World Cup 2010, Selebrasi Dan Pelajaran Nilai


  • 01-07-2010

Gemuruh selebrasi Piala Dunia terasa begitu kental tiap kali perhelatan akbar tiap empat tahun sekali tersebut terjadi. Seluruh dunia seakan terbawa pada suatu kegiatan yang sama, yaitu mendukung negara favorit masing-masing. Dengan diadakan di benua Afrika, rupanya hal tersebut memberi nuansa berbeda dibanding perhelatan sebelumnya.

Ir Benny Lianto S. MMBAT, Dekan Fakultas Teknik yang merupakan satu dari sekian banyak pecinta bola pun mengungkapkan hal senada. ”Diadakan di Afrika ini seakan memberi tantangan baru bagi para pesertanya,” tandas Benny. Pernyataan tersebut sangat beralasan bila menilik tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak didominasi negara-negara Eropa dan Amerika Latin. Secara pribadi, Benny sendiri berharap dengan tuan rumah yang baru, bisa tampil pula kejutan-kejutan baru dari negara yang kurang menonjol sebelumnya. ”Meski sayangnya, Asia Tenggara belum bisa berpartisipasi,” sesal pria ramah ini.

Layaknya penggila bola yang lain, pendukung tim Argentina ini menganggap bahwa Piala Dunia menjadi suatu kesempatan untuk menikmati permainan sepak bola yang lain dari biasanya. ”Bagi saya, akan lebih menarik melihat pertandingan tim yang dianggap underdog dengan tim unggulan,” ujar Benny. Meski sekilas terdengar aneh, namun ada esensi tersendiri melihat bagaimana tim yang lemah mengatur strategi sedemikian rupa agar bisa menahan bahkan mengalahkan tim unggulan.

Tiap pertandingan pun diharap bisa memberi hiburan sekaligus pembelajaran nilai yang bermanfaat bagi para penonton mau pun pemainnya. ”Sangat menarik mengamati kesiapan para pemain untuk kalah, bersikap sebagai pemenang, sportivitas, juga kepatuhan pemain pada wasit,” ungkap Benny bersemangat. Selanjutnya, nilai-nilai tersebut harus bisa diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan nyata.

Menanggapi isu bahwa Indonesia ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia, Benny merasa bahwa Indonesia jelas belum siap. Namun, gagasan tersebut bisa menjadi lecutan semangat bagi warga Indonesia untuk segera berbenah diri jika serius ingin menjadi tuan rumah. Banyak hal yang perlu diperbaiki, terutama mental penonton dan pemain. Mereka harus siap menganggung resiko kalah. Jangan sampai kekalahan membawa mereka pada emosi yang berujung tindakan anarkis. Jelas, tidak mungkin Indonesia mau mencoreng arang bagi harga dirinya di mata internasional. ”Yah, mari kita jadikan ajang ini sebagai selebrasi sekaligus momen untuk menyerap nilai yang baik,” tutupnya. (mei/wu)

Update: 01-07-2010 | Dibaca 4888 kali | Download versi pdf: World-Cup-2010--Selebrasi-Dan-Pelajaran-Nilai.pdf