Rendahnya Minat Baca Di Indonesia


  • 03-05-2018

17 Mei, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Dilansir dari www.republika.co.id, Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando mengatakan berdasarkan studi "Most Literred Nation in the world 2016", minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat peningkatan kapasitas sumber daya manusia erat kaitannya dengan kemampuan literasi. Guna menggali lebih dalam mengapa tingkat minat baca di Indonesia masuk dalam taraf rendah, berikut wawancara singkat dengan Elieser Tarigan, S.Si., M.Eng., Ph.D. selaku Kepala Perpustakaan Universitas Surabaya.

Q : Bagaimana menurut bapak mengenai fenomena rendahnya minat baca di Indonesia?

A:Kita memang melihat realita bahwa minat baca masyarakat sangat rendah, dan tentunya kita prihatin, namun kita juga harus optimis kedepan kita harus lebih baik melalui usaha yang nyata terhadap peningkatan minat baca masyarakat.

Q: Apa sebetulnya alasan utama yang melatarbelakangi hal tersebut?

A:Banyak faktor tentunya yang melatarbelakangi rendahnya minat baca masyarakat kita, dan sudah banyak studi dan literatur yang mebahas tentang hal ini. Faktor yang mempengaruhi dapat dibagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan motivasi pribadi yang rendah (malas), dan tentunya hal ini terbangun dari budaya dan kebiasaan pribadi. Kalau ditilik kebelakang bisa jadi hal ini berkaitan dengan kondisi alam negara kita yang kaya yang tidak menuntut kita berjuang keras untuk survive. Sementara faktor eksternal berkaitan dengan faktor lingkungan, seperti kebiasaan di masyarakat dan tentunya juga ketersediaan bahan bacaan. Pada jaman ini faktor teknologi informasi juga sangat berpengaruh terhadap hal ini.

Q : Menurut bapak, bagaimana respon pemerintah melalui program kerjanya untuk menjawab fenomena rendahnya minat baca di Indonesia?

A:Banyak program yang dicanangkan pemerintah dalam usaha meningkatkan minat baca, baik melalui perpusnas (secara nasional) maupun program program yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Perhatian pemerintah khususnya terhadap dunia perpustakaan dan aktivitas literasi akhir-akhir ini cukup mengembirakan. Kalau di Surabaya, kota Surabaya dikenal sebagai salah satu kota literasi yang memiliki ribuan taman bacaan masyarakat (TBM) yang tersebar di kampung-kampung, sekolah-sekolah, taman kota, dan pondok pesantren. Namun yang penting adalah dukungan kita terhadap usaha pemerintah tersebut.

Q: Manfaat apa saja sih yang bisa didapat dari membaca buku?

A: Ada pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Jadi kalau kita mau maju dan bersaing dengan bangsa lain tidak bisa lepas mulai dari minat baca. Melalui membaca kita dapat mendapat pengetahuan dan memperluas wawasan, dan pada akhirnya mempengaruhi cara berfikir kita.

Q: Apakah ada perbedaan mendasar mengenai membaca buku cetak dengan buku online (e-book)yang marak beredar karena perkembangan internet?

A:Dari sisi si pembaca tentunya hanya masalah kebiasaan saja, kebanyakan masyarakat kita masih cenderung merasa lebih nyaman membaca buku dalam bentuk cetak, dan mestinya hal ini hanya masalah waktu dan kebiasaan saja. Yang menjadi pembeda adalah kecepatan akses dan ketersedian buku online jauh lebih baik dari pada buku cetak. Satu buah buku cetak hanya dapat diakses oleh satu pembaca dan di satu tempat tertentu. Beda dengan buku online, satu buku dapat diakses oleh ribuan orang pada waktu yang bersamaan dari tempat yang berbeda beda.

Q: Upaya apa yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat di Indonesia?

A:Untuk meningkatkan minat baca masyarakat tentunya semua pihak harus ikut terlibat termasuk lembaga pendidikan, pemerintah, perpustakaan, dan bahkan orang tua dan anggota keluarga dirumah. Masing-masing punya peran. Perpustakaan sendiri berperan dalam menyediakan koleksi bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan, dan tidak kalah penting perpustakaan harus mensosialisasikan apa yang dimiliki serta menyediakan fasilitas yang mendukung.

Q : Bagaimana pandangan dan upaya Bapak mengenai minat baca mahasiswa jika dilihat dari jumlah kunjungan ke Perpustakaan serta akses jurnal Ubaya?

A :Pada kondisi sekarang ini, jumlah kunjungan fisik ke perpustakaan tidak lagi dapat dijadikan acuan untuk menentukan minat mahasiswa dalam membaca koleksi perpustakaan, mengingat sebahagian besar koleksi perpustakaan ada dalam bentuk digital ( e-book, e-journal, skripsi online, dll) yang dapat diakses dari luar bangunan perpustakaan. Jika dilihat dari akses secara online akhir-akhir ini terdapat peningkatan yang signifikan terhadap penggunaan koleksi perpustakaan. Usaha yang mesti terus dilakukan oleh perpustakaan adalah menyediakan koleksi sesuai kebutuhan, menyediakan fasilitas yang baik dan nya, dan mensosialisikan apa-apa yang ada di perpustakaan. Dalam menyediakan koleksi, perpustutakaan terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk perpustakaan di institusi lain baik dalam maupun luar negeri.

Demikian hasil wawancara singkat tim redaksi dengan Elieser Tarigan, S.Si., M.Eng., Ph.D. Selamat Hari Buku Nasional !! Bersama kita tingkatkan minat baca guna memajukan Indonesia kita tercinta.

Update: 03-05-2018 | Dibaca 567 kali | Download versi pdf: Rendahnya-Minat-Baca-Di-Indonesia.pdf