apakah kamu masih ingin mendiskriminasi?

Q: Betul, seringkali orang mengabaikan kemungkinan bahwa kita pun rawan HIV/AIDS ya?

A: Ya, jadi bayangkan kalau kamu orang tua, dan anakmu kena. Maka orang akan menuntut pada kamu. Apakah engkau akan bahagia dan bangga, atau akankah itu sangat memukul dirimu. Oleh karena itu penting adanya support system untuk mereka.

Q: Ibu bilang soal supportsystem, kira-kira bentuk seperti apa yang bisa kita bantu untuk ODHA?

A: Jadi sebenarnya menjadi penting untuk dibentuk kelompok-kelompok yang memang peduli akan hal itu, dan berani menentang orang yang memberi judgmentnegative:“Siapa kamu, Tuhan kah?” Kelompok ini harus dibangun, harus speakup: “If you find yourself like in same position, you can talk to me.” Memberi ruang bagi ODHA untuk bercerita dan berikan rasa aman.

Q: Jadi sebenarnya masih belum bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita cenderung membuat ODHA merasa tidak nyaman?

A: Betul, kebanyakan orang Indonesia itu munafik dan sok suci. Tapi itu mungkin juga bagian dari ketidak-beranian dirinya untuk melihat realitas bahwa dia dan saudaranya mungkin digolongkan dalam penyimpang itu. Semakin orang menolak biasanya semakin berkemungkinan dia punya hal-hal tersebut. Itu pada umumnya, tetapi saya yakin juga bahwa ada orang yang peduli terhadap ODHA. Jika kita bicara dalam kapasitas sebagai Universitas, sudah sewajarnya ada upaya yang sistematik ataupun inisiatif kecil yang mencoba untuk bersinggungan para ODHA supporter juga, diskusi terbuka yang rutin contohnya. Jadi harus ada perjuangan secara struktural dari pemerintah atau instansi untuk mendukung perjuangan yang kultural / normatif dari masyarakat.

Q: Kenapa kok instansi dan pemerintah harus terlibat?

A: Karena masyarakat kita ini cenderung paternalistik ya, maka akan menjadi penting jika pimpinan itu bersuara. Kalau pimpinan-pimpinan menyuarakan hal tersebut maka itu akan menjadi penguat untuk mereka yang memiliki keprihatinan di bidang tersebut. Dampaknya perjuangan kultural ini akan semakin diperkuat dan bisa merubah perspektif masyarakat. Apalagi kalau pemerintah dan instansi ada kebijakan khusus untuk mendiskreditkan perilaku yang mensupport stereotipe tersebut.

Q: Itu prosesnya akan lama lagi ya?

A: Sudah semakin cepat, karena di kancah internasional isu-isu ini semakin diperkuat. Pemeringkatan Universitas contohnya, salah satu indikatornya adalah GESI (Gender Equality and Social Inclusion). ODHA ini masuk dalam kategori Social Inclusion, yang berarti ODHA ini sering dipinggirkan oleh masyarakat (termarginalisasi). Kemarin saya barusan ikut forum kelompok studi yang diundang langsung oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Q: Oh itu forum apa bu?

A: Judul acaranya “Workshop Sinergitas Implementasi GESI dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi”. Jadi di workshop ini tim dari Kemenristekdikti, Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bersinergi dengan Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia (ASWGI). Intinya membahas bagaimana GESI ini nanti akan dirumuskan dan dimasukkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ini kan upaya nasional karena pemerintah terlibat, jadi mungkin dalam beberapa tahun kedepan akan muncul progres dalam bidang ini.

Q: Jadi perjuangan kita untuk membantu ODHA bisa melalui struktural dan kultural tadi ya?

A: Secara struktural sudah diinisiasi oleh pemerintah. Secara kultural kita perlu berkumpul bersama-sama, saling menguatkan karena mereka memang butuh butuh bantuan. Dan hal ini harus dilakukan sekarang, bukan triwulan depan, bukan tahun depan. Sesegera mungkin.

Q: Lalu pertanyaan terakhir bu. Menurut ibu, semisal kita punya seorang significant others(ortu, adik, kakak, sahabat) yang berstatus ODHA. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

A: Kalau saya sih, kita perlu menerima kenyataan bahwa dia adalah orang yang penting untuk kita. Menerima itu kan tidak harus menyatakan secara publik di medsos bahwa saya dukung ODHA, tetapi yang penting dia tahu bahwa kamu tidak menolak, itu penting. Support psikologis yang sangat bermakna. Setelah itu tentunya membantu mencari rujukan dan tidak sekedar menerima-menerima saja.

Nah itu adalah wawancara singkat antara tim Ubaya dengan bu Tiwi. Semoga melalui cuplikan ini kita mendapatkan beberapa pemahaman baru, salah satunya adalah bahwa ODHA perlu bantuan kita. Bantuan untuk menerima, dan tidak diberi diskriminasi negatif—karena ODHA juga bagian dari manusia, dan bagian dari masyarakat Indonesia. (sml)

Update: 04-12-2018 | Dibaca 51 kali | Download versi pdf: Bantu-ODHA--Perlu-Upaya-Struktural-Dan-Kultural.pdf